Jumat, 19 Desember 2014

Cinta Datang Terlambat (Top 15)

Seoul, Korea Selatan
            Olive melemparkan pandangannya keluar jendela mobil memandangi jalanan Korea Selatan. Siang itu jalanan di kota Seoul tampak ramai. Udara di Seoul siang ini terasa hangat. Langit di atas kota Seoul pun tampak cerah.
Olive melepas headphone yang sedari tadi menutupi telinganya dan mengalungkannya di leher. Sebentar lagi ia akan segera sampai di Bandara Incheon. Tak lama setelahnya taksi yang ia tumpangi pun memasuki area bandara. Setelah membayar sejumlah uang kepada sopir taksi, ia pun segera turun.
Olive segera menuju lobi keberangkatan luar negeri untuk segera check in. Sebentar lagi pesawat yang akan membawanya kembali ke tanah airnya akan segera berangkat jadi ia tidak ingin membuang-buang waktu agar tidak ketinggalan pesawat.
Olive memang sedang terburu-buru, namun dalam keadaan seperti inipun ia masih tetap bisa mengagumi indahnya Bandara Incheon. Sudah beberapa kali ia berada di bandara ini namun sampai sekarang ia masih tetap terkagum-kagum dengan bandara kebanggaan Korea itu. Kemegahan bandara yang pernah menjadi bandara terbaik di dunia itu memang tak dapat dipungkiri. Siapa pun pasti setuju kalau arsitektur bandara itu memang pantas diacungi jempol.
Tak berbeda seperti jalanan di Seoul, Bandara Incheon pun siang ini terlihat sibuk. Olive menarikkopernya diantara orang-orang yang berlalu lalang. Setelah selesai check in, akhirnya kini Olive sudah berada di dalam pesawat. Pesawatpun mulai lepas landas. Membutuhkan 7 jam untuk sampai di Jakarta, dan Olive memilih untuk tidur.
###
Jakarta, Indonesia
Olive membuka pintu kamar dengan satu sentakan. Ia merindukan kamarnya. Rasanya sudah lama sekali ia tidak melihat kamarnya sejak ia tinggal di Korea. Ia merindukan suasana kamarnya.
Ini adalah kepulangan pertamanya sejak ia kuliah di Korea tiga tahun terakhir ini. Dulu, alasan ia memutuskan untuk kuliah di Korea adalah karena ia ingin melupakan kenangannya di Indonesia. Ia berharap ia bisa melupakan seseorang jika ia pergi jauh, namun kenyataannya, alih-alih dapat melupakan orang itu, Olive justru semakin merindukan orang itu selama di Korea.
Olive memandang sekeliling. Suasana kamarnya masih sama seperti waktu ia pergi dulu. Kemudian ia meletakkan tas dan kopernya di lantai lalu merebahkan badannya di tempat tidur. Masih nyaman seperti dulu, pikirnya. Setelah itu ia bangun dan beranjak duduk di kursi belajarnya. Ia rindu saat-saat ia masih sekolah. Setiap malam ia selalu duduk di kursi itu. menghabiskan waktu berjam-jam duduk di kursi itu. Entah untuk belajar atau hanya sekedar memandang pemandangan sekitar lewat jendela yang tepat berada di samping kursi belajarnya.
Olive senyum-senyum sendiri mengingat masa-masa itu. Perlahan senyumnya memudar saat matanya menangkap laci meja yang berada di sampingnya. Olive pun membuka laci itu. ia menemukan buku diarynya sewaktu SMA dulu. Ia mengambil diary ungunya dan membuka lembarannya.
Olive mulai membaca kembali curahan hati yang ia tulis sewaktu SMA dulu. Olive jadi semakin teringat dengan orang yang ia tulis dalam buku diarynya. Orang itu. laki-laki itu. Dia adalah orang yang mengisi berlembar-lembar buku diary Olive. Dia adalah tokoh utama yang ditulis Olive di buku diarynya.
Kejadian apapun yang berhubungan dengan laki-laki itu selalu ia tulis dalam buku diarynya. Ia tidak pernah melewatkan satu kejadian pun. Setiap detail kejadian yang berhubungan dengan laki-laki itu terasa sayang bagi Olive untuk dilewatkan.
Ingatan Olive terbang ke akhir masa-masa SMA. Masa-masa yang singkat namun menyimpan banyak kenangan baginya.
Akhir masa SMA itu adalah saat dimana dia bertemu dengan laki-laki itu. Laki-laki yang telah mencuri hati Olive tanpa permisi. Laki-laki itu, Daniel.
Pada awalnya Olive pernah menyangka bahwa Daniel juga menyukainya karena Daniel seolah-olah memancarkan sinyal bahwa dia menyukai Olive. Daniel sangat perhatian pada Olive. Olive juga kerap menangkap basah Daniel sedang menatap kearahnya saat ia hendak memandang kearah laki-laki itu. Dan Olive pun sering mendengar Daniel dan teman-temannya sering menyebut namanya saat mereka berbincang-bincang.
Namun sepertinya apa yang Olive perkirakan salah. Daniel tidak menyukai Olive. Daniel tidak pernah menyatakan perasaannya pada Olive. Bahkan sampai akhir mereka lulus SMA, Daniel juga tidak menyatakan perasaannya pada Olive.
Olive memutuskan untuk melupakan Daniel. Olive memilih untuk menghindar dari laki-laki itu. Karena ia tidak mau jika ia tetap melihat laki-laki itu akan semakin sulit bagi Olive untuk melupakannya. Dan itulah alasan mengapa akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke Korea. Karena ia ingin melupakan laki-laki itu. Ia ingin melupakan Daniel.
“Olive, Kamu sudah yakin dengan keputusanmu untuk ke Korea?” Tanya Bella pada Olive saat mendengar keputusan sahabatnya yang terkesan mendadak itu.
“Tidak ada alasan lagi untuk tidak pergi, Bel. Aku butuh suasana yang baru.”
Bella kamudian memeluk Olive untuk memberikan kekuatan pada sahabatnya tersebut. Bella tidak menyangka Olive akan mengambil keputusan secepat itu.
“Apakah Kamu akan memberitahu Daniel kalau Kamu akan kuliah di Korea?”
Olive menggeleng. “Hanya Kamu dan keluargaku yang tahu.”
Sekali lagi Bella memeluk Olive.
“Mungkin aku harus menyayanginya dengan cara yang lain, bukan dengan memilikinya,” ucap Olive, lebih untuk menghibur dirinya sendiri.
Ketika sedang tenggelam dalam angan-angan tentang masa lalunya, tiba-tiba handphone Olive bordering menandakan ada panggilan masuk.
“Halo Bel, ada apa?”
“Aku dengar Kamu pulang dari Korea?” jawab suara di seberang telepon.
“Oh, iya. Aku baru saja sampai di rumah.”
“Kalau begitu besok kalau ada waktu kita ketemu ya. Ada yang akan aku bicarakan denganmu.”
“Baiklah. Nanti Kamu smskan tempat dan jamnya. “
###
Sudah empat hari Olive berada di Jakarta. Hari ini Olive memilih untuk tinggal dirumah saja. Menikmati suasana rumahnya. Sekalian istirahat karena 2 hari kemarin Olive sudah menghabiskan waktunya berjalan-jalan ke tempat-tempat yang dulu biasa ia kunjungi. Termasuk kemarin ia sempat datang ke kafe langganannya tempat ia biasa nongkrong bersama Bella.
Berbicara mengenai Bella, sebenarnya sekarang Olive juga sedang menunggu telepon dari Bella. Bella berjanji akan menghubunginya. Olive penasaran apa yang akan dibicarakan oleh Bella karena sepertinya ada hal yang penting. Dan Olive berfirasat kalau hal penting itu berhubungan dengan laki-laki itu.
Walaupun sudah berusaha untuk melupakan Daniel, namun Olive belum pernah berhasil sampai saat ini.
Olive bangkit dari duduknya dan berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Saat sedang menuangkan minuman tiba-tiba handphone Olive bordering.
“Hallo Bel. Akhirnya Kamu menelpon juga. Aku sudah menunggu telponmu,” jawab Olive sambil meneguk jus jambunya.
“Halo Olive, maaf sudah membuat kamu menunggu. Bagaimana kalau kita bertemu sore ini? Kamu free kan?”
“Boleh. Dimana kita mau bertemu?”
“Bagaimana kalau di kafe langganan kita. Kamu masih ingat kan?”
Olive melirik jam di tangannya. Jam tiga sore. “Baiklah. Aku akan kesana satu jam lagi.”
“Oke. Aku tutup telponnya. Dah Olive.”
###
Olive sudah siap untuk berangkat. Ia mengecek sekali lagi oleh-oleh yang sudah ia siapkan untuk Bella. Setelah semuanya siap, Olive segera melincur menuju kafe langganannya.
Bella sudah menunggunya di salah satu meja di sudut kafe ketika Olive datang. Ia tampak melambaikan tangan kearah Olive dan langsung berdiri ketika melihat sahabatnya muncul dari balik pintu kafe.
Bella segera memeluk Olive sebagai sambutan atas kedatangan sahabatnya tersebut dari Korea.
“Oh, aku membawakan oleh-oleh dari Korea buat Kamu,” ucap Olive sambil menyerahkan aksesoris yang sudah ia siapkan untuk sahabatnya itu.
“Makasih ya. Kamu memang tahu yang aku mau,” jawab Bella sambil tertawa.
Setelah sekian lama mengobrol ngalur-ngidul sembari melepas rindu dan berbagi cerita, akhirnya makanan yang mereka pesan pun datang.
“Jadi, apa yang sebenarnya ingin Kamu bicarakan denganku?” tanya Olive setelah mereka selesai menghabiskan makanan masing-masing.
“Ini mengenai Daniel,” jawab Bella hati-hati.
“Aku sudah menduga.”
“Apa yang selama ini kita duga bahwa Daniel menyukai Kamu memang benar. Seminggu setelah Kamu pergi ke Korea, Daniel datang ke rumahku. Daniel bilang bahwa dia baru saja dari rumahmu namun Kamu sudah pergi. Daniel mengatakan kalau dia benar-benar tidak tahu Kamu akan pergi ke Korea” Bella menjelaskan dengan detail.
Olive masih diam mendengar penjelasan dari Bella. Kemudian Bella mengambil sesuatu dari tasnya.
“Daniel menitipkan ini buat kamu,” kata Bella sambil menyerahkan amplop berwarna biru kepada Olive.
Olive ingin menjawab tapi Olive tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak tahu harus bagaimana. Apa yang dikatakan Bella sungguh diluar perkiraannya.
Melihat sahabatnya masih diam, Bella pun menambahkan, “Daniel sekarang kuliah di Singapura. Aku dengar dia juga berencana untuk pulang ke Indonesia dalam waktu dekat ini. Dan juga, kelas kita akan mengadakan acara reuni minggu depan, mungkin Kamu bisa datang.”
“Apakah kemungkinan Daniel juga akan datang dalam acara itu?” Olive mulai merespon.
“Menurutku iya, Daniel adalah salah satu yang mengusulkan acara tersebut.
Olive dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku tidak akan datang.”
Olive berhenti sejenak lalu menambahkan, “Tiga tahun berpisah bukan waktu yang singkat. Semuanya bisa berubah dalam tiga tahun. Perasaan Daniel pun begitu. Kami sudah dalam kehidupan yang berbeda. Kami sudah punya kehidupan kami masing-masing. Aku tidak mau, jika kami bertemu kembali justru akan mengusik perasaan lama yang sekarang sudah mulai tertata. Aku tidak mau kalau aku hadir kembali dalam kehidupannya justru akan mengobrak-abrik kehidupannya yang mulai tertata, begitupun dengan aku.”
“Tapi kalian tidak mungkin memendam perasaan yang sama seumur hidup kalian,” Bella menyela.
“Daniel sudah hidup dengan orang-orang baru. Hidup dengan teman-teman baru. Perasaannya mungkin sudah berubah. Daniel mungkin sudah menemukan cintanya disana.”
“Bagaimana jika tidak?”
“Entahlah. Tapi tidak ada yang menjamin itu. Kemungkinannya sangat kecil.”
Olive dan Bella sama-sama daim. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
###
Sudah pukul sembilan malam. Olive belum bisa tidur. Matanya sulit sekali rasanya untuk terpejam. Entah rasa kantuk itu menguap kemana. Olive tidur telentang di tempat tidurnya. Olive terus memikirkan perbincangannya dengan Bella tadi siang sambil memandangi amplop biru itu. Amplop itu masih rapi. Belum terbuka. Dan Olive juga tidak berencana untuk membukanya.
Perkataan Bella terus terngiang ditelinganya. Berputar-putar mengelilingi otaknya. Meracuni sel sarafnya.
Olive masih memandangi langit-langit kamarnya sambil membolak-balikkan amplop biru itu. Olive benar-benar tidak dapat membayangkan apa yang akan ia lakukan jika ia harus bertemu kembali dengan Daniel. Selama ini Olive sudah berjuang keras untuk melupakan Daniel, meski belum membuahkan hasil sama sekali. Dan ia tahu kalau ia bertemu kembali dengan Daniel, itu berarti ia harus mengulang usahanya dari awal.
Kemudian Olive bangun dari tidurnya. Tiba-tiba ia mendapatkan ide. Menurutnya ide itu adalah yang terbaik untuk dirinya saat ini. Dan ia sudah memikirkannya matang-matang.
Olive langsung mengambil laptopnya. Lalu ia dengan cepat menyalakannya dan langsung membuka penjualan online tiket pesawat.
###
“Apa? Kamu kembali ke Korea sore ini? Olive, Kamu bilang Kamu masih di Jakarta untuk satu minggu ke depan. Kenapa tiba-tiba Kamu mempercepat kepergianmu tiba-tiba begini?”” sambar Bella saat Olive menelponnya untuk memberitahu kepulangannya ke Korea.
“Iya. pesawatku akan berangkat jam 5.”
“Kenapa Kamu tiba-tiba ingin pulang cepat seperti ini? Bukankan Kamu bilang masih satu minggu lagi?” Bella mengulangi pertanyaannya.
“Aku ada urusan mendadak di Korea.” Olive mencoba mencari-cari alasan.
“Kamu tidak perlu berbohong seperti itu kepadaku. Aku tahu, Kamu pasti sedang menghindari untuk bertemu Daniel kan?”
“Itu yang terbaik saat ini.”
“Aku tidak bisa mencegahmu. Kamu tahu yang terbaik untuk diri kamu. Tapi Olive, aku tidak bisa mengantarmu ke bandara sore ini. Kamu memberitahuku mendadak dan aku tidak bisa membatalkan acaraku. Aku minta maaf.”
“Tidak apa-apa. Aku pamit ya.”
“Kamu hati-hati ya. Hubungi aku kalau Kamu sudah sampai di Korea.”
###
Pesawat yang akan membawa Daniel kembali ke Indonesia telah berangkat dari bandara Changi. Liburan kali ini ia akan pulang ke Indonesia. Selain karena memang itu adalah rutinitasnya setiap liburan, juga kerana liburan kali ini ia akan mempunyai acara reuni dengan teman-teman SMA nya. Ia adalah salah satu orang yang mengusulkan acara tersebut.
Setelah kurang lebih satu setengah jam perjalanan, akhirnya pesawat Daniel tiba di Bandara Soekarno-Hatta.
Daniel melangkah sambil memngambil handphonenya dari saku celana. Kemudian ia menekan tombol call dan menempelkannya di telinga.
Daniel melirik jam tangannya sambil menunggu jawaban dari orang di seberang telepon sana.
“Hallo Rick, Kamu dimana? Ini sudah jam 3 kurang sepuluh menit. Berarti Kamu sudah telat 20 menit. Kamu tidak lupa kan?” tanya Daniel memarahi orang yang diseberang telepon.
“Iya aku tidak lupa. Aku sampai sebentar lagi. Kamu tahu sendiri kan jalanan Jakarta selalu macet. Kamu sekarang dimana?” Jawab Ricki, yang sore itu diminta oleh Daniel untuk menjemputnya di bandara.
“Aku masih di bandara. Sekarang aku sedang berdiri di dekat pintu masuk. Cepat telpon aku kalau kamu sudah sampai.”
###
Olive turun dari taxi. Tiba-tiba handphonenya berdering. Olive mengambil handphonenya dari saku celana. Ia menekan tombol jawab kemudian menempelkannya di telinga.
“Hallo Dev. Ada apa?” sapa Olive pada Devi diseberang telepon sana. Devi adalah teman satu apartemen dengan Olive. Mereka sama-sama mahasiswa asal Indonesia.
“Kata mamamu Kamu pulang ke Korea sekarang? Kenapa mendadak sekali?”
“Aku akan menceritakan nanti di Korea saja.”
“Kamu sudah membelikan pasananku kan?”
“Iya, aku tidak lupa kok. Aku sudah belikan abon sapi buat Kamu.”
“Terima kasih Olive. Kamu memang teman yang baik. Oh iya, Kamu sekarang dimana? Kapan pesawatmu berangkat?”
“Sekarang aku sedang di pintu masuk bandara. Mm, sekarang di Jakarta pukul 3 kurang sepuluh menit. Kira-kira aku berangkat dua jam lagi. Sebentar lagi aku akan check in.”
“Baiklah kalau begitu. Telpon aku kalau Kamu sudah sampai. Aku akan menjemputmu.”
Olive memasukkan handphone ke dalam tas. Olive melihat sekeliling. Pintu masuk bandara tidak begitu ramai. Hanya ada satu orang laki-laki yang tampak sedang marah-marah di telepon.
Laki-laki itu cukup tinggi untuk ukuran orang Indonesia. Badannya pun terlihat proporsional. Perawakan laki-laki itu sungguh mengingatkan Olive pada seseorang. Daniel. Lagi-lagi Daniel. Namun laki-laki itu dalam posisi membelakangi Olive sehingga Olive tidak dapat melihat wajah laki-laki itu. 
###
Olive telah duduk di dalam pesawat. Dan pesawat telah take off sejak lima belas menit yang lalu.
Liburannya di Indonesia ini bagai sebuah mimpi di musim panas bagi Olive. Hanya singkat namun penuh dengan kejutan. Banyak hal terjadi yang tak pernah ia perkirakan.
Sebenarnya dalam hati Olive sendiri memberontak dengan keputusan yang sudah Olive buat untuk selalu menghindari Daniel. Bagaimana bisa ia terus-terusan menghindari laki-laki itu sedangkan dalam hatinya masih menyimpan rindu pada laki-laki itu.
Kini Olive sudah berada dalam pesawat yang akan membawanya kembali ke Korea. Ini berarti mimpi musim panasnya akan berakhir. Ia akan kembali pada rutinitasnya di Korea. Ia akan mengabaikan apa yang terjadi di Jakarta kemarin.
Setiap luka yang datang pasti meninggalkan bekas. Begitupun dengan luka hati yang pernah dialami Olive. Namun ia yakin luka-luka itu akan sembuh seiring berjalannya waktu. Begitu juga dengan bekas yang ditinggalkan, pasti waktu akan menghapusnya perlahan-lahan.

Olive sudah tidak mau memikirkannya. Karena ia selalu percaya pada kata-kata yang pernah diucapkannya dulu, “Mungkin aku harus menyayanginya dengan cara yang lain, bukan dengan memilikinya”.

Anggi Anisa T. Y., UNY

0 comments:

Posting Komentar