Jumat, 19 Desember 2014

Harapan Baru untuk Joni (Top 15)

Aku tidak tahu tempat apa ini. Yang jelas gedung di depanku ini sangat besar dengan tembok bercat putih. Di depannya terpampang tulisan besar yang samar-samar dapat kulihat, “RUMAH SAKIT”. Mengapa aku disini? Siapa yang sakit? Pikirku. Aku ingin masuk, tetapi ragu karena aku sendiri tidak yakin apa alasan mengapa aku ada disini. Aku pejamkan kedua mataku, namun saat aku membuka mata tiba-tiba aku sudah berada di sebuah ruangan yang cukup besar dengan meja yang dipenuhi kertas-kertas, kursi yang empuk, perpustakaan dengan koleksi buku yang lengkap, dan lemari-lemari yang penuh dengan dokumen-dokumen serta beberapa piala. Di tengah kebingunganku, aku mendengar suara seseorang yang berlari mendekatiku.
“Dokter Joni, detak jantung pasien yang datang kemarin sudah stabil. Kita bisa lakukan operasinya sekarang!” kata wanita berseragam perawat itu dengan napas terengah-engah. Ah, ternyata aku seorang dokter. Tidak bisa dipercaya impianku menjadi kenyataan. Aku segera memakai jasku dan berlari dengan perawat itu menuju ruang operasi. Aku berlari tanpa memperhatikan sekitarku sampai tiba-tiba aku tersandung dan jatuh di lantai. Bruuukkkk.. aku membuka mataku dan merasakan lututku yang sakit. Tiba-tiba suasana rumah sakit hilang dan berganti dengan sebuah ruang kecil dengan dinding dari anyaman bambu, kamar tidurku. Ternyata aku hanya bermimpi. Sayang sekali aku harus terbangun, padahal cita-citaku terwujud di mimpiku tadi. Dengan hati yang kecewa akan kenyataan, aku berjalan menuju sumur di belakang rumah untuk sholat subuh. Simbok yang sedang membuat gethuk di dapur heran melihat wajahku yang cemberut.
“Ngopo, Le? Kamu kenapa bangun tidur sudah cemberut gitu?” tanyanya sambil mencampur adonan ketela dengan gula jawa.
Mboten nopo-nopo, Mbok. Aku tidak kenapa-kenapa, kok.” jawabku datar.
Setelah sholat subuh aku biasanya langsung memberi makan empat kambingku lalu bersiap ke sekolah karena jarak sekolah dan rumahku yang cukup jauh dan aku tempuh dengan berjalan kaki. Desaku yang berada di lereng Gunung Merapi ini memang tidak ada sekolah yang dekat, oleh karena itu tidak semua anak di desa ini bersekolah. Alasan mereka bermacam-macam, mulai dari tidak ada biaya sampai memilih untuk bekerja yang sudah tentu menghasilkan uang. Aku berbeda dari mereka yang tidak mau sekolah, aku punya mimpi yang besar untuk menjadi seorang dokter yang hebat. Beruntung aku mempunyai ibu yang selalu mendukungku dan impianku. Simbok selalu bekerja keras untuk membiayai sekolahku. Bapak sudah meninggal saat aku masih berusia empat tahun karena sakit jantung, jadilah Simbok sebagai tulang punggung keluarga mulai saat itu.
Sepulang sekolah aku segera menuju dapur untuk minum. Hari itu udara sangat panas. Aku melihat Simbok duduk di dhingklik dekat perapian sambil menunduk. Aku tidak tahu apa yang dilakukannya karena asap dari perapian tidak mengepul yang berarti Simbok tidak sedang membuat gethuk. Aku dekati Simbok dan melihat air matanya jatuh dan buru-buru ia hapus dengan tangannya. Aku bertanya apa yang terjadi tetapi itu justru membuatnya semakin sedih.
“Kalau besar nanti kamu pengen jadi dokter to, Le?” katanya sambil menggenggam kedua tanganku. Aku mengangguk mantap. “Kamu beneran serius dan akan melakukan apapun demi mewujudkan cita-cita itu kan, Le?” lanjutnya. Sekali lagi aku mengangguk mantap. Aku jadi semakin bingung apa yang ingin dikatakan Simbok. Simbok melanjutkan kata-katanya,”Tadi pagi Pak Darmo, anak angkat orang tua Bapakmu yang sekarang sudah sukses dan jadi orang kaya di Jakarta, datang kesini untuk menanyakan kapan kelulusanmu tiba.” Simbok berhenti sejenak, menyeka air matanya.”Lalu Simbok bilang bulan depan kamu lulus, terus dia bilang setelah lulus SMP kamu akan dibawa ke Jakarta, di sekolahkan disana biar pinter. Simbok belum bilang apa-apa. Simbok bingung, kalau disini yo kamu ndak bisa dapat pendidikan yang layak to? Mending kamu terima ajakan Pak Darmo saja?” tangis Simbok pecah. Aku hanya terdiam tanpa berkomentar.

***

Pagi ini Pak Darmo akan menjemputku. Setelah kemarin penerimaan ijazah dengan nilaiku yang di atas rata-rata, aku berpikir bahwa memang desa ini tidak dapat menjamin pendidikanku. Walau berat harus jauh dengan Simbok, aku berjanji akan kembali dan memperbaiki kehidupan keluargaku serta desa ini. Sejak subuh tadi, Simbok sudah sibuk menyiapkan barang-barang yang akan kubawa ke Jakarta sedangkan aku sibuk menguatkan tekadku untuk benar-benar pergi menjemput impianku.

***

Jakarta benar-benar kota yang sibuk. Tidak seperti di desa dulu, malam hari Jakarta justru adalah awal dari kesenangan bagi pecinta kehidupan malam, termasuk aku. Ini adalah tahun ketigaku di Jakarta. Pola pikirku sudah berubah, aku yang sekarang adalah pemuda modern yang selalu mengikuti perkembangan jaman. Yang paling banyak berpengaruh pada perubahanku ini adalah teman-temanku, Reno, Doni, dan Alfin, dan seorang perempuan cantik bernama Fero. Aku sekelas dengan ketiga temanku itu dan Fero adalah adik kelasku. Semua berawal saat aku pertama masuk sekolah ini. Semua teman tidak ada yang mendekatiku duluan kecuali mereka bertiga, jadilah kami sahabat dekat yang senang menghabiskan waktu bersama.
Reno, Doni, dan Alfin adalah anak orang kaya dan kelak akan mewarisi kekayaan orang tua mereka. Mereka tidak terlalu suka belajar dan menghabiskan waktu mereka untuk bersenang-senang. Awal semester satu aku masih rajin belajar, namun aku mulai jenuh saat di semester kedua. Sejak kecil, aku terus belajar dan berusaha mendapat peringkat pertama, lalu kapan aku punya waktu untuk bersenang-senang? Aku menceritakan pikiranku itu pada mereka dan disambut dengan tawa.
“Masa muda cuma sekali. Harusnya lo pake buat seneng-seneng, ngapain malah susah-susah begitu? Hahahaha.” Doni menyahut sambil tertawa. “Mending ikutan hang out bareng kita ntar malem, gimana?” sambung Reno. Begitulah awalnya. Aku jadi sangat sering pergi bersama mereka sampai sekarang, mulai dari menginap di salah satu rumah mereka menikmati kehidupan malam di ibukota. Dengan alasan belajar bersama teman, dengan mudah aku mendapat ijin dari Pak Darmo. Lalu, bagaimana kelanjutan perjuanganku untuk mewujudkan mimpi menjadi dokter?

***
                Aku terbangun mendengar bunyi ponsel di dekatku. Ah, siapa yang menelpon malam-malam begini pikirku. Aku lihat tulisan di layar ponsel, Alfin.
            “Halo, kenapa?”
            “Lo keluar sekarang dari jendela, gue udah di depan rumah lo.” jawabnya di seberang.
            “Ada apaan emang?” tanyaku malas.
            “Udah buruan turun, ini penting!” sahutnya cepat lalu sambungan terputus.
            Aku segera turun lewat jendela. Sebenarnya aku sudah sering melakukannya karena efektif tidak ketahuan Pak Darmo. Aku langsung keluar dari pagar dan kulihat ketiga temanku di dalam mobil. Aku segera masuk dan bertanya mengapa menyuruhku keluar malam-malam begini. Dengan mudah, Reno menjawab kalau ia sedang bosan dan ingin bersenang-senang. Aku sedikit kecewa, namun tak masalah bagiku karena sebenarnya aku juga sedang badmood karena Fero, pacarku. Akhir-akhir ini sepertinya ia menjauhiku tanpa alasan yang jelas. Aku merasa tidak berbuat salah apapun padanya. Sudah seminggu ini ia menghindariku di sekolah dan tidak merespon setiap telepon maupun BBM dariku.
Kami tiba di suatu tempat yang sering kami datangi, sebuah diskotik di Jakarta Pusat. Ketiga temanku langsung masuk dan bergabung di kerumunan lantai dansa sementara aku hanya duduk menyendiri di sudut diskotik itu sambil merokok. Rokok sudah merupakan hal biasa bagiku, Reno yang pertama kali mengenalkanku pada rokok. Katanya seorang pria dapat dikatakan jantan kalau ia merokok. Bahkan Pak Darmo pernah dipanggil ke sekolah karena aku ketahuan merokok di kamar mandi. Pak Darmo memarahiku hari itu dan berakhir dengan aku keluar dari rumahnya lalu menginap di rumah Alfin malam itu. Aku sendiri jadi heran pada diriku sendiri, dulu aku sangat hormat dan menurut kepada Pak Darmo, namun sekarang aku malah mengecewakannya padahal beliau begitu baik kepadaku. Terbesit pikiran apakah aku harus berubah, namun aku segera melupakannya sepulang dari diskotik malam itu. Diskotik memang tempat yang tepat untuk melupakan segala masalah namun juga sebagai penghalang saat aku mempunyai pikiran untuk merubah diriku.
Doni datang kepadaku dengan sebotol bir ditangannya. Diserahkannya bir itu kepadaku namun aku menolak. Ia terus memaksaku meminumnya dengan alasan bahwa minuman itu dapat menyelesaikan segala masalahku. Aku tahu itu hal bodoh, namun karena penasaran aku meminumnya satu teguk. Pahit. Itu yang aku rasakan. Aku heran mengapa banyak orang meminumnya padahal rasanya tidak enak. Sesaat kemudian, aku merasakan kepalaku sangat pusing. Namun ajaibnya, aku dapat melupakan masalahku dan merasa senang malam itu. Aku ambil botol bir itu dan meminumnya beberapa teguk lagi.

***
Besok pagi adalah ujian nasional SMA. Namun malam ini aku masih di rumah Doni. Bukannya belajar tetapi malah bermain playstation. Aku tahu ini salah, setidaknya aku harus belajar sedikit untuk persiapan besok. Selama ini aku tidak pernah belajar, aku dan ketiga temanku selalu mendapat nilai baik karena kami menyontek pekerjaan teman. Saat ujian kenaikan kelas kemarin, kami membayar seorang teman yang cukup pintar di kelas lain dan kebetulah ia sedang membutuhkan uang untuk pengobatan ibunya. Namun untuk ujian nasional besok, aku belum mempersiapkan apa-apa. Aku coba memberanikan diri untuk bertanya kepada mereka bagaimana persiapan mereka untuk ujian besok.
“Gue sih tenang aja, bokap gue udah bayar mahal pegawai dari percetakan ujian nasional buat ngasih bocoran soal ke gue. Guru les gue pasti lagi ngerjain soalnya sekarang. Tinggal kasih ke gue deh jawabannya besok pagi.” Jawab Reno enteng.
“Gue udah ngehubungi salah satu temen gue yang katanya kenal sama agen kunci jawaban ujian nasional. Simple and gak ribet.” Jawab Doni sambil terus fokus pada permainannya.
“Kalo gue pake cara yang nggak mainstream kayak lu pada. Inget kan cewek cupu yang ngejar-ngejar gue sejak kelas 11? Dia kan pinter tuh, dan kebetulan kode soalnya sama kayak gue. Ya udah gue suruh aja dia nyontekin gue besok. Hahaha.” Kata Alvin sambil tertawa.
Mati aku. Aku lupa mereka anak orang kaya dan bisa melakukan apa saja, sedangkan aku hanya anak angkat seorang pengusaha yang cukup sukses. Aku panik karena hanya aku yang belum mempersiapkan apa-apa. Aku mencoba minta tolong kepada Reno. Namun ia menolak dengan alasan waktunya sudah terlalu terlambat dan semua soal sudah didistribusikan ke sekolah-sekolah. Selain itu, kode soal kami juga berbeda. Aku tidak menyerah, lalu meminta tolong kepada Doni.
“Don, bisa gak lo hubungi agen lo buat ngasih jawaban gue juga?” tanyaku berharap.
“Bisa, tapi lo mesti transfer duitnya sekarang. Sekitar 50 juta, gimana?” jawab Doni.
“Gue mana punya duit segitu? Kok lo juga gak ngasih tau gue sejak awal sih, kan gue bisa siapin! Brengsek lo!” kataku dengan nada tinggi.
“Mana gue tau lo butuh agen juga. Kita semua kan juga usaha sendiri-sendiri! Dan lo ngatain gue brengsek? Sekarang keluar dari rumah gue. Gue nggak mau liat muka lo lagi” sahutnya dengan nada yang tak kalah tinggi.
Reno dan Alfin tidak berbuat apa-apa dan cenderung membiarkanku tanpa berusaha membantu. Aku merasa dihianati, padahal selama ini aku selalu bersama mereka dan membantu apabila ada yang meminta bantuanku. Namun ternyata ini yang kudapat dari mereka. Aku keluar dari rumah Doni tanpa melihat ke arah mereka lagi. Aku bertekad tidak akan menemui penghianat-penghianat itu. Aku mencoba menghubungi Fero lagi, ternyata temannya yang menjawab. Ia memberitahuku supaya jangan mengganggu Fero lagi. Ia juga mengatakan kalau Fero sebenarnya tidak benar-benar menyukaiku dan hanya menjadikanku taruhan saja. Setelah jadian denganku dan memenangkan taruhan itu, ia mencampakkanku sekarang. Di tengah perjalananku pulang, aku membeli dua botol bir. Aku mabuk sampai pagi dan berangkat ke sekolah dengan sangat berantakan dan tanpa belajar sedikitpun.

***
Sudah sebulan lebih aku tidak bertemu dengan ketiga temanku yang sekarang menjadi musuhku. Aku sering pergi ke diskotik sendiri dan mabuk saat aku sedang teringat tentang mereka. Besok pagi adalah pengumuman kelulusan. Pak Darmo dan istrinya sudah mempersiapkan baju dan mobil yang akan mereka pakai saat ke sekolahku besok. Aku tidak berani mengatakan masalahku kepada mereka. Aku hanya menjawab iya saat ditanya apakah aku menyelesaikan ujianku dengan baik.
Aku tahu aku pasti tidak lulus dan seorang guru pasti akan datang malam ini ke rumah Pak Darmo untuk memberikan surat pernyataan bahwa aku tidak lulus. Oleh karena itu, aku tidak berani masuk rumah. Aku duduk di sebuah pos kamling kecil di dekat rumah Pak Darmo. Benar saja, Pak Bram, guru Matematiku datang ke rumah Pak Darmo. Aku berlari dari tempatku meskipun aku tidak tahu harus pergi kemana. Aku malu dan tidak tega melihat Pak Darmo saat membuka surat itu. Tujuanku hanya satu, diskotik.
Aku terbangun mendengar suara keras di dekatku. Ternyata semalaman aku tertidur di diskotik setelah mabuk berat. Aku segera bangun dan meninggalkan tempat itu. Lagi-lagi aku bingung harus pergi kemana. Tidak mungkin kembali ke rumah Pak Darmo lagi, aku terlalu malu untuk kembali. Tujuanku sekarang tinggal satu, rumahku di Jogja. Berbekal dompet yang berisi ATM pemberian Pak Darmo, aku pergi ke terminal dan membeli tiket tujuan Jogja. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan sesampainya disana nanti. Aku hanya ingin pulang karena ibukota ternyata tidak membawa kebahagiaan bagiku.
Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, sampailah aku di terminal Giwangan. Sepanjang perjalanan tadi, aku teringat semua yang terjadi padaku saat di Jakarta. Aku juga teringat Simbok yang jarang sekali aku hubungi. Tidak bisa aku bayangkan betapa hancur perasaannya melihat anak yang selama ini dibanggakannya gagal. Aku juga teringat tentang masa kecilku yang menyenangkan di lereng Merapi. Rasanya menyesal telah mengambil keputusan untuk meninggalkan desa yang damai itu dan memilih Jakarta yang keras. Entah berapa air mata yang telah keluar teringat semua itu.
Aku naik angkot dari terminal Giwangan dan berhenti di depan sekolah lamaku. Ternyata sedang upacara bendera. Aku berdiri cukup lama disitu. Pembina upacara adalah Pak Agus, guru Agama yang dulu sangat dekat denganku dan aku anggap seperti ayahku sendiri. Beliau sempat tersenyum kepadaku saat mengetahui aku berdiri di depan sekolah. Aku mendengarkan saat beliau menyampaikan amanat. Beliau menyampaikan tentang keadaan pemuda saat ini yang tidak mau berusaha keras dan menggunakan masa muda mereka dengan sia-sia. Banyak pemuda jaman sekarang yang terjerumus pada kenakalan remaja seperti tawuran, minuman keras, dan narkoba. Daripada mempersiapkan diri untuk masa depan, mereka memilih untuk bersenang-senang tanpa berpikir kedepan. Aku merasa Pak Agus membicarakanku. Mungkin berita tentang diriku sudah menyebar sampai ke desa dan Pak Agus juga mengetahuinya. Aku semakin terpuruk dan termenung di tempat itu selama beberapa saat, memikirkan apa yang akan aku lakukan setelah ini. Di akhir amanatnya, Pak Agus berbaicara sambil menatap mataku.
“Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan. Namun, kesalahan yang lebih besar adalah terpuruk menyesali kesalahannya itu tanpa berusaha memperbaikinya. Semua orang mempunyai kesempatan kedua untuk bisa lebih baik lagi. Harapan itu selalu ada untuk orang berusaha dan berjuang!”

Tiba-tiba aku dapat merasakan semangat untuk berubah di diriku saat mendengar hal itu. Belum terlambat untukku memperbaiki kesalahan yang aku perbuat. Aku segera berlari menuju rumahku di desa dengan perasaan lega. Hal-hal yang seharusnya aku perbuat muncul begitu saja di kepalaku. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan kedua ini dan menjadi lebih baik lagi.

Sari Wahyuning Tyas, Pendidikan IPA UNY

0 comments:

Posting Komentar