Seoul, Korea Selatan
Olive melemparkan pandangannya
keluar jendela mobil memandangi jalanan Korea Selatan. Siang itu jalanan di
kota Seoul tampak ramai. Udara di Seoul siang ini terasa hangat. Langit di atas
kota Seoul pun tampak cerah.
Olive melepas headphone
yang sedari tadi menutupi telinganya dan mengalungkannya di leher. Sebentar
lagi ia akan segera sampai di Bandara Incheon. Tak lama setelahnya taksi yang
ia tumpangi pun memasuki area bandara. Setelah membayar sejumlah uang kepada
sopir taksi, ia pun segera turun.
Olive segera menuju lobi keberangkatan luar negeri untuk
segera check in. Sebentar lagi
pesawat yang akan membawanya kembali ke tanah airnya akan segera berangkat jadi
ia tidak ingin membuang-buang waktu agar tidak ketinggalan pesawat.
Olive memang sedang terburu-buru, namun dalam keadaan
seperti inipun ia masih tetap bisa mengagumi indahnya Bandara Incheon. Sudah
beberapa kali ia berada di bandara ini namun sampai sekarang ia masih tetap
terkagum-kagum dengan bandara kebanggaan Korea itu. Kemegahan bandara yang
pernah menjadi bandara terbaik di dunia itu memang tak dapat dipungkiri. Siapa
pun pasti setuju kalau arsitektur bandara itu memang pantas diacungi jempol.
Tak berbeda seperti jalanan di Seoul, Bandara Incheon pun
siang ini terlihat sibuk. Olive menarikkopernya diantara orang-orang yang
berlalu lalang. Setelah selesai check in,
akhirnya kini Olive sudah berada di dalam pesawat. Pesawatpun mulai lepas
landas. Membutuhkan 7 jam untuk sampai di Jakarta, dan Olive memilih untuk
tidur.
###
Jakarta, Indonesia
Olive membuka pintu kamar dengan satu sentakan. Ia
merindukan kamarnya. Rasanya sudah lama sekali ia tidak melihat kamarnya sejak
ia tinggal di Korea. Ia merindukan suasana kamarnya.
Ini adalah kepulangan pertamanya sejak ia kuliah di Korea
tiga tahun terakhir ini. Dulu, alasan ia memutuskan untuk kuliah di Korea
adalah karena ia ingin melupakan kenangannya di Indonesia. Ia berharap ia bisa
melupakan seseorang jika ia pergi jauh, namun kenyataannya, alih-alih dapat
melupakan orang itu, Olive justru semakin merindukan orang itu selama di Korea.
Olive memandang sekeliling. Suasana kamarnya masih sama
seperti waktu ia pergi dulu. Kemudian ia meletakkan tas dan kopernya di lantai
lalu merebahkan badannya di tempat tidur. Masih nyaman seperti dulu, pikirnya.
Setelah itu ia bangun dan beranjak duduk di kursi belajarnya. Ia rindu
saat-saat ia masih sekolah. Setiap malam ia selalu duduk di kursi itu.
menghabiskan waktu berjam-jam duduk di kursi itu. Entah untuk belajar atau
hanya sekedar memandang pemandangan sekitar lewat jendela yang tepat berada di
samping kursi belajarnya.
Olive senyum-senyum sendiri mengingat masa-masa itu.
Perlahan senyumnya memudar saat matanya menangkap laci meja yang berada di
sampingnya. Olive pun membuka laci itu. ia menemukan buku diarynya sewaktu SMA
dulu. Ia mengambil diary ungunya dan membuka lembarannya.
Olive mulai membaca kembali curahan hati yang ia tulis
sewaktu SMA dulu. Olive jadi semakin teringat dengan orang yang ia tulis dalam
buku diarynya. Orang itu. laki-laki itu. Dia adalah orang yang mengisi
berlembar-lembar buku diary Olive. Dia adalah tokoh utama yang ditulis Olive di
buku diarynya.
Kejadian apapun yang berhubungan dengan laki-laki itu selalu
ia tulis dalam buku diarynya. Ia tidak pernah melewatkan satu kejadian pun.
Setiap detail kejadian yang berhubungan dengan laki-laki itu terasa sayang bagi
Olive untuk dilewatkan.
Ingatan Olive terbang ke akhir masa-masa SMA. Masa-masa yang
singkat namun menyimpan banyak kenangan baginya.
Akhir masa SMA itu adalah saat dimana dia bertemu dengan
laki-laki itu. Laki-laki yang telah mencuri hati Olive tanpa permisi. Laki-laki
itu, Daniel.
Pada awalnya Olive pernah menyangka bahwa Daniel juga
menyukainya karena Daniel seolah-olah memancarkan sinyal bahwa dia menyukai
Olive. Daniel sangat perhatian pada Olive. Olive juga kerap menangkap basah
Daniel sedang menatap kearahnya saat ia hendak memandang kearah laki-laki itu.
Dan Olive pun sering mendengar Daniel dan teman-temannya sering menyebut
namanya saat mereka berbincang-bincang.
Namun sepertinya apa yang Olive perkirakan salah. Daniel
tidak menyukai Olive. Daniel tidak pernah menyatakan perasaannya pada Olive.
Bahkan sampai akhir mereka lulus SMA, Daniel juga tidak menyatakan perasaannya
pada Olive.
Olive memutuskan untuk melupakan Daniel. Olive memilih untuk
menghindar dari laki-laki itu. Karena ia tidak mau jika ia tetap melihat
laki-laki itu akan semakin sulit bagi Olive untuk melupakannya. Dan itulah
alasan mengapa akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke Korea. Karena ia ingin
melupakan laki-laki itu. Ia ingin melupakan Daniel.
“Olive, Kamu sudah yakin dengan keputusanmu untuk ke Korea?”
Tanya Bella pada Olive saat mendengar keputusan sahabatnya yang terkesan
mendadak itu.
“Tidak ada alasan lagi untuk tidak pergi, Bel. Aku butuh
suasana yang baru.”
Bella kamudian memeluk Olive untuk memberikan kekuatan pada
sahabatnya tersebut. Bella tidak menyangka Olive akan mengambil keputusan
secepat itu.
“Apakah Kamu akan memberitahu Daniel kalau Kamu akan kuliah
di Korea?”
Olive menggeleng. “Hanya Kamu dan keluargaku yang tahu.”
Sekali lagi Bella memeluk Olive.
“Mungkin aku harus menyayanginya dengan cara yang lain,
bukan dengan memilikinya,” ucap Olive, lebih untuk menghibur dirinya sendiri.
Ketika sedang tenggelam dalam angan-angan tentang masa
lalunya, tiba-tiba handphone Olive
bordering menandakan ada panggilan masuk.
“Halo Bel, ada apa?”
“Aku dengar Kamu pulang dari Korea?” jawab suara di seberang
telepon.
“Oh, iya. Aku baru saja sampai di rumah.”
“Kalau begitu besok kalau ada waktu kita ketemu ya. Ada yang
akan aku bicarakan denganmu.”
“Baiklah. Nanti Kamu smskan tempat dan jamnya. “
###
Sudah empat hari Olive berada di Jakarta. Hari ini Olive
memilih untuk tinggal dirumah saja. Menikmati suasana rumahnya. Sekalian
istirahat karena 2 hari kemarin Olive sudah menghabiskan waktunya
berjalan-jalan ke tempat-tempat yang dulu biasa ia kunjungi. Termasuk kemarin
ia sempat datang ke kafe langganannya tempat ia biasa nongkrong bersama Bella.
Berbicara mengenai Bella, sebenarnya sekarang Olive juga
sedang menunggu telepon dari Bella. Bella berjanji akan menghubunginya. Olive
penasaran apa yang akan dibicarakan oleh Bella karena sepertinya ada hal yang
penting. Dan Olive berfirasat kalau hal penting itu berhubungan dengan
laki-laki itu.
Walaupun sudah berusaha untuk melupakan Daniel, namun Olive
belum pernah berhasil sampai saat ini.
Olive bangkit dari duduknya dan berjalan menuju dapur untuk
mengambil minum. Saat sedang menuangkan minuman tiba-tiba handphone Olive bordering.
“Hallo Bel. Akhirnya Kamu menelpon juga. Aku sudah menunggu
telponmu,” jawab Olive sambil meneguk jus jambunya.
“Halo Olive, maaf sudah membuat kamu menunggu. Bagaimana
kalau kita bertemu sore ini? Kamu free
kan?”
“Boleh. Dimana kita mau bertemu?”
“Bagaimana kalau di kafe langganan kita. Kamu masih ingat
kan?”
Olive melirik jam di tangannya. Jam tiga sore. “Baiklah. Aku
akan kesana satu jam lagi.”
“Oke. Aku tutup telponnya. Dah Olive.”
###
Olive sudah siap untuk berangkat. Ia mengecek sekali lagi
oleh-oleh yang sudah ia siapkan untuk Bella. Setelah semuanya siap, Olive
segera melincur menuju kafe langganannya.
Bella sudah menunggunya di salah satu meja di sudut kafe
ketika Olive datang. Ia tampak melambaikan tangan kearah Olive dan langsung
berdiri ketika melihat sahabatnya muncul dari balik pintu kafe.
Bella segera memeluk Olive sebagai sambutan atas kedatangan
sahabatnya tersebut dari Korea.
“Oh, aku membawakan oleh-oleh dari Korea buat Kamu,” ucap
Olive sambil menyerahkan aksesoris yang sudah ia siapkan untuk sahabatnya itu.
“Makasih ya. Kamu memang tahu yang aku mau,” jawab Bella
sambil tertawa.
Setelah sekian lama mengobrol ngalur-ngidul sembari melepas
rindu dan berbagi cerita, akhirnya makanan yang mereka pesan pun datang.
“Jadi, apa yang sebenarnya ingin Kamu bicarakan denganku?”
tanya Olive setelah mereka selesai menghabiskan makanan masing-masing.
“Ini mengenai Daniel,” jawab Bella hati-hati.
“Aku sudah menduga.”
“Apa yang selama ini kita duga bahwa Daniel menyukai Kamu
memang benar. Seminggu setelah Kamu pergi ke Korea, Daniel datang ke rumahku.
Daniel bilang bahwa dia baru saja dari rumahmu namun Kamu sudah pergi. Daniel
mengatakan kalau dia benar-benar tidak tahu Kamu akan pergi ke Korea” Bella
menjelaskan dengan detail.
Olive masih diam mendengar penjelasan dari Bella. Kemudian
Bella mengambil sesuatu dari tasnya.
“Daniel menitipkan ini buat kamu,” kata Bella sambil
menyerahkan amplop berwarna biru kepada Olive.
Olive ingin menjawab tapi Olive tidak tahu harus menjawab
apa. Ia tidak tahu harus bagaimana. Apa yang dikatakan Bella sungguh diluar
perkiraannya.
Melihat sahabatnya masih diam, Bella pun menambahkan, “Daniel
sekarang kuliah di Singapura. Aku dengar dia juga berencana untuk pulang ke
Indonesia dalam waktu dekat ini. Dan juga, kelas kita akan mengadakan acara
reuni minggu depan, mungkin Kamu bisa datang.”
“Apakah kemungkinan Daniel juga akan datang dalam acara
itu?” Olive mulai merespon.
“Menurutku iya, Daniel adalah salah satu yang mengusulkan
acara tersebut.
Olive dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku
tidak akan datang.”
Olive berhenti sejenak lalu menambahkan, “Tiga tahun
berpisah bukan waktu yang singkat. Semuanya bisa berubah dalam tiga tahun.
Perasaan Daniel pun begitu. Kami sudah dalam kehidupan yang berbeda. Kami sudah
punya kehidupan kami masing-masing. Aku tidak mau, jika kami bertemu kembali
justru akan mengusik perasaan lama yang sekarang sudah mulai tertata. Aku tidak
mau kalau aku hadir kembali dalam kehidupannya justru akan mengobrak-abrik
kehidupannya yang mulai tertata, begitupun dengan aku.”
“Tapi kalian tidak mungkin memendam perasaan yang sama seumur
hidup kalian,” Bella menyela.
“Daniel sudah hidup dengan orang-orang baru. Hidup dengan
teman-teman baru. Perasaannya mungkin sudah berubah. Daniel mungkin sudah
menemukan cintanya disana.”
“Bagaimana jika tidak?”
“Entahlah. Tapi tidak ada yang menjamin itu. Kemungkinannya
sangat kecil.”
Olive dan Bella sama-sama daim. Sibuk dengan pikiran
masing-masing.
###
Sudah pukul sembilan malam. Olive belum bisa tidur. Matanya
sulit sekali rasanya untuk terpejam. Entah rasa kantuk itu menguap kemana.
Olive tidur telentang di tempat tidurnya. Olive terus memikirkan
perbincangannya dengan Bella tadi siang sambil memandangi amplop biru itu.
Amplop itu masih rapi. Belum terbuka. Dan Olive juga tidak berencana untuk
membukanya.
Perkataan Bella terus terngiang ditelinganya. Berputar-putar
mengelilingi otaknya. Meracuni sel sarafnya.
Olive masih memandangi langit-langit kamarnya sambil
membolak-balikkan amplop biru itu. Olive benar-benar tidak dapat membayangkan
apa yang akan ia lakukan jika ia harus bertemu kembali dengan Daniel. Selama
ini Olive sudah berjuang keras untuk melupakan Daniel, meski belum membuahkan
hasil sama sekali. Dan ia tahu kalau ia bertemu kembali dengan Daniel, itu
berarti ia harus mengulang usahanya dari awal.
Kemudian Olive bangun dari tidurnya. Tiba-tiba ia
mendapatkan ide. Menurutnya ide itu adalah yang terbaik untuk dirinya saat ini.
Dan ia sudah memikirkannya matang-matang.
Olive langsung mengambil laptopnya. Lalu ia dengan cepat
menyalakannya dan langsung membuka penjualan online tiket pesawat.
###
“Apa? Kamu kembali ke Korea sore ini? Olive, Kamu bilang
Kamu masih di Jakarta untuk satu minggu ke depan. Kenapa tiba-tiba Kamu
mempercepat kepergianmu tiba-tiba begini?”” sambar Bella saat Olive menelponnya
untuk memberitahu kepulangannya ke Korea.
“Iya. pesawatku akan berangkat jam 5.”
“Kenapa Kamu tiba-tiba ingin pulang cepat seperti ini?
Bukankan Kamu bilang masih satu minggu lagi?” Bella mengulangi pertanyaannya.
“Aku ada urusan mendadak di Korea.” Olive mencoba
mencari-cari alasan.
“Kamu tidak perlu berbohong seperti itu kepadaku. Aku tahu,
Kamu pasti sedang menghindari untuk bertemu Daniel kan?”
“Itu yang terbaik saat ini.”
“Aku tidak bisa mencegahmu. Kamu tahu yang terbaik untuk
diri kamu. Tapi Olive, aku tidak bisa mengantarmu ke bandara sore ini. Kamu
memberitahuku mendadak dan aku tidak bisa membatalkan acaraku. Aku minta maaf.”
“Tidak apa-apa. Aku pamit ya.”
“Kamu hati-hati ya. Hubungi aku kalau Kamu sudah sampai di Korea.”
###
Pesawat yang akan membawa Daniel kembali ke Indonesia telah
berangkat dari bandara Changi. Liburan kali ini ia akan pulang ke Indonesia.
Selain karena memang itu adalah rutinitasnya setiap liburan, juga kerana
liburan kali ini ia akan mempunyai acara reuni dengan teman-teman SMA nya. Ia
adalah salah satu orang yang mengusulkan acara tersebut.
Setelah kurang lebih satu setengah jam perjalanan, akhirnya
pesawat Daniel tiba di Bandara Soekarno-Hatta.
Daniel melangkah sambil memngambil handphonenya dari saku celana. Kemudian ia menekan tombol call dan menempelkannya di telinga.
Daniel melirik jam tangannya sambil menunggu jawaban dari
orang di seberang telepon sana.
“Hallo Rick, Kamu dimana? Ini sudah jam 3 kurang sepuluh
menit. Berarti Kamu sudah telat 20 menit. Kamu tidak lupa kan?” tanya Daniel
memarahi orang yang diseberang telepon.
“Iya aku tidak lupa. Aku sampai sebentar lagi. Kamu tahu
sendiri kan jalanan Jakarta selalu macet. Kamu sekarang dimana?” Jawab Ricki,
yang sore itu diminta oleh Daniel untuk menjemputnya di bandara.
“Aku masih di bandara. Sekarang aku sedang berdiri di dekat
pintu masuk. Cepat telpon aku kalau kamu sudah sampai.”
###
Olive turun dari taxi. Tiba-tiba handphonenya berdering. Olive mengambil handphonenya dari saku celana. Ia menekan tombol jawab kemudian
menempelkannya di telinga.
“Hallo Dev. Ada apa?” sapa Olive pada Devi diseberang
telepon sana. Devi adalah teman satu apartemen dengan Olive. Mereka sama-sama
mahasiswa asal Indonesia.
“Kata mamamu Kamu pulang ke Korea sekarang? Kenapa mendadak
sekali?”
“Aku akan menceritakan nanti di Korea saja.”
“Kamu sudah membelikan pasananku kan?”
“Iya, aku tidak lupa kok. Aku sudah belikan abon sapi buat
Kamu.”
“Terima kasih Olive. Kamu memang teman yang baik. Oh iya,
Kamu sekarang dimana? Kapan pesawatmu berangkat?”
“Sekarang aku sedang di pintu masuk bandara. Mm, sekarang di
Jakarta pukul 3 kurang sepuluh menit. Kira-kira aku berangkat dua jam lagi.
Sebentar lagi aku akan check in.”
“Baiklah kalau begitu. Telpon aku kalau Kamu sudah sampai.
Aku akan menjemputmu.”
Olive memasukkan handphone ke dalam tas. Olive melihat
sekeliling. Pintu masuk bandara tidak begitu ramai. Hanya ada satu orang
laki-laki yang tampak sedang marah-marah di telepon.
Laki-laki itu cukup tinggi untuk ukuran orang Indonesia.
Badannya pun terlihat proporsional. Perawakan laki-laki itu sungguh
mengingatkan Olive pada seseorang. Daniel. Lagi-lagi Daniel. Namun laki-laki
itu dalam posisi membelakangi Olive sehingga Olive tidak dapat melihat wajah
laki-laki itu.
###
Olive telah duduk di dalam pesawat. Dan pesawat telah take off sejak lima belas menit yang
lalu.
Liburannya di Indonesia ini bagai sebuah mimpi di musim
panas bagi Olive. Hanya singkat namun penuh dengan kejutan. Banyak hal terjadi
yang tak pernah ia perkirakan.
Sebenarnya dalam hati Olive sendiri memberontak dengan
keputusan yang sudah Olive buat untuk selalu menghindari Daniel. Bagaimana bisa
ia terus-terusan menghindari laki-laki itu sedangkan dalam hatinya masih
menyimpan rindu pada laki-laki itu.
Kini Olive sudah berada dalam pesawat yang akan membawanya
kembali ke Korea. Ini berarti mimpi musim panasnya akan berakhir. Ia akan
kembali pada rutinitasnya di Korea. Ia akan mengabaikan apa yang terjadi di
Jakarta kemarin.
Setiap luka yang datang pasti meninggalkan bekas. Begitupun
dengan luka hati yang pernah dialami Olive. Namun ia yakin luka-luka itu akan
sembuh seiring berjalannya waktu. Begitu juga dengan bekas yang ditinggalkan,
pasti waktu akan menghapusnya perlahan-lahan.
Olive sudah tidak mau memikirkannya. Karena ia selalu percaya
pada kata-kata yang pernah diucapkannya dulu, “Mungkin aku harus menyayanginya
dengan cara yang lain, bukan dengan memilikinya”.
Anggi Anisa T. Y., UNY








0 comments:
Posting Komentar