Jumat, 19 Desember 2014

Secarik Kertas dalam Botol (Top 5)

            Berawal dari sebuah botol beserta secarik kertas.
            Botol yang penuh debu dan tiada arti.
            Kertas usang yang sama sekali tak bernilai materi.
            Dan seorang sahabat yang sama-sama dekil mencari jati diri.
            Namun,.....
***
            Ada sesuatu yang membuatku malas untuk bangun pagi ini. Kelelahan yang amat sangat membuatku tak mau beranjak dari tikar jerami yang kuanggap kasur empuk ini. Lubang yang ada di seng atap rumahku mengusik tidurku dengan sebuah cahaya menyilaukan tepat di atas mataku. Suara gaungan mesin-mesin yang amat keras seolah mempercepat aku untuk bangun. Tapi aku tak lupa untuk sholat subuh pagi tadi. Kelelahanku lah yang membuatku kembali tidur setelah sholat. Lelah, amat sangat lelah.
            Cahaya pagi yang amat menyilaukan ini memaksaku untuk kembali bergulat dengan keadaan. Ketika pagi menyongsong, pemandangan terindah yang kulihat adalah sebuah gunung. Bukan gunung merapi ataupun gunung Rinjani. Namun, sebuah gunung sampah yang amat tinggi. Disinilah aku tinggal. Di sebuah rumah yang beratapkan seng berlubang, berdinding triplek dan kardus kubuat berlapis-lapis supaya kokoh dan tak membuatku kedinginan di malam hari. Ketika hari sudah malam dan waktu tidur tiba, aku tak pernah absen melihat sebuah koran lama yang berisi tentang seorang dokter yang sangat hebat. Prestasinya mendunia dan banyak penghargaan yang telah ia dapatkan. Aku terus membacanya setiap malam karena kebetulan ayahku menambal tembok di kamarku dengan koran itu tepat di samping aku tidur.
            Hartono, atau lebih kerap disapa Harto. Aku hanyalah seorang anak kecil yang seharusnya terlahir seperti anak lainnya, umurku baru 5 tahun dan sudah harus bergelut dengan tumpukan sampah dan memilahnya menjadi barang yang dapat berguna lagi. Tapi aku tetap bersyukur karena bahagia melihat ibu dan seorang adik yang sehat dan selalu tersenyum menghibur ketika aku lelah dan bersedih. Seorang ibu adalah satu-satunya orangtuaku sekarang. Ayahku meninggal ketika umurku baru 3 tahun, dikarenakan sebuah kecelakaan di pabrik baja tempat ayahku bekerja. Aku harus membantu ibuku dalam mencari makan setiap hari.
***
            “Har, ayolah kasih tahu jawabannya!” Ardi memaksaku memberikan jawaban matematika ketika ulangan sedang berlangsung.
            Aku hanya diam dan tak bergerak menatap lembar jawab dan soal yang ada di depanku. Terus saja aku menghiraukan bisikan Ardi yang terus memaksaku memberikan jawaban ulangan ke dia. Hingga ulangan pun berakhir, Ardi terus memasang wajah masam kepadaku. Sontak ketika pak Budi guru matematikaku keluar ruangan, Ardi mendorongku hingga jatuh.
            “Teman macam apa kamu Har?! Apakah kau tega membuat temanmu sengsara dengan mati kutu seperti tadi? Ha? Jawab!” Ardi membentakku amat keras.
            “Aku takut Di, Aku takut dengan konsekuensi yang akan kudapatkan. Aku kasihan, aku kasihan dengan ibuku yang bersusah payah telah menyekolahkanku. Aku malu, aku malu ketika pemerintah memberikan bantuan dan aku menyia-nyiakannya dengan ketidakjujuran.Aku sedih, aku sedih jika Tuhan mencatat amal burukku dengan mencuri dan memberi jawaban. Apakah kau tak sadar dengan itu Di? Apakah kau pernah berpikir semua itu ketika kau mencontek??” Aku membalas Ardi dengan nada tinggi seolah ada uap panas di atas kepalaku.
            Ardi terdiam sejenak tak berkata sepatah katapun, lalu pergi keluar kelas dengan kepalan tangan yang masih bertahan di tangan kanannya. Itulah Ardi, teman SD ku yang amat jahat. Dia adalah seorang anak pengusaha yang amat kaya raya namun buruk kepribadiannya. Terkadang aku iri dengannya. Ketika sepulang sekolah aku harus bergelut dengan tumpukan sampah, Ardi hanya bermain dengan Play station kesukaannya. Rumahnya tak jauh dari bantar gebang tempat aku tinggal, hanya berjarak ratusan meter. Aku anggap itu jarak yang dekat karena setiap aku bekerja, berkilometer jarak pun aku tempuh.
            Aku telah menempuh pendidikan di SD karena adanya bantuan dari pemerintah hingga sekolah gratis. Tetapi, gratis ini ada tanggung jawab yang selalu mengikuti. Dalam bahasa jawanya, ‘Ojo njaluk ati, banjur ngrogoh rempelo’. Maksudnya bahwa ketika kita sudah diberi kebaikan, maka jangan minta yang lebih dan menyusahkan lagi, kita diberi kesempatan dan kita harus memaksimalkan kesempatan itu.
            Kehidupanku membaik setelah aku bersekolah. Buku aku tak membeli, bahkan biaya sekolah pun aku tak memikirkan. Ibuku selau menyemangatiku dan tak pernah mengeluh dengan keadaan. Keluargaku selalu bersyukur bahkan ketika nasi dan lauk pun menjadi barang langka untukku. Aku tak pernah menyesal dan tak pernah menghardik Tuhan. Karena seburuk atau sebaik apapun keadaan orang, maka Tuhan telah menyesuaikan kebutuhan orang itu. Tuhan memberikan apa yang hambanya butuhkan, bukan apa yang hambanya inginkan. Itu yang menjadi cambukan untukku saat ini.
            SD Negeri Sukamaju tempatku bersekolah. Hari itu hari selasa, ketika jam olahraga berlangsung, seperti biasa pak Yusron guru olahragaku yang terkenal killer sedang  memarahi anak yang tidak menggunakan sepatu. Aku pasti tidak pernah absen terkena hukuman.
            “Harto, Harto. Sudah diperingatkan bapak beberapa kali tetap saja bandel ya kamu!!!” Bentak pak Yusron dengan nada sedikit rendah dari biasanya.
            “M.mm..maaf pak, saya terpaksa melepasnya ketika olahraga pak, saya takut sepatu saya rusak dan saya hanya memiliki satu sepatu ini pak.” Jawabku dengan nada lirih dan amat pelan.
            Pak Yusron mengiyakan begitu saja apa yang aku katakan lalu pergi meninggalkanku tanpa sepatah katapun. Begitulah pak Yusron, misterius.
            Sepulang sekolah, aku selalu berjalan kaki menyusuri perumahan, kompleks pabrik, dan melewati gunungan sampah. Tak pernah ketinggalan, aku bersama dua orang sahabatku selalu pulang bersama. Ati, wanita yang lincah dan periang, dia merupakan anak seorang dosen di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Bersama Ahmad, seorang laki-laki yang kalem, penuh misteri, dan sangat setia kawan. Mereka lah sahabat terdekat yang selalu menemaniku  sampai aku kelas 5 SD ini.
            Tiba di persimpangan jalan, Ati berpisah dengan kami karena rumah Ati jauh dan dia harus di jemput bibinya. Namun aku dan Ahmad tetap berjalan kaki, karena sebenarnya Ahmad bernasib hampir sama denganku yaitu tinggal di sekitar bantar gebang. Namun, dia sudah memiliki rumah beratap dan bertembok. Kita sama-sama kesusahan. Pakaian yang kami kenakan pun jauh dari kesan bersih dan rapi. Yang ada hanya gatal dan bau. Meskipun usahaku untuk membuatnya bersih amat sangat menguras tenaga.Sampai di bantar gebang, aku bercerita kepada Ahmad.
“Mad, aku suatu saat nanti pengen jadi dokter nih, pengeeen banget nyembuhin pasien, beramal, bangun rumah buat ibu, nyekolahin adek, pokonya segalanya deh buat bekal akhirat.” Kataku
            “Serius kamu Har? Dokter tu mahal banget Har. Ratusan juta untuk kuliahnya. Bahkan kita ini orang yang bisa dibilang hanya pemimpi samping kota. Kau tahu lah kita ini anak kece bantar gebang yang susah Har. Kece tapi susah. Hahaha” Ahmad tertawa dan mengejekku dengan nada bercanda.
            “Aku janji Mad, aku janji!!!” aku berkata dengan nada tegas lalu mencengkram bahu Ahmad dan membawanya ke halaman belakang rumahnya.
            “Sini Mad. Aku membawa botol. Tolong carikan kertas dong!” aku memohon.
            “Buat apa Har?” kata Ahmad penasaran.
            “Sudah bawa kesini saja, oh iya sekalian bolpoin yaaaa!” Aku makin tak sabar menyuruh Ahmad.
            Lalu Ahmad duduk disampingku membawa secarik kertas usang dan bolpoin. Kemudian Ahmad mendekat kepadaku dan dengan mata berkaca-kaca, aku berkata perlahan padanya.
            “Mad, aku ingin kita menuliskan cita-cita pekerjaan kita suatu saat nanti di selembar kertas ini, kita berdua. Kau rahasiakan saja cita-citamu, dan pastinya kau sudah tahu bahwa cita-citaku akan menjadi dokter. Lalu setelah kita tulis, akan kumasukkan kertas ini ke dalam botol ini dan akan kupendam di sini sampai suatu saat nanti kita akan membacanya dalam keadaan sukses.” Aku bicara dengan bibir gemetar seolah-olah semua angan itu ada di depan mata.
            “Iya Har, aku janji kita akan bertemu lagi disini suatu saat nanti.” Kata Ahmad sambil mencoba memelukku dan menahan tangisan yang terbendung diantara kelopak bawah matanya.
***
            Waktu berlalu amat sangat cepat. Masa SD kulalui dengan berjuta rasa. SMP juga telah kulalui dengan lancar. Ahmad tak lagi satu SMP denganku, bahkan Ati juga berbeda SMP denganku.  Namun, seorang musuhku yaitu Ardi malah sekelas denganku ktika SMP. Hampir setiap hari aku di bully nya terus. Aku hadapi dengan kesabaran dan hanya kuanggap angin lalu yang mengganggu. Namun itu semua hanya masa lalu, saat ini masa SMA telah tiba. Dimana aku harus lebih dewasa dalam menghadapi hidup. Lebih dewasa dalam memilih teman, bahkan dewasa dalam mengambil keputusan.
            Aku lolos seleksi dan masuk SMA favorit dengan rata-rata nilai UN 9,2. Aku tidak bangga dengan nilai itu karena cita-citaku belum nampak. SMA N 1 Sukacita itulah SMA ku. Lagi-lagi aku harus berpisah dengan Ahmad dan Ati yang diterima di SMA 4 Sukacita karena tidak lolos seleksi masuk sekolahku. Dan parahnya lagi, aku kembali satu sekolah dengan Ardi. Aku akui dia anak yang pintar karena memang setiap hari dia les privat. Biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Namun, aku tak heran karena dia orang kaya. Dalam hati aku selalu bersedih ketika sahabatku selalu berpisah denganku, tetapi musuhku selalu satu sekolah denganku. Apa rencana Tuhan dibalik itu?
            Siangitu entah kenapa hari terasa sangat terik. Seperti biasa sewaktu pulang sekolah karena aku bersepeda dan kukayuh sekuat tenaga demi menaiki bukit dan menuruni lembah. Bukan bukit atau lembah sebenarnya, namun hanyalah tanjakan dan turunan yang amat terasa melelahkan jika siang terik seperti ini melaluinya. Aku terkadang merasa kecil hati melihat teman-temanku menyapa dengan menggunakan sepeda motornya. Tapi aku tak pernah menyerah. Toh aku dan mereka sama-sama memiliki satu tujuan yaitu menuntut ilmu. Entah mengapa hampir seluruh temanku gengsi untuk bersepeda. Padahal kan mengajarkan keprihatinan dan bagus untuk kesehatan.
            Saat itu aku pulang melewati perumahan dekat bantar gebang. Tak kulihat lagi anak kecil bermain bersama seperti dahulu ketika aku kecil. Mereka ramai hanya di warnet atau tempat PS. Bahkan anak-anak sudah dibelikan gadget dan tablet yang berisi game yang sifatnya individual. Aku tak habis pikir apa bahagianya mereka melakukan itu. Aku sama sekali tak memiliki HP. Setiap temanku ingin menghubungiku, aku meminjam HP ibuku yang kecil, butut, dan masih hitamputih. Karena itu satu-satunya HP yang kami punya.
            Sesampainya dirumah, aku mencari ibuk.
“Buk, Ibuk.” Panggilku
Namun tak ada suara yang terdengar. Aku mencari dan menanyakan kepada tetanggaku dimana ibuku berada. Namun sebelum aku sempat bertanya, sayup-sayup kudengar adiku menangis dan sedang bersama Bude. Aku penasaran apa yang terjadi.
“Ibuk dimana Bude? Lalu kenapa adik menangis seperti itu?” Aku makin panik tak karuan.
“Ibuk tidak apa-apa le, tadi ibuk pingsan dan muntah darah. Tapi sekarang sudah baikan kok le. Jangan panik.” Jawab Bude ku menenangkanku.
“Sekarang ibuk dimana bude? Ibuk sakit apa bude?” tanyaku
Bude lalu menjelaskan singkat apa yang terjadi pada ibuku. Dan biaya rumahsakit gratis karena ditanggung pemerintah. Aku tertunduk dan tak bisa apa-apa. Merunduk meratapi nasib.
Disaat temanku yang lain bermain ria, Les , bermain gadget, pergi ke Mall, belanja, dan hura-hura lainnya, aku hanya seperti ini meratapi nasib. Sudah miskin, ibuk sakit, tidak punya ayah, dan masih punya adik kecil. Tapi sekali lagi aku tak akan pernah menyerah. Itulah anak muda jaman sekarang. Tak bisa merasakan perjuangan keras seperti apa yang kurasakan saat ini.
***
Sejak saat itu Ibuku sering sakit-sakitan. Terkadang rumah sakit sering menolak Ibuku karena terlalu sering berobat. Namun, aku tak berhenti dan meratapi nasib. Aku berusaha mengumpulkan sampah banyak dan lebih sering demi membantu ibu. Sekolah pun aku tak melupakannya.
Saat ini aku sudah kelas XII SMA dan UN didepan mata. Aku belajar semaksimal mungkin dan bangun ketika temanku tidur. Disaat temanku foto selfie dan bermain facebook, aku belajar. Itulah anak muda jaman sekarang, tidak bisa memanfaatkan waktu. Ardi pun prestasinya semakin memburuk karena terjebak dengan pergaulan glamour di masa SMA.
Alhamdulillah UN berhasil kulalui dan tak disangka selama ini aku lulus UN SMA dengan nem 57,80 tertinggi di SMAku. Aku sangat bersyukur dengan itu. Aku ceritakan kepada Ibuku, dan Ibuku hanya tersenyum. Sementara nem sahabtku Ahmad 56,70. Dan Ati 56,90. Aku bangga dengan mereka. Musuhku Ardi hanya dengan nem 43,75 dar 6 mata pelajaran.
Sebelumnya aku mendaftar bidikmisi untuk kedokteran UI seperti cita-citaku. Sementara Ahmad dan Ati masih merahasiakannya. Aku menunggu lama setelah UN demi menanti pengumuman jalur undangan. Namun, apa bisa dikata. Alam tak memihak, Tuhan tak berkehendak. Aku ditolak dari jurusan kedokteran. Aku menangis sekuat tenaga. Aku lemah. Aku patah. Aku hancur
Pagi harinya, Ahmad mendatangi rumahku dan menceritakan dia diterima di kedokteran UNDIP. Hatiku bercampur antara hancur dan senang yang terpaksa. Lalu aku memeluk Ahmad dengan sangat erat.
“Mad, aku tidak lolos di kedokteran UI. Mungkin aku salah strategi. Kenapa kau tak cerita padaku jika kau mendaftar kedokteran?” tanyaku sambil menangis memeluk Ahmad.
“Aku ingin menjadi dokter bersamamu Har. Aku ingin kita menjadi dokter. Sabar ya Har. Allah akan mencari jalan lain. Yakinlah!!!” jawab Ahmad menenangkan.
Mulai saat itu aku bangkit dan bekerja keras demi SBMPTN atau tes tertulis. Siang malam aku berdoa dan belajar dengan sekuat tenaga. Bahkan ketika memulung, aku masih sempat membaca buku pinjaman temanku. Aku tak boleh menyerah.
Tiba di hari tes tertulis, aku amat optimis bisa masuk kedokteran UI. Pokoknya aku harus bisa dan semangat pantang menyerah tak boleh berputus asa.
Setelah tes berlalu, lama aku menunggu, pengumuman pun tiba. Aku melihat di website yang ada pagi ini dengan semangat dan dengan api yang membara dalam hati. Degup kencang jantung mengiringi langkahku menuju warnet. Perlahan kubuka website pengumuman. Dan, hatiku mendadak beku. Detak jantungku mulai pelan. Ototku kaku. Otakku mendidih. Bola mataku tak bergerak dan diam menatap layar komputer. Segala sesuatu kuhiraukan dan aku mulai menangis dengan penuh rasa kecewa. Di web tertulis “Selamat anda diterima pada pilihan kedua yaitu Teknik Elektro ITB”. Aku gagal. Aku gagal menjadi dokter. Tapi apakah kesedihan itu berlanjut? Tidak. Aku bangkit dan segera menemui ibuku dirumah bergegas memberi kabar gembira dan sedih ini.
Sampai di dekat rumah aku tercengang. Banyak sekali warga di rumahku. Tanpa berpikir lama aku segera berlari medatangi rumah. Aku sangat tercengang dan kaget hampir pingsan. Tubuhku sama sekali tak bisa digerakkan Bendera putih tertancap disamping rumahku. Ibuku... aku menangis sekuat tenag memeluk ibuku yang telah terbujur kaku dan dingin. Aku berteriak sekuat tenaga.
“Ibuuk, aku bawa kabar baik untuk ibuk. Aku minta maaf sama ibuk aku belum bisa jadi dokter untuk merawat ibuk, tapi aku diterima di ITB buk. Ibuk jawaaaab.. ibuuuuukk..” Aku menangis sekuat tenaga memeluk ibuku yang dalam kedaan kaku, dingin, dan diam. Ibu sudah tak ada di dunia.
Mungkin ini yang Tuhan berikan untukku, Ibuku diambil nyawanya ketika aku menerima pengumuman masuk PTN. Kesedihanku amat sangat pedih dan sakit. Tapi aku tak pernah menyalahkan Tuhan. Ada rencana indah dibalik semua ini. Aku percaya. Lalu sebulan setelah Ibuku meninggal, aku pergi kuliah di Bandung dan adikku bersama budeku di Jakarta. Aku tak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan ini. Sekuat tenaga aku berjuang. Demi masa depan.
***
...... Dunia berkata berjuanglah
Ketika yang lain berdiam, bergeraklah!
Secari kertas sebagai bukti,
Tidak tepat namun bernilai tinggi
Tuhan tak pernah salah memberi, Ialah sebaik-baik pemberi
***
            Aku kembali ke halaman belakang rumah Ahmad yang kini menjadi istana. Botol itu telah tak ada. Namun aku dan Ahmad masih hafal isinya. Kami lupakan saja botol kenangan itu. Saat ini aku menjadi seorang teknisi di Jepang. Ahmad menjadi seorang dokter di Jakarta, dan Ati menjadi seorang Novelis. Sementara Ardi hanya menyewakan tempat PS.
            Terkadang Tuhan tidak selalu memberikan kebahagiaan dibalik segala kejadian. Tapi ingatlah, cari kebahagian yang tak tampak itu. Kebahagiaan hidup, bernafas, melihat, makan, dan lainnya. Potret remaja masa kini hanya banyak mengeluh dan enggan berjuang. Adanya kenyamanan teknologi membuat moral anak muda terjajah. Ingatlah satu  tetes keringat kita ini adalah suatu ibadah kita jika kita niatkan mencari pahala-Nya.

-selesai-

Thifli Habibi Nur Salim N., Pendidikan IPA UNY

0 comments:

Posting Komentar