Matahari
telah tenggelam beberapa jam yang lalu dan jalanan tampak lengang. Namun, pemuda ini masih berkeliaran menyusuri jalan menuju rumah. Angin
malam yang begitu menusuk tulang tak lagi dihiraukannya, hanya rumah yang ingin
dia tuju untuk melepas kantuk dan lelah.
Jam tangan pemuda itu menunjukkan
pukul 23.32 WIB ketika ia tiba di depan rumah mematikan mesin motornya. Saat
pintu telah dibuka, ada suaraperempuan yang begitu dikenal memanggilnya. Siapa
lagi kalau bukan ibu si pemuda.
“Dari
mana saja kau nak? Jam segini baru pulang.”, tanya ibu.
“Dari
kampus bu, baru selesai mengurus untuk bakti sosial. Maaf baru pulang.”,jawab
pemuda itu.
“Oalah,
ya sudah. Bergegaslah istirahat, ini sudah larut malam. Besok kamu kan ada
kuliah pagi.”, kata Ibu.
“Iya,
ibu lekas istirahat juga ya. Malam bu.”, sahut si pemuda.
Rohman,
itulah nama panggilan pemuda itu. Nama lengkapnya Beno Rohman Hidayat. Sudah
menjadi hal yang biasa jika pemuda itu baru sampai di rumah ketika langit malam
telah datang. Dia sedang melanjutkan studinya di sebuah universitas swasta di
kota Yogyakarta. Namun, jangan disangka hanya belajar saja kerjaannya, Rohman
merupakan seorang aktivis yang aktif di organisasi. Tak tanggung-tanggung, dia
adalah ketua Himpunan Mahasiswa untuk jurusan Pendidikan Kimia. Jarak antara
rumah dan kampus yang lumayan jauh, ditempuhnya dalam waktu sekitar 40 menit.
Hal ini tentu membuat ibunda Dewi, yaitu ibu dari Rohman menjadi begitu
khawatir.
⌂⌂⌂
Cerahnya
langit pagi menambah semangat pemuda ini untuk mengayuh sepeda motornya menuju
ke kampus. Hari ini hari Senin, seminggu lagi sudah memasuki minggu Ujian Akhir
Semester. Perpustakaan tampak lebih ramai dari biasanya. Usai Rohman memarkir
motornya di parkiran perpustakaan, ia segera menuju perpustakaan dan mencari
buku-buku yang dibutuhkannya.
“Sebentar
lagi UAS, dan aku harus bergegas menyiapkan diri dari sekarang.”, ucap Rohman
sendirian di balik rak buku-buku tebal di hadapannya.
Baru
sebentar dia asyik membaca buku yang telah didapatnya, tiba-tiba seseorang
menepuk pundaknya.
“Hai
Man, tumben ke perpustakaan.”, sapa Ratna teman sekelas Rohman.
“Oh,
iya. Aku lagi siap-siap untuk UAS, dari kemarin aku jarang ada waktu untuk
belajar. Jadi aku rasa ini waktu yang tepat, belum terlambat kan. Hehe.”, jawab
Rohman dengan santai.
“Oalah
gitu. Kamu udah denger kabar soal Nia gak? Dia lagi di rumah sakit sekarang.
Entar sore jengukin dia yuk.”, ajak Ratna.
“Iya
aku udah tau. Nanti sore memang rencana aku sama temen-temen pengurus hima mau
jengukin dia di rumah sakit. Kamu ikut rombongan kita aja sekalian.”, kata
Rohman sembari mengajak Ratna.
“Oke
deh, sip kalo begitu.”, sahut Ratna dengan penuh semangat.
⌂⌂⌂
Matahari yang sedari tadi telah lama
menyinari akhirnya mulai lelah dan turun perlahan hingga sore pun tiba. Rohman
beserta teman-teman dari pengurus Hima Kimia telah sampai di depan kamar
Anggrek nomor 7 Rumah Sakit Mitra Bangsa untuk menjenguk Nia.
“Assalamualaikum, selamat sore
pak.”, seru Rohman sembari mengetuk pintu kamar yang awalnya setengah terbuka.
“Waalaikumsalam.”, jawab Pak Anton,
ayahanda dari Nia dengan ramah mempersilahkan mereka untuk masuk.
Kondisi Nia cukup memprihatinkan.
Badannya terkulai lemas di tempat tidur. Sosok yang dikenal periang dan aktif
ini menjadi tampak tak berdaya. Masing-masing anak masuk ke dalam kamar
bergiliran karena dikhawatirkan jika terlalu banyak yang masuk ke dalam kamar
bisa memperburuk kondisi Nia.
“Nia, sakit apa ya pak?”,tanya Ratna,
salah satu sahabat dekat dari Nia.
“Menurut diagnosa dokter dia
menderita penyakit Guillain BarreSyndrome
yang menyerang saraf terutama tulang belakangnya.”, jelas Pak Anton.
Rohman dan Ratna yang masuk
berbarengan ke dalam kamar menyaksikan Nia dengan penuh iba. Awalnya mereka
berharap Nia paling tidak akan menyambut mereka dengan senyuman atau sebuah
sapaan ‘Hai’. Tapi, dugaan mereka salah. Untuk mengenali Ratna saja begitu
sulit bagi Nia.
Setelah semua pengurus Hima selesai
menjenguk dan menemui Nia, Rohman pun mendatangi Pak Anton sembari mengajak doa
bersama untuk kesembuhan Nia.
“Smoga Nia cepat sembuh ya Pak, kami
selaku teman-teman Nia pamit lebih dulu. Bapak yang sabar ya. “, kata Rohman
berpamitan kepada Pak Anton mewakili semua teman-temannya.
“Iya nak Rohman, terima kasih banyak
telah mau datang menengok anak saya Nia.”, jawab Pak Anton.
“Sama-sama Pak. Assalamu alaikum.”,
seru Rohman.
“Waalaikum salam.”, jawab Pak Anton.
Masing-masing anak pun kemudian
mengantre untuk bersalaman dengan Nia dan Pak Anton. Rohman pun berniat untuk
segera kembali ke rumah seusai menjenguk Nia. Setelah ia sampai di parkiran, ia
pun segera mengambil motornya dan yang lain saling melambaikan tangan, ingin
segera sampai di rumah pula.
⌂⌂⌂
Adzan maghrib berkumandang, tepat
Rohman sampai di rumah. Tidak selarut seperti malam-malam sebelumnya. Di rumah,
sudah ada kedua adiknya dan kedua orang tuanya menyambut Rohman dengan senyuman
yang begitu lebar.
“Assalamualaikum.”, salam Rohman.
“Waalaikumsalam.”, jawab ayah, ibu,
dan kedua adik Rohman secara bersamaan.
“Ada apa ini? Kok tiba-tiba semua
berkumpul di ruang tamu?”, tanya Rohman.
“Sini nak, ada sesuatu yang ingin
kami beritahukan.”, seru Ibu sambil tersenyum melihat anak kesayangannya itu.
Ayah Rohman, Pak Suratman,
mengeluarkan selembar kertas seperti sebuah tiket. Memang kertas itu adalah
sebuah tiket pesawat.
“Selesai kamu UAS, kita sekeluarga
akan liburan ke Bali bertepatan dengan perayaan Tahun Baru. Kita sekeluarga kan
sudah lama tidak liburan bersama atau sekedar berkumpul. Kamu sendiri kalau
pulang selalu larut malam. Bagaimana, bisa kamu agendakan rencana kita ke Bali
kan?”, jelas Pak Ratman kepada anak sulungnya itu.
“InsyaAllah bisa Pak”, jawab Rohman
dengan hati yang begitu senang sembari mengambil tiket pesawat itu dari
ayahnya. Kedua adiknya pun ikut menyambut anggukan kakaknya dengan penuh
gembira.
Rohman pun segera masuk ke dalam
kamarnya. Dia telah menjadwal semuanya. Dari persiapan untuk UAS yang telah dia
selipkan di antara begitu banyak kesibukannya sebagai ketua Hima Kimia yang
menuntutnya untuk bisa memanajemen waktu dengan baik agar hasilnya bisa
seimbang dan tidak berat sebelah antara organisasi dan kuliah. Waktu tidur pun dikurangi,
lebih banyak digunakan untuk belajar di tengah malam. Ibu Dewi pun senantiasa
memerhatikan kesehatannya anaknya agar tidak drop saat ujian nanti.
⌂⌂⌂
Minggu Ujian Akhir Semester pun
tiba. Hari Senin, ujian Kimia Analisis II harus dihadapi Rohman. Dia sudah
menyiapkan banyak materi untuk hari ini. Dia tak ingin mengecewakan kedua orang
tuanya. Meskipun dia adalah seorang aktivis, ia ingin membuktikan pada orang
tuanya bahwa itu tak akan mempengaruhi Indeks Prestasinya. Rohman adalah
seorang pekerja keras dan dikenal dewasa, pandai, dan bijaksana di mata
teman-temannya. Sebagai ketua Hima, ia begitu disegani oleh banyak orang atas
kesederhanaannya. Namun, itu semua tak membuat ia lupa lantas menyombongkan
dirinya.
“Selamat pagi, semua. Ujian hari ini
Kimia Analisis II. Persiapkan semua alat tulis yang diperlukan dan tas disimpan
dalam loker.”, sahut Bu Natalia dosen pengawas ujian di ruang kelas Rohman.
“Iya bu.”, serentak anak-anak
menjawab dengan lantang layaknya mereka masih anak SD.
Rohman pun menyelesaikan satu per
satu soal di lembar kertas di hadapannya. Tak sia-sia perjuangannya untuk
belajar selama beberapa hari terakhir ini.
“Tak
sesulit yang aku bayangkan. Aku pasti bisa.”, batin Rohman.
Pengerjaan
soal hanya diberikan waktu selama 120 menit. Namun, Rohman bisa menyelesaikan
semua soal-soal itu hanya dalam waktu 75 menit. Selesai mengerjakan tes, ia pun
keluar lebih dulu. Baginya waktu begitu berharga. Ia berniat untuk pergi ke
sebuah LSM untuk menyelesaikan urusan bakti sosial dari Hima.
Jadwal
yang padat tak membuatnya lupa untuk belajar. Hari demi hari dalam minggu Ujian
Akhir Semester dilaluinya dengan penuh jerih payah. Pulang magrib menuju rumah
menempuh puluhan kilometer tak lantas membuatnya mengeluh dan malas untuk
belajar. Kedua orang tuanya adalah motivasi terbesar baginya.
⌂⌂⌂
Hari
terakhir UAS telah dilaluinya dengan sukses. Hanya tinggal menanti hasil akhir
yang optimis bisa tetap memuaskan hati kedua orang tuanya. Berakhirnya UAS
menandakan bahwa liburan akan segera dimulai. Minggu sore Rohman beserta
keluarga mulai berkemas untuk pergi berlibur.
“Jangan
sampai ada yang ketinggalan ya man.”, ucap Ibu sambil membantu Rohman
menyiapkan baju-bajunya dalam koper.
“Iya
bu, kita di sana mau berapa hari?”, tanya Rohman.
“Ya
sekitar seminggu-an. Nanti kita take off
jam 21.00 WIB.”, ucap Ibu.
“Oke
bu, siap.”, jawab Rohman singkat.
Pukul
19.00 WIB Rohman, ayah, ibu, dan kedua adiknya telah siap menuju mobil untuk
segera bergegas ke bandara. Ponsel milik Rohman tiba-tiba berdering, ada
telepon masuk dari Ratna. Tak biasanya Ratna menelponnya malam-malam begini.
“Halo,
ada apa Na?,” tanya Rohman.
“Man,
Nia.. Nia gak ada.”, jawab Ratna dengan terisak sehingga suaranya nyaris tak
terdengar.
“Gak
ada gimana?”, seru Rohman panik.
“Nia
gak ada. Nia meninggal. Kamu ke sini sekarang ya.”, tangis Ratna.
“Innalilahi
wa inna ilaihi rojiun. Iya aku segera ke sana.”, sontak Rohman bergegas bersiap
mengendarai motornya.
“Bu,
pak. Maaf aku gak bisa berangkat sekarang ke Bali. Ada salah satu teman yang
meninggal dan aku harus ke sana malam ini. Maaf juga Dhan, Rio kakak gak bisa
ikut kalian. Kalau sempat nanti Rohman akan menyusul ke Bali pak, Bu.”, kata
Rohman mengharap pengertian dari mereka.
Sejenak
mereka diam kaget mendengar pernyataan dari Rohman. Namun, tak lama kemudian
Pak Ratman pun angkat bicara.
“Baiklah
nak. Itu adalah tanggung jawabmu, Datanglah ke rumah sakit. Kalau sudah ada
waktu kamu bisa menyusul kami.”, kata Pak Suratman.
“Ya
Allah nak. Berangkatlah. Mungkin kami kecewa tidak bisa berangkat bersama-sama
denganmu. Tapi kami bangga denganmu. Berikanlah penghormatan terakhir untuknya.
Hati-hati ya nak.”, tambah bu Dewi menenangkan hati Rohman.
“Terima
kasih pak, bu. Hati-hati di perjalanan nanti.”, kata Rohman sambil menyalami
kedua tangan orang tuanya dan mengusap lembut kepala kedua adiknya.
Rohman
pun mengendarai motornya diselimuti dinginnya malam. Jujur memang terselip rasa
kecewa dan sedih dalam hatinya karena tidak bisa berangkat bersama dengan
keluarganya. Tapi dia akan merasa amat bersalah bila bersenang-senang saat temannya
sedang berduka. Bagaimanapun juga Rohman merasa itu adalah tanggung jawabnya
sebagai teman sekaligus ketua Hima yang wajib mengayomi para anggotanya.
“Aku
harus mengesampingkan kepentingan pribadi. Lagipula, aku masih bisa ke Bali
besok-besok, sedangkan tak kan ada kesempatan kedua untuk memberikan
penghormatan terakhir untuk Nia. Maafkan aku pak, bu.”, batin Rohman.
⌂⌂⌂
Di lorong rumah sakit, sudah banyak
teman-temannya yang datang. Isak tangis terdengar begitu nyata dan jelas di
telinga. Almarhumah Nia akan segera dibawa pulang ke rumahnya di Magelang.
Beberapa teman sekelas dan pengurus nampak ikut mendampingi, tak ketinggalan
pula Rohman.
Sampai di rumah almarhumah, suasana
begitu mengharukan. Mereka bersiap untuk tahlilan dan berdoa untuk kepergian
Nia. Usai doa bersama sekitar pukul 23.00 WIB, Rohman pun menelpon ibunya.
“Bu, sudah sampai di Bali?”, tanya
Rohman.
“Alhamdulillah nak. Kami sekeluarga
sudah sampai. Kamu hati-hati di sana. Jangan khawatirkan kami. Meskipun kamu
tak di sini, tapi percayalah kami bangga padamu nak.”, kata Ibu berusaha untuk
menenangkan Rohman.
“Iya bu, terima kasih banyak.
Mungkin baru sekitar lusa Rohman menyusul ke Bali. Ya sudah ya bu.
Assalamualaikum.”, kata Rohman yang mulai tenang. Semua ini terasa begitu
mengejutkan baginya.
“Waalaikumsalam.”, jawab Ibu dari
seberang telepon.
⌂⌂⌂
Keesokan harinya semua orang telah
bersiap, pemakaman almarhumah Nia akan segera dilaksanakan. Begitu banyak
sahabat-sahabat Nia yang hadir dan memberikan penghormatan terakhir. Rohman
selaku ketua Hima Kimia turut memberikan doa untuk Nia yaitu sebagai staff
pengurus Hima di Departemen Seni dan Olahraga. Selepas pemakaman berakhir, ia
bersama teman-temannya akan kembali ke Yogyakarta.
“Ratna, besok aku mau pergi ke Bali.
Sebenarnya waktu kamu menelpon malam itu, aku dan keluarga hendak ke bandara.
Aku titip teman-teman dulu ya.”, kata Rohman tiba-tiba pada Ratna.
“Hah… Jadi, kemarin kamu sebenarnya
mau pergi ke Bali? Maaf ya gara-gara aku, kamu jadi batal pergi bersama
keluarga.”, jawab Ratna tak percaya mendengar pengakuan Rohman.
“Tak apa Na. Justru aku sangat berterima
kasih karena kamu telah memberitahuku tepat waktu, sebelum aku sampai di sana.
Nia adalah seorang sahabat dan staff yang baik. Aku akan merasa sangat bersalah
jika tidak hadir saat itu.”
“Baiklah kalo begitu. Kamu hati-hati
ya. Salam buat keluarga nanti.”, sahut Ratna.
“Sip, makasih banyak ya. Aku pulang
dulu. Assalamualaikum.” pamit Rohman.
“Waalaikumsalam.”, Rahma menjawab
salam Rohman.
⌂⌂⌂
Langit tak pernah ingkar janji. Saat
malam telah pergi, pagi pun datang menghampiri. Tak pernah lupa dan selalu
menepati. Pagi ini Rohman bersiap untuk menyusul keluarganya ke Bali. Tiket
pesawat telah berada dalam genggaman. Ia tak ingin mengecewakan kedua orang
tuanya. Meskipun hatinya masih terluka dan lelah masih melekat, ia pun tetap
berangkat.
Dialah Rohman, sosok pemuda yang tak
kenal lelah. Seorang yang bijaksana, mampu membagi waktu dengan baik untuk
urusan kuliah, organisasi, dan keluarganya. Kepentingan pribadi selalu
dikesampingkannya. Bermanfaat bagi banyak orang adalah cita-citanya. Sesibuk
apapun waktu yang ia miliki, ia selalu luangkan untuk sahabat dan keluarga.
Meskipun ia seorang ketua Hima, bukan berarti kuliah menjadi nomor dua.
Walaupun jadwal dan keadaan nampak menjadi beban, keluarga tak akan terabaikan.
Potret pemuda masa kini yang patut dijadikan teladan untuk mengubah masa depan
menjadi lebih cemerlang.
Erika Rahmawati, Kimia UNY








0 comments:
Posting Komentar