Jumat, 19 Desember 2014

Sejuta Asa (Top 15)

Matahari telah tenggelam beberapa jam yang lalu dan jalanan tampak lengang. Namun, pemuda ini masih berkeliaran menyusuri jalan menuju rumah. Angin malam yang begitu menusuk tulang tak lagi dihiraukannya, hanya rumah yang ingin dia tuju untuk melepas kantuk dan lelah.
            Jam tangan pemuda itu menunjukkan pukul 23.32 WIB ketika ia tiba di depan rumah mematikan mesin motornya. Saat pintu telah dibuka, ada suaraperempuan yang begitu dikenal memanggilnya. Siapa lagi kalau bukan ibu si pemuda.
“Dari mana saja kau nak? Jam segini baru pulang.”, tanya ibu.
“Dari kampus bu, baru selesai mengurus untuk bakti sosial. Maaf baru pulang.”,jawab pemuda itu.
“Oalah, ya sudah. Bergegaslah istirahat, ini sudah larut malam. Besok kamu kan ada kuliah pagi.”, kata Ibu.
“Iya, ibu lekas istirahat juga ya. Malam bu.”, sahut si pemuda.
Rohman, itulah nama panggilan pemuda itu. Nama lengkapnya Beno Rohman Hidayat. Sudah menjadi hal yang biasa jika pemuda itu baru sampai di rumah ketika langit malam telah datang. Dia sedang melanjutkan studinya di sebuah universitas swasta di kota Yogyakarta. Namun, jangan disangka hanya belajar saja kerjaannya, Rohman merupakan seorang aktivis yang aktif di organisasi. Tak tanggung-tanggung, dia adalah ketua Himpunan Mahasiswa untuk jurusan Pendidikan Kimia. Jarak antara rumah dan kampus yang lumayan jauh, ditempuhnya dalam waktu sekitar 40 menit. Hal ini tentu membuat ibunda Dewi, yaitu ibu dari Rohman menjadi begitu khawatir.
⌂⌂⌂
Cerahnya langit pagi menambah semangat pemuda ini untuk mengayuh sepeda motornya menuju ke kampus. Hari ini hari Senin, seminggu lagi sudah memasuki minggu Ujian Akhir Semester. Perpustakaan tampak lebih ramai dari biasanya. Usai Rohman memarkir motornya di parkiran perpustakaan, ia segera menuju perpustakaan dan mencari buku-buku yang dibutuhkannya.
“Sebentar lagi UAS, dan aku harus bergegas menyiapkan diri dari sekarang.”, ucap Rohman sendirian di balik rak buku-buku tebal di hadapannya.
Baru sebentar dia asyik membaca buku yang telah didapatnya, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.
“Hai Man, tumben ke perpustakaan.”, sapa Ratna teman sekelas Rohman.
“Oh, iya. Aku lagi siap-siap untuk UAS, dari kemarin aku jarang ada waktu untuk belajar. Jadi aku rasa ini waktu yang tepat, belum terlambat kan. Hehe.”, jawab Rohman dengan santai.
“Oalah gitu. Kamu udah denger kabar soal Nia gak? Dia lagi di rumah sakit sekarang. Entar sore jengukin dia yuk.”, ajak Ratna.
“Iya aku udah tau. Nanti sore memang rencana aku sama temen-temen pengurus hima mau jengukin dia di rumah sakit. Kamu ikut rombongan kita aja sekalian.”, kata Rohman sembari mengajak Ratna.
“Oke deh, sip kalo begitu.”, sahut Ratna dengan penuh semangat.
⌂⌂⌂
            Matahari yang sedari tadi telah lama menyinari akhirnya mulai lelah dan turun perlahan hingga sore pun tiba. Rohman beserta teman-teman dari pengurus Hima Kimia telah sampai di depan kamar Anggrek nomor 7 Rumah Sakit Mitra Bangsa untuk menjenguk Nia.
            “Assalamualaikum, selamat sore pak.”, seru Rohman sembari mengetuk pintu kamar yang awalnya setengah terbuka.
            “Waalaikumsalam.”, jawab Pak Anton, ayahanda dari Nia dengan ramah mempersilahkan mereka untuk masuk.
            Kondisi Nia cukup memprihatinkan. Badannya terkulai lemas di tempat tidur. Sosok yang dikenal periang dan aktif ini menjadi tampak tak berdaya. Masing-masing anak masuk ke dalam kamar bergiliran karena dikhawatirkan jika terlalu banyak yang masuk ke dalam kamar bisa memperburuk kondisi Nia.
            “Nia, sakit apa ya pak?”,tanya Ratna, salah satu sahabat dekat dari Nia.
            “Menurut diagnosa dokter dia menderita penyakit Guillain BarreSyndrome yang menyerang saraf terutama tulang belakangnya.”, jelas Pak Anton.
            Rohman dan Ratna yang masuk berbarengan ke dalam kamar menyaksikan Nia dengan penuh iba. Awalnya mereka berharap Nia paling tidak akan menyambut mereka dengan senyuman atau sebuah sapaan ‘Hai’. Tapi, dugaan mereka salah. Untuk mengenali Ratna saja begitu sulit bagi Nia.
            Setelah semua pengurus Hima selesai menjenguk dan menemui Nia, Rohman pun mendatangi Pak Anton sembari mengajak doa bersama untuk kesembuhan Nia.
            “Smoga Nia cepat sembuh ya Pak, kami selaku teman-teman Nia pamit lebih dulu. Bapak yang sabar ya. “, kata Rohman berpamitan kepada Pak Anton mewakili semua teman-temannya.
            “Iya nak Rohman, terima kasih banyak telah mau datang menengok anak saya Nia.”, jawab Pak Anton.
            “Sama-sama Pak. Assalamu alaikum.”, seru Rohman.
            “Waalaikum salam.”, jawab Pak Anton.
            Masing-masing anak pun kemudian mengantre untuk bersalaman dengan Nia dan Pak Anton. Rohman pun berniat untuk segera kembali ke rumah seusai menjenguk Nia. Setelah ia sampai di parkiran, ia pun segera mengambil motornya dan yang lain saling melambaikan tangan, ingin segera sampai di rumah pula.
⌂⌂⌂
            Adzan maghrib berkumandang, tepat Rohman sampai di rumah. Tidak selarut seperti malam-malam sebelumnya. Di rumah, sudah ada kedua adiknya dan kedua orang tuanya menyambut Rohman dengan senyuman yang begitu lebar.
            “Assalamualaikum.”, salam Rohman.
            “Waalaikumsalam.”, jawab ayah, ibu, dan kedua adik Rohman secara bersamaan.
            “Ada apa ini? Kok tiba-tiba semua berkumpul di ruang tamu?”, tanya Rohman.
            “Sini nak, ada sesuatu yang ingin kami beritahukan.”, seru Ibu sambil tersenyum melihat anak kesayangannya itu.
            Ayah Rohman, Pak Suratman, mengeluarkan selembar kertas seperti sebuah tiket. Memang kertas itu adalah sebuah tiket pesawat.
            “Selesai kamu UAS, kita sekeluarga akan liburan ke Bali bertepatan dengan perayaan Tahun Baru. Kita sekeluarga kan sudah lama tidak liburan bersama atau sekedar berkumpul. Kamu sendiri kalau pulang selalu larut malam. Bagaimana, bisa kamu agendakan rencana kita ke Bali kan?”, jelas Pak Ratman kepada anak sulungnya itu.
            “InsyaAllah bisa Pak”, jawab Rohman dengan hati yang begitu senang sembari mengambil tiket pesawat itu dari ayahnya. Kedua adiknya pun ikut menyambut anggukan kakaknya dengan penuh gembira.
            Rohman pun segera masuk ke dalam kamarnya. Dia telah menjadwal semuanya. Dari persiapan untuk UAS yang telah dia selipkan di antara begitu banyak kesibukannya sebagai ketua Hima Kimia yang menuntutnya untuk bisa memanajemen waktu dengan baik agar hasilnya bisa seimbang dan tidak berat sebelah antara organisasi dan kuliah. Waktu tidur pun dikurangi, lebih banyak digunakan untuk belajar di tengah malam. Ibu Dewi pun senantiasa memerhatikan kesehatannya anaknya agar tidak drop saat ujian nanti.
⌂⌂⌂
            Minggu Ujian Akhir Semester pun tiba. Hari Senin, ujian Kimia Analisis II harus dihadapi Rohman. Dia sudah menyiapkan banyak materi untuk hari ini. Dia tak ingin mengecewakan kedua orang tuanya. Meskipun dia adalah seorang aktivis, ia ingin membuktikan pada orang tuanya bahwa itu tak akan mempengaruhi Indeks Prestasinya. Rohman adalah seorang pekerja keras dan dikenal dewasa, pandai, dan bijaksana di mata teman-temannya. Sebagai ketua Hima, ia begitu disegani oleh banyak orang atas kesederhanaannya. Namun, itu semua tak membuat ia lupa lantas menyombongkan dirinya.
            “Selamat pagi, semua. Ujian hari ini Kimia Analisis II. Persiapkan semua alat tulis yang diperlukan dan tas disimpan dalam loker.”, sahut Bu Natalia dosen pengawas ujian di ruang kelas Rohman.
            “Iya bu.”, serentak anak-anak menjawab dengan lantang layaknya mereka masih anak SD.
            Rohman pun menyelesaikan satu per satu soal di lembar kertas di hadapannya. Tak sia-sia perjuangannya untuk belajar selama beberapa hari terakhir ini.
“Tak sesulit yang aku bayangkan. Aku pasti bisa.”, batin Rohman.
Pengerjaan soal hanya diberikan waktu selama 120 menit. Namun, Rohman bisa menyelesaikan semua soal-soal itu hanya dalam waktu 75 menit. Selesai mengerjakan tes, ia pun keluar lebih dulu. Baginya waktu begitu berharga. Ia berniat untuk pergi ke sebuah LSM untuk menyelesaikan urusan bakti sosial dari Hima.
Jadwal yang padat tak membuatnya lupa untuk belajar. Hari demi hari dalam minggu Ujian Akhir Semester dilaluinya dengan penuh jerih payah. Pulang magrib menuju rumah menempuh puluhan kilometer tak lantas membuatnya mengeluh dan malas untuk belajar. Kedua orang tuanya adalah motivasi terbesar baginya.
⌂⌂⌂
Hari terakhir UAS telah dilaluinya dengan sukses. Hanya tinggal menanti hasil akhir yang optimis bisa tetap memuaskan hati kedua orang tuanya. Berakhirnya UAS menandakan bahwa liburan akan segera dimulai. Minggu sore Rohman beserta keluarga mulai berkemas untuk pergi berlibur.
“Jangan sampai ada yang ketinggalan ya man.”, ucap Ibu sambil membantu Rohman menyiapkan baju-bajunya dalam koper.
“Iya bu, kita di sana mau berapa hari?”, tanya Rohman.
“Ya sekitar seminggu-an. Nanti kita take off jam 21.00 WIB.”, ucap Ibu.
“Oke bu, siap.”, jawab Rohman singkat.
Pukul 19.00 WIB Rohman, ayah, ibu, dan kedua adiknya telah siap menuju mobil untuk segera bergegas ke bandara. Ponsel milik Rohman tiba-tiba berdering, ada telepon masuk dari Ratna. Tak biasanya Ratna menelponnya malam-malam begini.
“Halo, ada apa Na?,” tanya Rohman.
“Man, Nia.. Nia gak ada.”, jawab Ratna dengan terisak sehingga suaranya nyaris tak terdengar.
“Gak ada gimana?”, seru Rohman panik.
“Nia gak ada. Nia meninggal. Kamu ke sini sekarang ya.”, tangis Ratna.
“Innalilahi wa inna ilaihi rojiun. Iya aku segera ke sana.”, sontak Rohman bergegas bersiap mengendarai motornya.
“Bu, pak. Maaf aku gak bisa berangkat sekarang ke Bali. Ada salah satu teman yang meninggal dan aku harus ke sana malam ini. Maaf juga Dhan, Rio kakak gak bisa ikut kalian. Kalau sempat nanti Rohman akan menyusul ke Bali pak, Bu.”, kata Rohman mengharap pengertian dari mereka.
Sejenak mereka diam kaget mendengar pernyataan dari Rohman. Namun, tak lama kemudian Pak Ratman pun angkat bicara.
“Baiklah nak. Itu adalah tanggung jawabmu, Datanglah ke rumah sakit. Kalau sudah ada waktu kamu bisa menyusul kami.”, kata Pak Suratman.
“Ya Allah nak. Berangkatlah. Mungkin kami kecewa tidak bisa berangkat bersama-sama denganmu. Tapi kami bangga denganmu. Berikanlah penghormatan terakhir untuknya. Hati-hati ya nak.”, tambah bu Dewi menenangkan hati Rohman.
“Terima kasih pak, bu. Hati-hati di perjalanan nanti.”, kata Rohman sambil menyalami kedua tangan orang tuanya dan mengusap lembut kepala kedua adiknya.
Rohman pun mengendarai motornya diselimuti dinginnya malam. Jujur memang terselip rasa kecewa dan sedih dalam hatinya karena tidak bisa berangkat bersama dengan keluarganya. Tapi dia akan merasa amat bersalah bila bersenang-senang saat temannya sedang berduka. Bagaimanapun juga Rohman merasa itu adalah tanggung jawabnya sebagai teman sekaligus ketua Hima yang wajib mengayomi para anggotanya.
“Aku harus mengesampingkan kepentingan pribadi. Lagipula, aku masih bisa ke Bali besok-besok, sedangkan tak kan ada kesempatan kedua untuk memberikan penghormatan terakhir untuk Nia. Maafkan aku pak, bu.”, batin Rohman.
⌂⌂⌂
            Di lorong rumah sakit, sudah banyak teman-temannya yang datang. Isak tangis terdengar begitu nyata dan jelas di telinga. Almarhumah Nia akan segera dibawa pulang ke rumahnya di Magelang. Beberapa teman sekelas dan pengurus nampak ikut mendampingi, tak ketinggalan pula Rohman.
            Sampai di rumah almarhumah, suasana begitu mengharukan. Mereka bersiap untuk tahlilan dan berdoa untuk kepergian Nia. Usai doa bersama sekitar pukul 23.00 WIB, Rohman pun menelpon ibunya.
            “Bu, sudah sampai di Bali?”, tanya Rohman.
            “Alhamdulillah nak. Kami sekeluarga sudah sampai. Kamu hati-hati di sana. Jangan khawatirkan kami. Meskipun kamu tak di sini, tapi percayalah kami bangga padamu nak.”, kata Ibu berusaha untuk menenangkan Rohman.
            “Iya bu, terima kasih banyak. Mungkin baru sekitar lusa Rohman menyusul ke Bali. Ya sudah ya bu. Assalamualaikum.”, kata Rohman yang mulai tenang. Semua ini terasa begitu mengejutkan baginya.
            “Waalaikumsalam.”, jawab Ibu dari seberang telepon.
⌂⌂⌂
            Keesokan harinya semua orang telah bersiap, pemakaman almarhumah Nia akan segera dilaksanakan. Begitu banyak sahabat-sahabat Nia yang hadir dan memberikan penghormatan terakhir. Rohman selaku ketua Hima Kimia turut memberikan doa untuk Nia yaitu sebagai staff pengurus Hima di Departemen Seni dan Olahraga. Selepas pemakaman berakhir, ia bersama teman-temannya akan kembali ke Yogyakarta.
            “Ratna, besok aku mau pergi ke Bali. Sebenarnya waktu kamu menelpon malam itu, aku dan keluarga hendak ke bandara. Aku titip teman-teman dulu ya.”, kata Rohman tiba-tiba pada Ratna.
            “Hah… Jadi, kemarin kamu sebenarnya mau pergi ke Bali? Maaf ya gara-gara aku, kamu jadi batal pergi bersama keluarga.”, jawab Ratna tak percaya mendengar pengakuan Rohman.
            “Tak apa Na. Justru aku sangat berterima kasih karena kamu telah memberitahuku tepat waktu, sebelum aku sampai di sana. Nia adalah seorang sahabat dan staff yang baik. Aku akan merasa sangat bersalah jika tidak hadir saat itu.”
            “Baiklah kalo begitu. Kamu hati-hati ya. Salam buat keluarga nanti.”, sahut Ratna.
            “Sip, makasih banyak ya. Aku pulang dulu. Assalamualaikum.” pamit Rohman.
            “Waalaikumsalam.”, Rahma menjawab salam Rohman.
⌂⌂⌂
            Langit tak pernah ingkar janji. Saat malam telah pergi, pagi pun datang menghampiri. Tak pernah lupa dan selalu menepati. Pagi ini Rohman bersiap untuk menyusul keluarganya ke Bali. Tiket pesawat telah berada dalam genggaman. Ia tak ingin mengecewakan kedua orang tuanya. Meskipun hatinya masih terluka dan lelah masih melekat, ia pun tetap berangkat.

            Dialah Rohman, sosok pemuda yang tak kenal lelah. Seorang yang bijaksana, mampu membagi waktu dengan baik untuk urusan kuliah, organisasi, dan keluarganya. Kepentingan pribadi selalu dikesampingkannya. Bermanfaat bagi banyak orang adalah cita-citanya. Sesibuk apapun waktu yang ia miliki, ia selalu luangkan untuk sahabat dan keluarga. Meskipun ia seorang ketua Hima, bukan berarti kuliah menjadi nomor dua. Walaupun jadwal dan keadaan nampak menjadi beban, keluarga tak akan terabaikan. Potret pemuda masa kini yang patut dijadikan teladan untuk mengubah masa depan menjadi lebih cemerlang.

Erika Rahmawati, Kimia UNY

0 comments:

Posting Komentar