Departemen Jurnalistik Himpunan Mahasiswa Kimia UNY Periode 2014

Inspirasimu, Inspirasiku, Untuk HIMAKI, Kita Berkarya

Tampilkan postingan dengan label Referensi Bahan Kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Referensi Bahan Kuliah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Mei 2014

Fenolftalein

Hai, sobat kimia. Pasti kamu-kamu sudah tidak asing lagi dengan fenolftalein atau biasa disebut indikator pp kan? Kali ini kami akan membahas indikator asam-basa yang satu ini sob. Dibaca sampai selesai ya!

Fenolftalein adalah senyawa organik yang mempunyai rumus C20H14O4, berbentuk padatan kristal, tidak berwarna serta larut dalam alkohol dan pelarut organik. Fenolftalein biasanya digunakan sebagai indikator asam-basa (di dalam larutan asam tidak berwarna dan di dalam larutan basa berwarna merah/fuchsia).
Cara pembuatan larutan fenolftalein adalah dengan melarutkan padatan pp pada alkohol 96%. pp lebih mudah larut dalam alkohol dibandingkan dengan air. Kita hanya memerlukan sedikit bubuk pp saja dalam pelarutan ini (konsentrasi kecil).
Fenolftalein (pp) sendiri sebenarnya memiliki bentuk kompleks sesuai dengan pH larutan yang ada. Berikut adalah struktur senyawa pp pada berbagai pH :



Fenolftalein biasanya dipilih untuk indikator pada titrasi asam kuat - basa kuat, asam lemah - basa kuat, dan asam lemah - basa lemah. Hal ini dikarenakan titik akhir titrasi menggunakan fenolftalein mendekati titik ekivalen pada reaksi titrasi-titrasi tersebut, seperti gambar di atas. Pada umumnya perubahan warna yang digunakan menjadi indikasi adalah dari tidak berwarna menjadi berwarna pink atau sebaliknya karena asam dan basa yang digunakan tidak memiliki pH ekstrim. Berikut ini adalah kurva titrasi asam-basa.
Diagram berikut menunjukkan kurva pH untuk penambahan asam kuat pada basa kuat. 


Diagram berikut menunjukkan kurva pH untuk penambahan asam kuat pada basa lemah.



Diagram berikut menunjukkan kurva pH untuk penambahan asam lemah pada basa kuat.



Diagram berikut menunjukkan kurva pH untuk penambahan asam lemah pada basa lemah.


Semoga informasi tentang fenolftalein ini bermanfaat dan membantu sobat kimia ya. Jangan lupa terus berkunjung ke jukrihimaki.blogspot.com ya. Terima kasih telah berkunjung. Salam kimia! (Iwan)



Kamis, 20 Februari 2014

Contoh Senyawa Kompleks

Senyawa kompleks sangat erat dengan kehidupan manusia. Senyawa kompleks dikenal manusia sejak awal mula kemunculan ilmu kimia. Berikut ini adalah contoh senyawa kompleks, tiga di antaranya merupakan senyawa kompleks yang alami, sedangkan yang terakhir adalah buatan manusia. Inilah contoh senyawa kompleks.

Hemoglobin

Contoh senyawa kompleks yang pertama adalah hemoglobin. Hemoglobin merupakan salah satu komponen sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen merupakan salah satu senyawa kompleks dengan atom pusat Fe(II). Inilah rumus struktur hemoglobin tipe b.

struktur hemoglobin

Klorofil

Klorofil yang merupakan zat hijau daun dan berperan aktif dalam proses fotosintesis adalah suatu senyawa kompleks dengan atom pusat Mg. Inilah contoh klorofil tipe c1.
struktur klorofil


Vitamin B12

Contoh senyawa kompleks yang lain adalah vitamin B12. Vitamin B12 merupakan salah satu senyawa kompleks dengan atom pusat Co. Strukturnya yang sangat kompleks membuat vitamin B12 sulit untuk diproduksi dalam industri. 

vitamin B12


EDTA

Kepanjangan EDTA adalah etilen diamin tetra asetat. EDTA banyak digunakan untuk memperkirakan kadar Mg2+ dan Ca2+ dalam air sadah.

EDTA

Sumber : www.ilmukimia.org

Ligan Senyawa Kompleks

Pengertian Ligan

Ligan adalah sebuah ion atau molekul netral yang mampu mengikat secara koordinasi atom atau ion logam pusat dalam senyawa kompleks. Ligan berperan sebagai basa Lewis (donor pasangan elektron), dan logam pusat yang mengikatnya berperan sebagai asam Lewis (akseptor pasangan elektron). Ligan mempunyai paling tidak satu atom donor dengan sepasang elektron yang digunakan untuk membentuk ikatan kovalen dengan atom atau ion logam pusat.

Jenis-jenis Ligan

Ligan Monodentat

Ligan monodentat hanya mempunyai satu atom donor yang digunakan untuk mengikat ion atau atom pusat. Contoh ligan monodentat adalah ion klorida (disebut klorido), air (disebut aqua), ion hidroksida (disebut hidroksido), dan amonia (disebut amina).

Ligan Bidentat

Ligan bidentat mempunyai dua atom donor dan keduanya dapat digunakan untuk mengikat ion atau atom pusat. Contoh ligan bidentat adalah etilendiamin (disingkat en) dan ion oksalat (disingkat ox). Gambar di bawah merupakan etilen diamin, dimana warna biru merupakan atom nitrogen. Masing-masing atom nitrohen mempunyai satu pasang elektron bebas yang dapat digunakan untuk mengikat ion pusat.
etilendiamin

Ligan Polidentat

Ligan polidentat mempunyai lebih dari dua atom donor yang digunakan untuk mengikat logam atau ion pusat. EDTA yang merupakan ligan heksadentat adalah contoh ligan polidentat. EDTA mempunyai enam atom donor yang mempunyai pasangan elektron yang dapat digunakan untuk mengikat logam atau ion pusat.

Khelasi

Khelasi merupakan proses dimana ligan polidentat mengikat ion logam membentuk suatu cincin. Kompleks yang dihasilkan melelui proses ini disebut khelat, dan ligan polidentat disebut sebagai agen khelasi. Contoh ligan yang mampu membuat khelasi adalah EDTA. Di bawah ini merupakan contoh kompleks logam-EDTA.
kompleks logam EDTA

Warna dan Sifat Magnet

Perubahan warna pada larutan disebabkan oleh penggantian ligan yang mengikat atom pusat. Walaupu demikian, bilangan oksidasi ion pusat tetaplah sama.

Deret Spektrokimia

Deret spektrokimia (spectrochemical series) merupakan susunan urutan ligan berdasarkan besar atau kecilnya energi pembelahan orbital d pada senyawa kompleks. Umumnya deret spektrokimia disusun dari kiri ke kanan, dimana ligan pada sisi kiri mempunyai pembelahan yang paling kecil (medan ligan kuat) dan ligan pada sisi kanan mempunyai pembelahan yang paling besar (medan ligan lemah). Deret spektrokimia ligan adalah:

I- < Br- < S2- < SCN- < Cl- < NO3- < F- < OH- < C2O42- < H2O < NCS- < CH3CN < NH3 < en < bipy <phen < NO2- < PPh3 < CNCO

Sumber : www.ilmukimia.org

Tata Nama Senyawa Kompleks

Tata nama senyawa kompleks dikembangkan karena banyaknya jenis senyawa kompleks yang bermunculan akhir-akhir ini oleh beberapa penelitian. Dahulu penamaan senyawa kompleks didasarkan pada warna yang bersangkutan. Namun sekarang ada standarisasi penamaan senyawa kompleks oleh IUPAC. Pemberian nama senyawa kompleks menurut IUPAC untuk senyawa kompleks sederhana mengadopsi sistem penamaan Stock dan Ewens-Basset.

ion senyawa kompleks
Cr(NH3)63+ diberi nama ion heksaaminakromium(III) atau ion heksaaminakromium(3+)

Inilah aturan tata nama senyawa kompleks:
  1. Jika senyawa kompleks bersifat molekuler atau netral, namanya ditulis hanya satu kata saja. Jika bersifat ionik, maka nama kation dipisahkan dan dituliskan lebih dulu kemudian diikuti nama anionnya seperti tata nama garam biasa.
  2. Nama ligan ditulis lebih dulu dan selanjutnya diikuti nama atom pusatnya. Untuk menyatakan banyaknya ligan dipakai awalan di, tri, tetra, penta, dan heksa. Untuk ligan yang kompleks (biasanya ligan organik) memakai awalan bis, tris, tetrakis, pentakis, dan heksakis.
  3. Jika ligan lebih dari satu macam, biasanya ditulis berdasarkan urutan alfabetik nama ligan, tidak termasuk awalannya.
  4. Ligan negatif mendapatkan akhiran "o" bagi nama kelompok aslinya yang berakhiran "at"maupun "it" dan akhiran "o (ido)" sebagai ganti akhiran "a (ida)" dari nama asli kelompoknya, sedangkan ligan netral sesuai nama molekulnya kecuali ligan-ligan khusus seperti H2O = aqua,NH3 = amina, CO = karbonil, NO = nitrosil.
  5. Nama atom pusat selalu diikuti langsung tanpa spasi dengan:
    • tingkat oksidasi yang ditulis dengan angka romawi di dalam tanda kurung kecil ()
    • muatan ion kompleks yang bersangkutan yang ditulis dengan angka arab yang diikuti tanda plus atau minus di dalam tanda kurung kecil ()
    • tingkat oksidasi (a) atau muatan ion (b) tidak perlu dituliskan jika penamaan menerapkan sistem stoikiometrik.
  6. Jika ion kompleks berupa anion, nama atom pusat diambil dari nama latinnya dengan akhiran"at" sebagai tambahan atau pengganti akhiran "um" atau "ium". Tetapi jika ion kompleks berupa kation atau kompleks netral, nama atom pusat sama dengan nama unsurnya.
  7. Alternatif lain adalah dengan menyebutkan proporsi stoikiometri entitas ion yang bersangkutan sebagai awalan pada kedua ionnya.

Berikut ini contoh penerapan tata nama senyawa kompleks:

Rumus MolekulNama Senyawa Kompleks

CaCl2.2H2O
kalsium klorida dihidrat (nama garam biasa)
K4[Fe(CN)6]kalium heksasianidoferat(II) atau kalium heksasianidoferat(4-) atau tetrakalium heksasianidoferat
[Cu(H2O)2(NH3)4]SO4tetraaminadiaquatembaga(II) sulfat atau tetraaminadiaquatembaga(2+) sulfat

[CoCl2(NH3)4]Cl
tetraaminadikloridokobalt(III) klorida atau tetraaminadikloridokobalt(1+) klorida
[Co(H2O)6]2+ion heksaaquakobalt(II) atau ion heksaaquakobalt(2+)
[Cr(NH3)6](NO3)3heksaaminakromium(III) nitrat atau heksaaminakromium(3+) nitrat
Co(py)2(NH3)2(NO2)2]NO3diaminadinitrodipiridinkobalt (III) nitrat
[Ni(en)3](SO2)trisetilendiaminanikel(II) sulfat atau trisetilendiaminanikel(2+) sulfat

Senyawa Kompleks

Pengertian Senyawa Kompleks

Senyawa kompleks atau sering disebut dengan kompleks koordinasi adalah senyawa yang mengandung atom atau ion (biasanya logam) yang dikelilingi oleh molekul atau anion, biasanya disebut dengan ligan atau agen pengompleks. Contoh senyawa kompleks adalah cisplatin, yang mempunyai empat ligan, yaitu dua ligan klorido dan dua ligan amina.

senyawa kompleks
Cisplatin dengan rumus PtCl2(NH3)2 merupakan atom platina yang mengikat empat ligan.

Sejarah Senyawa Kompleks

Senyawa kompleks telah dikenal manusia sejak awal kemunculan ilmu kimia, misalnya adanya warna biru prusia (Prussian blue). Terobosan utama terjadi ketika Alfred Werner mengusulkan sebuah teori pada tahun 1893 bahwa Co(III) dapat mengikat enam ligan dalam geometri oktahedral. Teorinya memungkinkan peneliti untuk memahami perbedaan antara ikatan ion dan ikatan koordinasi dalam suatu senyawa, misalnya klorida dalam kobalt amina klorida dan dapat menjelaskan banyaknya isomer yang belum pernah dijelaskan sebelumnya.

Pada tahun 1914, Werner mengusulkan kompleks koordinasi pertama yang disebut heksol. Heksol mengandung isomer optik, dan mematahkan teori bahwa senyawa karbon saja yang bisa memiliki kiralitas.

Sifat Elektronik Senyawa Kompleks

Sifat-sifat kompleks logam ditentukan oleh struktur elektroniknya. Struktur elektronik dapat dijelaskan dengan model ionik yang mengandung muatan formal terhadap logam dan ligan. Pendekatan ini sering disebut sebagai Teori Medan Kristal (Crystal Field Theory, CFT). CFT diperkenalkan oleh Hans Bethe pada tahun 1929, yang menggunakan mekanika kuantum untuk menjelaskan senyawa kompleks.

Ada sebuah model yang lebih canggih yang menyangkut kovalensi, dan pendekatan ini disebut sebagai Teori Medan Ligan (Ligands Field Theory, LFT) dan teori orbital molekul (MO). Teori medan ligan, diperkenalkan pada tahun 1935 dan dibangun dari teori orbital molekul, dapat menjelaskan lebih luas tentang senyawa kompleks pada interaksi kovalen. 

Sumber : www.ilmukimia.org

Selasa, 18 Februari 2014

Superatom: Mengubah Atom Non-Magnet menjadi Atom Magnet


Kebanyakan atom atau unsur memiliki kecenderungan untuk membentuk molekul senyawa dengan karakteristik yang berbeda dengan unsur penyusunnya maupun unsur lain yang ada di tabel periodik. Namun beberapa unsur ditemui dapat membentuk kelompok atom yang menyerupai unsur lain di tabel periodik dengan karakter magnetik yang tidak biasa.
Suatu tim dari Virginia Commonwealth University telah menemukan suatu jenis baru superatom. Superatom ini terdiri dari atom magnesium yang termagnetisasi, meskipun magnesium alami tidak memiliki aktivitas magnetisme. Tim ini melaporkan bahwa superatom ini terbentuk dari logam pusat besi (Fe) dan 8 atom magnesium (Mg) membentuk struktur yang stabil menyerupai ikosahedral. Klaster ini membentuk semacam magnet kecil dengan sumber magnet berasal dari logam besi dan magnesium yang termagnetisasi. Kombinasi ini sesuai dengan kekuatan magnet dari satu atom Fe dengan distrbusi elektron spin tertentu yang merata di seluruh bagian klaster. Hasil riset mereka telah dipublikasikan pada Proceedings of the National Academy of Sciences.
Riset yang didukung oleh U.S Department of Energy ini membuka peluang ditemukannya metode yang lebih efisien untuk mengubah atom yang tidak bersifat magnet menjadi magnet melalui pengaturan atom magnet tunggal. Meskipun terdapat lebih dari seratus unsur pada tabel periodik, hanya terdapat 9 unsur yang memiliiki karakter magnet pada keadaan padat. Kombinasi antara karakter magnet dan konduktivitas dari superatom ini juga menjadi keuntungan.Magnesium merupakan konduktror listrik yang baik sehingga superatom ini menggabungkan karakter magnet dan konduktivitas listrik pada kulit terluar.
Kestabilan superatom ini dipengaruhi oleh struktur elektronik dari masing-masing penyusunnya. Kelompok superatom dengan delapan atom magnesium menambah kestabilan karena orbital valensi elektron yang terisi penuh. Orbital valensi yang penuh ini lebih sulit dipisahkan dibandingkan dengan orbital yang kosong atau setengah terisi sehingga menjadi lebih stabil. Orbital valensi yang penuh ini ditemui pada golongan gas mulia.

Kombinasi antara karakter kemagnetan dan konduktivitas listrik dari superatom ini dapat digunakan untuk aplikasi perangkat “elektronik molekular”. Teknologi semacam ini dapat menciptakan perkembangan di dunia komputer kuantum dengan prosesor yang lebih cepat, penyimpanan data yang lebih besar, dan sistem pengolahan data yang lebih terintegrasi.

Minyak Atsiri dari Daun Jeruk Purut: Proses Penyulingan dan Ekstraksi

Minyak atsiri dari jeruk purut dapat diperoleh dengan melakukan penyulingan. Namun sebelum menjelaskan tentang proses penyulingan tersebut, ada baiknya jika meninjau lebih jauh tentang tanaman jeruk purut ini.

Jeruk Purut Penghasil Minyak Atsiri


Jeruk purut adalah salah satu anggota suku jeruk-jerukan, Rutacea, dari jenis Citrus. Nama latinnya adalah Citrus hystrix. Buahnya tidak umum dimakan, karena tak enak rasanya. Banyak mengandung asam dan berbau wangi agak keras.  Tinggi pohonnya antara 2-12 meter. Batangnya agak kecil, bengkok atau bersudut dan bercabang rendah. Batang yang telah tua berbentuk bulat, berwarna hijau tua, polos atau berbintik-bintik. Daun jeruk purut berwarna hijau kekuningan dan berbau sedap. Bentuknya bulat dengan ujung tumpul dan bertangkai. Tangkai daun bersayap lebar, sehingga hampir menyerupai daun. Daun ini banyak dipakai untuk bumbu masakan. Buah jeruk purut lebih kecil dari kepalan tangan, bentuknya seperti buah pir, tetapi banyak tonjolan dan berbintil. Kulit buahnya tebal dan berwarna hijau. Buah yang matang benar berwarna sedikit kuning. Warna daging buahnya hijau kekuningan, rasanya sangat masam dan agak pahit.


Proses Penyulingan dan Ekstraksi Minyak Atsiri

Jika daun jeruk purut itu disuling, dihasilkan minyak atsiri yang dari tidak berwarna (bening) sampai kehijauan (tergantung cara ekstraksi), minyak atsiri berbau harum mirip bau daun (jeruk purut). Minyak atsiri hasil destilasi (penyulingan) menggunakan uap mengandung 57 jenis komponen kimia. Yang utama dan terpenting adalah sitronelal dengan jumlah 81, 49%, sitronelol 8,22%, linalol 3,69% dan geraniol 0,31%. Komponen lainnya ada dalam jumlah yang sedikit.

Ekstrasi yang dilakukan menggunakan pelarut meliputi persiapan bahan, mencampur, mengaduk dan memanaskan bahan dan pelarut serta memisahkan pelarut dari minyak atsiri. Metode ekstraksi yang digunakan antara lain destilasi uap, destilasi dengan cara Likens-Nickerson, maserasi dan perkolasi.

Pelarut yang banyak digunakan untuk mengekstraksi minyak atsiri adalah etanol, heksana, etilen diklorida, aseton, isopropanol dan metanol. Penyulingan atau destilasi uap dilakukan dengan cara menimbang daun jeruk purut sesuai dengan kapasitas tangki penyulingan, kemudian dirajang (dipotong kecil-kecil). Proses penyulingan minyak atsiri dilakukan selama 6 jam. Minyak atsiri yang diperoleh dipisahkan dari air dengan menggunakan labu pemisah minyak. Destilasi menggunakan alat yang sama dengan destilasi uap, hanya rajangan daun jeruk purut langsung dicampur dengan air dan dididihkan. Dalam destilasi uap, rajangan dipisahkan dari air mendidih oleh suatu kawat kasa, hingga hanya terkena uapnya. Proses penyulingan dan pemisahan minyak atsirinya juga sama.

Cara Likens-Nickerson (alatnya disebut ekstraktor Lickens-Nickerso) merupakan ekstraksi minyak atsiri dalam skala laboratorium. Rajangan daun jeruk purut dicampur dengan air suling, lalu diletakkan dalam labu erlenmeyer 1 liter. Pelarut ditempatkan dalam labu didih 50 ml (labu ini berhubungan dengan labu erlenmeyer melalui pipa gas dan kondensor). Kedua labu dipanaskan sampai mendidih hingga minyak atsiri tersuling secara simultan selama 3 jam. Pemisahan minyak atsiri dari pelarutnya dilakukan dengan penguapan pada tekanan rendah. Pada cara maserasi, daun jeruk purut yang telah dihancurkan direndam dalam tangki tertutup dan didiamkan beberapa hari. Selama itu dilakukan pengadukan beberapa kali supaya larutan minyak atsiri merata. Selanjutnya dilakukan penyaringan dan pengepresan, hingga diperoleh cairan pelarut. Penjernihan dilakukan dengan pengendapan atau penyaringan. Sedangkan perkolasi adalah melarutkan minyak atsiri dari hancuran daun jeruk purut dengan pelarut yang mengalir. Seperti halnya maserasi, daun dihancurkan lebih dulu supaya ekstraksi berlangsung lebih cepat. Hancuran jeruk purut itu kemudian dialiri dengan pelarut pada sebuah perkolator. Setelah proses dianggap selesai, cairan yang diperoleh dipisahkan minyak atsirinya dengan cara penyulingan.

Sumber : artikelkimia

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pergeseran Kesetimbangan

Pergeseran Kesetimbangan dapat terjadi karena dipengaruhi beberapa faktor. Menurut asas Le Chatelier sendiri sebagai ilmuwan, Jika sutu sistem kesetimbangan diberikan aksi-aksi tertentu, maka sistem akan mengadakan reaksi yang cenderung menghilangkan pengaruh aksi yang diberikan. Cara sistem bereaksi adalah dengan melakukan pergeseran, baik ke kanan maupun ke kiri.


Berikut ini faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran kesetimbangan, yaitu:

  • Faktor Konsentrasi; jika konsentrasi reaksi diperbesar, maka kesetimbangan reaksi akan bergeser ke kanan begitupun sebaliknya
  • Faktor Tekanan; jika tekanan reaksi diperbesar tetapi volume diperkecil, pergeseran kesetimbangan reaksi akan menuju ke arah bagian yang jumlah koefisiennya kecil,

  • Faktor Suhu; jika suhu suatu sistem dinaikkan, maka sistem akan bereaksi dengan menurunkan suhu, kesetimbangan akan bergeser ke bagian reaksi yang menyerap kalor atau dikenal dengan reaksi endoterm. Begitupun sebaliknya, jika suhu diturunkan maka kesetimbangan akan bergeser ke bagian yang melepaskan kalor atau disebut dengan reaksi eksoterm.
  • Faktor Katalis; Katalis itu sendiri adalah sebuah zat yang dapat mempercepat reaksi namun akan kembali ke wujudnya semula ketika reaksi telah selesai. Katalis dapat memperbesar laju reaksi karena menurunkan energi aktivasi. Dengan menggunakan katalis, suatu reaksi dapat dijadikan berjalan lambat ataupun cepat, sesuai yang dibutuhkan. Katalis juga penting untuk reaksi yang berlangsung pada suhu tinggi karena dengan menggunakan katalis maka reaksi dapat diatur agar tetap berlangsung pada suhu rendah.
Jadi, faktor-faktor tersebut di atas dapat menjadi bagian penting dalam terjadinya pergeserean kesetimbangan kimia.

Sumber : artikelkimia

Jumat, 06 Juli 2012

Pemanasan Global Meningkatkan Kapasitas Pohon Untuk Menyerap Karbon


Saat ini pemanasan global telah berada pada tingkat yang semakin mengkhawatirkan hingga diperlukan langkah-langkah untuk mencegah dan menguranginya. Salah satu cara yang paling efektif adalah dengan menanam lebih banyak pohon dan melindungi hutan. Pohon dan tetumbuhan lainnya menyerap karbon dioksida selama proses fotosintesis. Proses ini mampu mengurangi gas rumah kaca yang paling melimpah di atmosfer tersebut dan menyimpannya di dalam jaringan kayu.
Suatu riset terbaru yang dipimpin oleh Jerry Melillo dari Marine Biological Laboratory (MBL) selama 7 tahun memperlihatkan bahwa pemanasan global dapat mempengaruhi kapasitas penyimpanan karbon dari pohon. Studi ini dilakukan di hutan Harvard tengah kota Massachussets dengan luas sekitar seperempat acre (sekitar 1000 m2). Hutan ini dihangatkan secara buatan sekitar 9°F di atas suhu normal untuk mensimulasikan keadaan pemanasan global dan respon tumbuhan terhadap kondisi tersebut.
Studi sebelumnya menjelaskan bahwa naiknya temperatur tanah dapat meningkatkan dekomposisi materi organik tanah sehingga pelepasan karbon dioksida juga meningkat. Tetapi studi ini juga menunjukkan bahwa temperatur yang lebih hangat menstimulasi tumbuhan untuk menyerap lebih banyak karbon sebagai jaringan kayu. Hal tersebut dipengaruhi oleh senyawa nitrogen yang terbentuk saat temperatur tanah meningkat. Sebagian besar hutan di daerah subtropis hingga sedang, seperti di daerah Amerika Utara, Eropa, dan Eurasia kekurangan senyawa nitrogen untuk tumbuh kembangnya. Sehingga dengan meningkatnya senyawa nitrogen yang diserap tumbuhan dapat mempercepat pertumbuhannya.
Pemanasan pada tanah membuat senyawa nitrogen yang terdapat pada materi organik tanah terlepas sebagai senyawa nitrogen anorganik seperti ammonium. Ammonium merupakan komponen utama yang terdapat pada pupuk buatan. Ketika tumbuhan menyerap senyawa nitrogen anorganik ini pertumbuhannya akan semakin cepat dan mampu menyerap lebih banyak karbon.
Proses biologis yang menghubungkan pemanasan tanah, meningkatnya penguraian materi organik, peningkatan senyawa nitrogen, dan peningkatan pertumbuhan pohon terlihat berhubungan erat untuk hutan daerah subtropis. Namun hasil studi ini kurang relevan diterapkan untuk hutan tropis karena studi ini dilakukan di daerah hutan subtropis yang kekurangan nitrogen. Sementara hutan tropis melimpah akan senyawa-senyawa nitrogen.
Sumber : chem-is-try.org

Diambil dari Buletin Alchemist Edisi II Tahun 2012

Mengapa gelembung sabun berbentuk bulat?


Coba kita pikir begini, Tidak akan terkejutkah Anda bila bentuk gelembung itu persegi? Itu karena semua pengalaman kita sejak bayi mengatakan bahwa hukum alam lebih menyukai bentuk-bentuk yang mulus. Memang tidak banyak benda alami yang memiliki ujung tajam atau membentuk sudut ganjil. Pengecualian yang penting dalam hal ini adalah kristal-kristal mineral tertentu, yang cantik justru karena memiliki bentuk-bentuk geometris serba tajam. Itu mungkin sebabnya mengapa sebagian orang percaya bahwa kristal-kristal dan piramida memiliki supranatural.
Akan tetapi itu metafisika, bukan sains. Gelembung-gelembung bundar–berbentuk bola–karena ada suatu gaya tarik menarik yang disebut tegangan permukaan yang menarik molekul-molekul air sekuat mungkin antara sejumlah partikel adalah ketika mereka membentuk sebuah bola. Di antara semua bentuk yang mungkin, kubus, piramida, bongkahan tak beraturan–bola memiliki luas sebelah luar paling kecil.
Segera setelah Anda melepaskan sebuah gelembung dari pipa tiup atau dari salah satu peralatan lebih modern, tegangan permukaan membuat lapisan tipis air sabun mencari luas permukaan yang sekecil mungkin. Maka terjadilah sebuah bola. Andaikata Anda tidak dengan sengaja memerangkapkan udara didalamnya, air sabun akan terus menyusut membentuk sebuah titik bola padat, seperti yang terjadi pada air hujan.
Akan tetapi udara di dalam mendorong ke arah luar, menahan selaput air. Semua gas memberikan tekanan pada wadah penyimpanan mereka karena mereka terdiri atas molekul-molekul terbang bebas yang terus membentur apa pun yang menghalangi. Dalam sebuah gelembung, gaya-gaya tegangan permukaan ke arah dalam pada selaput air diseimbangkan dengan tepat oleh gaya mendorong keluar oleh udara dari dalam. Jika ada perbedaan sedikit saja, gelembung entah akan mengeceil atau mengembang sampai keduanya sama besar.
Cobalah meniupkan udara lebih banyak untuk membuat gelembung lebih besar. Itu sama dengan menambahkan tekanan udara di sebelah dalam. Yang dapat diperbuat oleh selaput air untuk mengimbangi kenaikan tekanan ke luar adalah memperluas permukaannya. Ini dapat menyebabkan bertambah besarnya gaya-gaya tegangan permukaan ke arah dalam. Maka gelembung itu secara serentak memperbesar ukurannya. Namun dalam proses tersebut selaput air semakin tipis, pasalnya persediaan air memang terbatas. Apabila Anda terus menambahkan udara ke dalamnya, akhirnya selaput tadi tidak memiliki cadangan air lagi untuk memperluas permukaan. Akibat buruknya mulai ditebak. Gelembung-pun meletus.
Hal yang tepat sama juga terjadi pada permen karet, kecuali bahwa ahli-ahli tegangan permukaan ke arah dalam, gaya yang cenderung memperkecil gelembung atau balon berasal dari elastisitas karet dalam permen Anda. Elastisitas, seperti tegangan permukaan, seolah-olah berkata: “Kalau boleh, aku ingin menjadi bola yang sekecil mungkin”.
Sumber : http://www.chem-is-try.org

Diambil dari buletin Al-Chemist Edisi I tahun 2012

Jumat, 29 April 2011

Bahan Kimia Mudah Terbakar

1.    PENGERTIAN
 
Bahan Kimia Mudah Terbakar  : Bahan kimia yang mudah bereaksi dengan oksigen dan dapat menimbulkan kebakaran. Reaksi kebakaran yang amat cepat dapat juga menimbulkan ledakan.

2.    JENIS DAN CONTOH
 
1)    Zat  Padat  Mudah  Terbakar
a)    Belerang / Sulfur (S)


b)    Fosfor Kuning (P4)


c)    Hidrida Logam
d)    Logam dalam keadaan murni (aluminium, Magnesium, Zink/Seng)

Seng

Aluminium

Magnesium

e)    Bila kontak dengan air (Kalium, Natrium)

2)    Zat  Cair  Mudah  Terbakar

a)    Eter (R—O—R‘)
b)    Benzena (C6H6)
c)    Aseton (CH3COCH3)
d)    Spiritus / metanol (CH3OH)
e)    Ester (R-COOR’)
f)    Karbon Disulfida (CS2)
g)    Asetaldehid
h)    Asam Asetat (CH3COOH)
i)    Petroleum Eter 

3)    Gas  Mudah  Terbakar

a)    Gas Alam
b)     Asetilen (C2H2)
c)     Hidrogen (H2)
d)     Etilen Oksida
e)    Metana (CH4)
f)     Karbon monoksida (CO)
g)     Butana (CH3CH2CH2CH3)
3.    SIFAT  FISIK

1)    Padatan mudah terbakar
Pada temperatur dan tekanan standar (25oC dan 760 mmHg) menunjukkan  titik nyala kurang dari 40oC (berdasarkan hasil pengujian "Seta Close Cup Flash Point“)

2)    Cairan mudah terbakar
Titik nyala: 21-55oC pada tekanan 1 atm 

3)    Cairan sangat mudah terbakar
Titik nyala: <21oC , dan titik didih >20 oC pada tekanan 1 atm

4)    Gas mudah terbakar
Titik didih: <20oC pada tekanan 1 atm

4.    SIFAT  KIMIA

1)    Zat  Padat  Mudah  Terbakar 
a.   Peka terhadap peledakan (akan meledak jika direaksikan dengan air).
b. Bahan reaktif termal yang tidak stabil dan dapat mengalami dekomposisi sangat eksotermik (panas-berkembang) bahkan tanpa partisipasi oksigen (udara). 
c.   Padatan yang siap terbakar, contohnya padatan yang menyebabkan kebakaran melalui gesekan, misalnya korek api. Bahan piroforik, yaitu bahan yang dapat terbakar tanpa sumber api luar selama lima menit setelah melakukan kontak dengan air.

2)    Zat  Cair  Mudah  Terbakar
a. Mudah menguap atau volatik.
b. Uap cairan dapat terbakar (menimbulkan api) dalam kondisi normal.
c. Uap cairan lebih mudah menimbulkan api  atau ledakan jika dibandingkan dengan cairannya.
d. Kecepatan penguapan bervariasi dari satu cairan ke cairan lainnya sebanding dengan naiknya suhu.
e. Uap dari cairan yang mudah terbakar tidak dapat dilihat sehingga sulit untuk mendeteksinya kecuali digunakan indikator gas yang mudah terbakar.
f. Sebagian besar uap lebih berat daripada udara sehingga cenderung ada di permukaan lantai.
g. Uap cairan yang mudah terbakar mudah berdifusi.
h. Bahan yang dapat terbakar sendiri, yaitu bahan yang dapat menunjukkan pembakaran spontan atau pemanasan sendiri pada temperatur 200°C dalam 24 jam masa uji (disebut pembakaran spontan).

3)    Gas  Mudah  Terbakar 
a. Tidak berwarna.
b. Tidak berasa.
c. Tidak berbau. (TAPI  ada gas yang memiliki bau yang mencolok, yaitu Asetilen.)
5.    REAKSI  KIMIA

Bereaksi dengan oksigen, disertai dengan produksi panas yang kadang disertai cahaya dalam bentuk pendar atau api, misalnya :

CH4 + 2O2 ---> CO2 + 2 H2O + panas
CH2S + 6F2 ---> CF4 + 2HF + SF6 + panas
2H2 + O2 ---> 2H2O + panas (digunakan dalam mesin roket) 
 s
6.    SIMBOL  BAHAYA

F+ = sangat mudah terbakar
F = mudah terbakar

7.    KEGUNAAN

1)    Zat  Padat  Mudah  Terbakar 
a. Belerang (sulfur) : untuk pembuatan kertas sulfit dan kertas lainnya, untuk mensterilkan alat pengasap, dan untuk memutihkan buah kering.
b. Fosfor : digunakan pada ragaan tabung sinar katoda (CRT) dan lampu pendar.
c. Hidrida logam : untuk pereduksi, baik untuk pereduksi senyawa anorganik maupun senyawa organik.
d. Logam alumunium : sebagai peralatan dapur, bahan konstruksi bangunan
e. Logam magnesium : digunakan di fotografi, memproduksi grafit dalam cast iron, dan sebagai bahan tambahan conventional propellants.
f. Logam zinc (seng) : membentuk berbagai campuran logam dengan metal lain (contoh : kuningan, perak nikel, perunggu, perak Jerman, solder lunak dan solder aluminium).
g. Logam K (Kalium) : digunakan dalam sel foto listrik.
h. Logam Na (Natrium) : digunakan untuk memperbaiki struktur beberapa campuran logam, dan untuk memurnikan logam cair.

2)    Zat  Cair  Mudah  Terbakar
a. Eter : Sebagai pelarut dan obat bius (anestesi) pada operasi.
b. Benzena : sebagai pelarut dan sebagai bahan baku pembuatan senyawa-senyawa aromatik lainnya yang merupakan senyawa turunan benzena.
c. Aseton : sebagai pelarut, khususnya untuk zat-zat non polar dan kurang polar. Digunakan juga untuk membersihkan pewarna kuku (kuteks).
d. Spiritus / metanol : sebagai bahan pembuat bahan kimia lainnya (40% metanol diubah menjadi formaldehyde, lalu dijadikan produk seperti plastik, plywood, cat, dan tekstil) .
e. Ester : sebagai essens (penambah aroma) pada makanan.
f. Karbon disulfida : bahan baku atau bahan kimia yang dibutuhkan dalam pembuatan rayon, tekstil, selofan, karbon tetra klorida, aselerator, vulkanisasi karet, bahan aktif, fungisida, viskos, produksi cat mobil, serta bahan aditif dalam produksi ban mobil.
g. Asetaldehid : zat antara dalam produksi asam asetat, beberapa ester, dan zat-zat kimia lainnya.
h. Asam asetat : Pengatur keasaman pada industri makanan, digunakan dalam produksi polimer, bahan baku Vinil asetat, Selulosa asetat, Asetat Anhidrit, Ester Asetat, dan Garam Asetat.
i. Petroleum eter : digunakan sebagai pelarut dalam industri.

3)    Gas  Mudah  Terbakar
a. Gas Alam : sebagai bahan bakar.
b. Asetilen : pemotongan besi, pengelasan dan juga untuk mempercepat matangnya buah-buahan.
c. Hidrogen : mengikat nitrogen dengan unsur lain dalam proses Haber (memproduksi amonia) dan untuk proses hidrogenasi lemak dan minyak, bahan bakar roket, memproduksi asam hidroklorida, mereduksi bijih-bijih besi dan sebagai gas pengisi balon.
d. Etilen Oksida : sebagai bahan pensteril.
e. Metana : sebagai bahan bakar.
f. Karbon monoksida : digunakan pada proses pemurnian nikel.
g. Butana : sebagai bahan bakar.

8.    CARA  MENGGUNAKAN

1) Bahan tidak boleh dipanaskan langsung. Gunakan penangas uap atau penangas air.
2) Di laboratorium, sediakan dalam jumlah yang minimum. Pelarut yang tidak digunakan lagi dikembalikan ke botol pelarut.
3) Sediakan alat pemadam kebakaran. Bila terjadi kebakaran dengan api kecil gunakan kain basal atau pasir, tapi bila api besar gunakan alat pemadam.
4) Jangan membuang cairan yang mudah terbakar ke dalam bak cuci.
5) Pada saat memanaskan jangan mengisi gelas kimia dengan cairan mudah terbakar melebihi ½ kapasitasnya. Gunakan batu didih guna menghindarkan ledakan/letupan.
6) Botol penyimpanan bahan mudah terbakar jangan diisi sampai penuh, sediakan 1/8 isinya untuk udara. Gunakan botol yang tidak mudah terbakar dan jauhkan dan sumber perapian.
7) Kontrol semua bahan secara periodik.
8) Menggunakan pelindung diri.
9) Memasang detektor kebocoran gas.
10) Cairan yang mudah terbakar hanya boleh dikeluarkan dengan bantuan gas  inert

9.    CARA  MENYIMPAN

1) Bahan padat mudah terbakar disimpan di tempat sejuk, dijauhkan dari sumber panas, bahan lembab dan air, bahan pengoksidasi atau asam.
2) Jangan menyimpan cairan mudah terbakar dekat dengan bahan pengoksidasi atau bahan korosif.
3) Tempat penyimpanan harus cukup sejuk, dengan tujuan mencegah nyala jika uapnya tercampur udara.
4) Daerah penyimpanan harus terletak jauh dari sumber panas dan terhindar dari bahaya kebakaran.
5) Bahan padat mudah terbakar disimpan di tempat sejuk, dijauhkan dari sumber panas, bahan lembab dan air, bahan pengoksidasi atau asam.
6) Jangan menyimpan cairan mudah terbakar dekat dengan bahan pengoksidasi atau bahan korosif.
7) Tempat penyimpanan harus cukup sejuk, dengan tujuan mencegah nyala jika uapnya tercampur udara.
8) Daerah penyimpanan harus terletak jauh dari sumber panas dan terhindar dari bahaya kebakaran.
9) Tempat penyimpanan harus terpisah dari bahan oksidator kuat, bahan yang mudah menjadi panas dengan sendirinya, atau bahan yang bereaksi dengan udara atau uap air yang lambat laun menjadi panas.
10) Di tempat penyimpanan tersedia alat-alat pemadam api dan mudah dijangkau.
11) Menyingkirkan semua sumber api dari tempat penyimpanan.
12) Pada daerah penyimpanan dipasang sambungan tanah/arde serta dilengkapi alat deteksi asap atau api otomatis dan diperiksa secara periodik.
13) Di daerah penyimpanan dipasang tanda dilarang merokok.
14) Fosfor kuning akan terbakar bila berhubungan dengan udara. Simpan dalam air dan kontrol selalu permukaan airnya karena permukaan air akan menurun akibat penguapan.
15) Logam K dan Na akan terbakar jika kontak dengan air, simpan didalam minyak paraffin.

10.    EFEK

1.    Kebakaran
2.    Ledakan
3.    Keracunan Gas

11.    CARA  MENGATASI

a) Menghilangkan bahan yang dapat terbakar.
b) Membuang panas.
c) Mencegah masuknya oksigen ke dalam bahan yang terbakar.
d) Jika apinya kecil, maka lakukan pemadaman dengan Alat Pemadam Api Ringan (APAR).
e) Mematikan sumber listrik.
f) Melokalisasi api agar tidak merembet.
g) Menghubungi PBK (Pertolongan Bahaya Kebakaran) jika api membesar.
h) Bersikap tenang dalam menangani kebakaran, dan jangan mengambil tidakan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
i) Membawa korban keracunan gas ke tempat terbuka, dan segera dibawa ke rumah sakit.
j) Bila terjadi kebakaran logam Alumunium, Magnesium, dan Zink (seng) dalam keadaan murni, jangan gunakan pemadam berisi air tetapi gunakanlah serbuk pemadam.