Berawal
dari sebuah botol beserta secarik kertas.
Botol yang penuh debu dan tiada
arti.
Kertas usang yang sama sekali tak
bernilai materi.
Dan seorang sahabat yang sama-sama
dekil mencari jati diri.
Namun,.....
***
Ada sesuatu yang membuatku malas untuk bangun pagi ini.
Kelelahan yang amat sangat membuatku tak mau beranjak dari tikar jerami yang
kuanggap kasur empuk ini. Lubang yang ada di seng atap rumahku mengusik tidurku
dengan sebuah cahaya menyilaukan tepat di atas mataku. Suara gaungan
mesin-mesin yang amat keras seolah mempercepat aku untuk bangun. Tapi aku tak
lupa untuk sholat subuh pagi tadi. Kelelahanku lah yang membuatku kembali tidur
setelah sholat. Lelah, amat sangat lelah.
Cahaya pagi yang amat menyilaukan ini memaksaku untuk
kembali bergulat dengan keadaan. Ketika pagi menyongsong, pemandangan terindah
yang kulihat adalah sebuah gunung. Bukan gunung merapi ataupun gunung Rinjani.
Namun, sebuah gunung sampah yang amat tinggi. Disinilah aku tinggal. Di sebuah
rumah yang beratapkan seng berlubang, berdinding triplek dan kardus kubuat
berlapis-lapis supaya kokoh dan tak membuatku kedinginan di malam hari. Ketika
hari sudah malam dan waktu tidur tiba, aku tak pernah absen melihat sebuah
koran lama yang berisi tentang seorang dokter yang sangat hebat. Prestasinya
mendunia dan banyak penghargaan yang telah ia dapatkan. Aku terus membacanya
setiap malam karena kebetulan ayahku menambal tembok di kamarku dengan koran
itu tepat di samping aku tidur.
Hartono, atau lebih kerap disapa Harto. Aku hanyalah
seorang anak kecil yang seharusnya terlahir seperti anak lainnya, umurku baru 5
tahun dan sudah harus bergelut dengan tumpukan sampah dan memilahnya menjadi
barang yang dapat berguna lagi. Tapi aku tetap bersyukur karena bahagia melihat
ibu dan seorang adik yang sehat dan selalu tersenyum menghibur ketika aku lelah
dan bersedih. Seorang ibu adalah satu-satunya orangtuaku sekarang. Ayahku
meninggal ketika umurku baru 3 tahun, dikarenakan sebuah kecelakaan di pabrik baja
tempat ayahku bekerja. Aku harus membantu ibuku dalam mencari makan setiap
hari.
***
“Har, ayolah kasih tahu jawabannya!” Ardi memaksaku
memberikan jawaban matematika ketika ulangan sedang berlangsung.
Aku hanya diam dan tak bergerak menatap lembar jawab dan
soal yang ada di depanku. Terus saja aku menghiraukan bisikan Ardi yang terus
memaksaku memberikan jawaban ulangan ke dia. Hingga ulangan pun berakhir, Ardi
terus memasang wajah masam kepadaku. Sontak ketika pak Budi guru matematikaku
keluar ruangan, Ardi mendorongku hingga jatuh.
“Teman macam apa kamu Har?! Apakah kau tega membuat
temanmu sengsara dengan mati kutu seperti tadi? Ha? Jawab!” Ardi membentakku
amat keras.
“Aku takut Di, Aku takut dengan konsekuensi yang akan
kudapatkan. Aku kasihan, aku kasihan dengan ibuku yang bersusah payah telah
menyekolahkanku. Aku malu, aku malu ketika pemerintah memberikan bantuan dan
aku menyia-nyiakannya dengan ketidakjujuran.Aku sedih, aku sedih jika Tuhan
mencatat amal burukku dengan mencuri dan memberi jawaban. Apakah kau tak sadar
dengan itu Di? Apakah kau pernah berpikir semua itu ketika kau mencontek??” Aku
membalas Ardi dengan nada tinggi seolah ada uap panas di atas kepalaku.
Ardi terdiam sejenak tak berkata sepatah katapun, lalu
pergi keluar kelas dengan kepalan tangan yang masih bertahan di tangan
kanannya. Itulah Ardi, teman SD ku yang amat jahat. Dia adalah seorang anak
pengusaha yang amat kaya raya namun buruk kepribadiannya. Terkadang aku iri
dengannya. Ketika sepulang sekolah aku harus bergelut dengan tumpukan sampah,
Ardi hanya bermain dengan Play station kesukaannya.
Rumahnya tak jauh dari bantar gebang tempat aku tinggal, hanya berjarak ratusan
meter. Aku anggap itu jarak yang dekat karena setiap aku bekerja, berkilometer
jarak pun aku tempuh.
Aku telah menempuh pendidikan di SD karena adanya bantuan
dari pemerintah hingga sekolah gratis. Tetapi, gratis ini ada tanggung jawab
yang selalu mengikuti. Dalam bahasa jawanya, ‘Ojo njaluk ati, banjur ngrogoh rempelo’. Maksudnya bahwa ketika
kita sudah diberi kebaikan, maka jangan minta yang lebih dan menyusahkan lagi,
kita diberi kesempatan dan kita harus memaksimalkan kesempatan itu.
Kehidupanku membaik setelah aku bersekolah. Buku aku tak
membeli, bahkan biaya sekolah pun aku tak memikirkan. Ibuku selau
menyemangatiku dan tak pernah mengeluh dengan keadaan. Keluargaku selalu
bersyukur bahkan ketika nasi dan lauk pun menjadi barang langka untukku. Aku
tak pernah menyesal dan tak pernah menghardik Tuhan. Karena seburuk atau sebaik
apapun keadaan orang, maka Tuhan telah menyesuaikan kebutuhan orang itu. Tuhan
memberikan apa yang hambanya butuhkan, bukan apa yang hambanya inginkan. Itu
yang menjadi cambukan untukku saat ini.
SD Negeri Sukamaju tempatku bersekolah. Hari itu hari
selasa, ketika jam olahraga berlangsung, seperti biasa pak Yusron guru
olahragaku yang terkenal killer sedang memarahi anak yang tidak menggunakan sepatu.
Aku pasti tidak pernah absen terkena hukuman.
“Harto, Harto. Sudah diperingatkan bapak beberapa kali
tetap saja bandel ya kamu!!!” Bentak pak Yusron dengan nada sedikit rendah dari
biasanya.
“M.mm..maaf pak, saya terpaksa melepasnya ketika olahraga
pak, saya takut sepatu saya rusak dan saya hanya memiliki satu sepatu ini pak.”
Jawabku dengan nada lirih dan amat pelan.
Pak Yusron mengiyakan begitu saja apa yang aku katakan
lalu pergi meninggalkanku tanpa sepatah katapun. Begitulah pak Yusron,
misterius.
Sepulang sekolah, aku selalu berjalan kaki menyusuri
perumahan, kompleks pabrik, dan melewati gunungan sampah. Tak pernah ketinggalan,
aku bersama dua orang sahabatku selalu pulang bersama. Ati, wanita yang lincah
dan periang, dia merupakan anak seorang dosen di salah satu perguruan tinggi di
Jakarta. Bersama Ahmad, seorang laki-laki yang kalem, penuh misteri, dan sangat
setia kawan. Mereka lah sahabat terdekat yang selalu menemaniku sampai aku kelas 5 SD ini.
Tiba di persimpangan jalan, Ati berpisah dengan kami
karena rumah Ati jauh dan dia harus di jemput bibinya. Namun aku dan Ahmad
tetap berjalan kaki, karena sebenarnya Ahmad bernasib hampir sama denganku
yaitu tinggal di sekitar bantar gebang. Namun, dia sudah memiliki rumah beratap
dan bertembok. Kita sama-sama kesusahan. Pakaian yang kami kenakan pun jauh
dari kesan bersih dan rapi. Yang ada hanya gatal dan bau. Meskipun usahaku
untuk membuatnya bersih amat sangat menguras tenaga.Sampai di bantar gebang,
aku bercerita kepada Ahmad.
“Mad,
aku suatu saat nanti pengen jadi dokter nih, pengeeen banget nyembuhin pasien,
beramal, bangun rumah buat ibu, nyekolahin adek, pokonya segalanya deh buat
bekal akhirat.” Kataku
“Serius kamu Har? Dokter tu mahal banget Har. Ratusan
juta untuk kuliahnya. Bahkan kita ini orang yang bisa dibilang hanya pemimpi
samping kota. Kau tahu lah kita ini anak kece bantar gebang yang susah Har. Kece
tapi susah. Hahaha” Ahmad tertawa dan mengejekku dengan nada bercanda.
“Aku janji Mad, aku janji!!!” aku berkata dengan nada
tegas lalu mencengkram bahu Ahmad dan membawanya ke halaman belakang rumahnya.
“Sini Mad. Aku membawa botol. Tolong carikan kertas
dong!” aku memohon.
“Buat apa Har?” kata Ahmad penasaran.
“Sudah bawa kesini saja, oh iya sekalian bolpoin yaaaa!”
Aku makin tak sabar menyuruh Ahmad.
Lalu Ahmad duduk disampingku membawa secarik kertas usang
dan bolpoin. Kemudian Ahmad mendekat kepadaku dan dengan mata berkaca-kaca, aku
berkata perlahan padanya.
“Mad, aku ingin kita menuliskan cita-cita pekerjaan kita
suatu saat nanti di selembar kertas ini, kita berdua. Kau rahasiakan saja
cita-citamu, dan pastinya kau sudah tahu bahwa cita-citaku akan menjadi dokter.
Lalu setelah kita tulis, akan kumasukkan kertas ini ke dalam botol ini dan akan
kupendam di sini sampai suatu saat nanti kita akan membacanya dalam keadaan
sukses.” Aku bicara dengan bibir gemetar seolah-olah semua angan itu ada di depan
mata.
“Iya Har, aku janji kita akan bertemu lagi disini suatu
saat nanti.” Kata Ahmad sambil mencoba memelukku dan menahan tangisan yang
terbendung diantara kelopak bawah matanya.
***
Waktu berlalu amat sangat cepat. Masa SD kulalui dengan
berjuta rasa. SMP juga telah kulalui dengan lancar. Ahmad tak lagi satu SMP
denganku, bahkan Ati juga berbeda SMP denganku.
Namun, seorang musuhku yaitu Ardi malah sekelas denganku ktika SMP.
Hampir setiap hari aku di bully nya
terus. Aku hadapi dengan kesabaran dan hanya kuanggap angin lalu yang
mengganggu. Namun itu semua hanya masa lalu, saat ini masa SMA telah tiba.
Dimana aku harus lebih dewasa dalam menghadapi hidup. Lebih dewasa dalam
memilih teman, bahkan dewasa dalam mengambil keputusan.
Aku lolos seleksi dan masuk SMA favorit dengan rata-rata
nilai UN 9,2. Aku tidak bangga dengan nilai itu karena cita-citaku belum
nampak. SMA N 1 Sukacita itulah SMA ku. Lagi-lagi aku harus berpisah dengan
Ahmad dan Ati yang diterima di SMA 4 Sukacita karena tidak lolos seleksi masuk
sekolahku. Dan parahnya lagi, aku kembali satu sekolah dengan Ardi. Aku akui
dia anak yang pintar karena memang setiap hari dia les privat. Biaya yang
dikeluarkan tidak sedikit. Namun, aku tak heran karena dia orang kaya. Dalam
hati aku selalu bersedih ketika sahabatku selalu berpisah denganku, tetapi
musuhku selalu satu sekolah denganku. Apa rencana Tuhan dibalik itu?
Siangitu entah kenapa hari terasa sangat terik. Seperti
biasa sewaktu pulang sekolah karena aku bersepeda dan kukayuh sekuat tenaga
demi menaiki bukit dan menuruni lembah. Bukan bukit atau lembah sebenarnya,
namun hanyalah tanjakan dan turunan yang amat terasa melelahkan jika siang
terik seperti ini melaluinya. Aku terkadang merasa kecil hati melihat
teman-temanku menyapa dengan menggunakan sepeda motornya. Tapi aku tak pernah
menyerah. Toh aku dan mereka sama-sama memiliki satu tujuan yaitu menuntut
ilmu. Entah mengapa hampir seluruh temanku gengsi untuk bersepeda. Padahal kan
mengajarkan keprihatinan dan bagus untuk kesehatan.
Saat itu aku pulang melewati perumahan dekat bantar
gebang. Tak kulihat lagi anak kecil bermain bersama seperti dahulu ketika aku
kecil. Mereka ramai hanya di warnet atau tempat PS. Bahkan anak-anak sudah
dibelikan gadget dan tablet yang berisi game yang sifatnya individual. Aku tak
habis pikir apa bahagianya mereka melakukan itu. Aku sama sekali tak memiliki
HP. Setiap temanku ingin menghubungiku, aku meminjam HP ibuku yang kecil,
butut, dan masih hitamputih. Karena itu satu-satunya HP yang kami punya.
Sesampainya dirumah, aku mencari ibuk.
“Buk,
Ibuk.” Panggilku
Namun
tak ada suara yang terdengar. Aku mencari dan menanyakan kepada tetanggaku
dimana ibuku berada. Namun sebelum aku sempat bertanya, sayup-sayup kudengar
adiku menangis dan sedang bersama Bude. Aku penasaran apa yang terjadi.
“Ibuk
dimana Bude? Lalu kenapa adik menangis seperti itu?” Aku makin panik tak
karuan.
“Ibuk
tidak apa-apa le, tadi ibuk pingsan dan muntah darah. Tapi sekarang sudah
baikan kok le. Jangan panik.” Jawab Bude ku menenangkanku.
“Sekarang
ibuk dimana bude? Ibuk sakit apa bude?” tanyaku
Bude
lalu menjelaskan singkat apa yang terjadi pada ibuku. Dan biaya rumahsakit
gratis karena ditanggung pemerintah. Aku tertunduk dan tak bisa apa-apa.
Merunduk meratapi nasib.
Disaat
temanku yang lain bermain ria, Les , bermain gadget, pergi ke Mall, belanja,
dan hura-hura lainnya, aku hanya seperti ini meratapi nasib. Sudah miskin, ibuk
sakit, tidak punya ayah, dan masih punya adik kecil. Tapi sekali lagi aku tak
akan pernah menyerah. Itulah anak muda jaman sekarang. Tak bisa merasakan
perjuangan keras seperti apa yang kurasakan saat ini.
***
Sejak
saat itu Ibuku sering sakit-sakitan. Terkadang rumah sakit sering menolak Ibuku
karena terlalu sering berobat. Namun, aku tak berhenti dan meratapi nasib. Aku
berusaha mengumpulkan sampah banyak dan lebih sering demi membantu ibu. Sekolah
pun aku tak melupakannya.
Saat
ini aku sudah kelas XII SMA dan UN didepan mata. Aku belajar semaksimal mungkin
dan bangun ketika temanku tidur. Disaat temanku foto selfie dan bermain facebook, aku belajar. Itulah anak muda jaman
sekarang, tidak bisa memanfaatkan waktu. Ardi pun prestasinya semakin memburuk
karena terjebak dengan pergaulan glamour di
masa SMA.
Alhamdulillah
UN berhasil kulalui dan tak disangka selama ini aku lulus UN SMA dengan nem
57,80 tertinggi di SMAku. Aku sangat bersyukur dengan itu. Aku ceritakan kepada
Ibuku, dan Ibuku hanya tersenyum. Sementara nem sahabtku Ahmad 56,70. Dan Ati
56,90. Aku bangga dengan mereka. Musuhku Ardi hanya dengan nem 43,75 dar 6 mata
pelajaran.
Sebelumnya
aku mendaftar bidikmisi untuk kedokteran UI seperti cita-citaku. Sementara
Ahmad dan Ati masih merahasiakannya. Aku menunggu lama setelah UN demi menanti
pengumuman jalur undangan. Namun, apa bisa dikata. Alam tak memihak, Tuhan tak
berkehendak. Aku ditolak dari jurusan kedokteran. Aku menangis sekuat tenaga.
Aku lemah. Aku patah. Aku hancur
Pagi
harinya, Ahmad mendatangi rumahku dan menceritakan dia diterima di kedokteran
UNDIP. Hatiku bercampur antara hancur dan senang yang terpaksa. Lalu aku
memeluk Ahmad dengan sangat erat.
“Mad,
aku tidak lolos di kedokteran UI. Mungkin aku salah strategi. Kenapa kau tak
cerita padaku jika kau mendaftar kedokteran?” tanyaku sambil menangis memeluk
Ahmad.
“Aku
ingin menjadi dokter bersamamu Har. Aku ingin kita menjadi dokter. Sabar ya
Har. Allah akan mencari jalan lain. Yakinlah!!!” jawab Ahmad menenangkan.
Mulai
saat itu aku bangkit dan bekerja keras demi SBMPTN atau tes tertulis. Siang
malam aku berdoa dan belajar dengan sekuat tenaga. Bahkan ketika memulung, aku
masih sempat membaca buku pinjaman temanku. Aku tak boleh menyerah.
Tiba
di hari tes tertulis, aku amat optimis bisa masuk kedokteran UI. Pokoknya aku
harus bisa dan semangat pantang menyerah tak boleh berputus asa.
Setelah
tes berlalu, lama aku menunggu, pengumuman pun tiba. Aku melihat di website
yang ada pagi ini dengan semangat dan dengan api yang membara dalam hati. Degup
kencang jantung mengiringi langkahku menuju warnet. Perlahan kubuka website
pengumuman. Dan, hatiku mendadak beku. Detak jantungku mulai pelan. Ototku
kaku. Otakku mendidih. Bola mataku tak bergerak dan diam menatap layar
komputer. Segala sesuatu kuhiraukan dan aku mulai menangis dengan penuh rasa
kecewa. Di web tertulis “Selamat anda diterima pada pilihan kedua yaitu Teknik
Elektro ITB”. Aku gagal. Aku gagal menjadi dokter. Tapi apakah kesedihan itu
berlanjut? Tidak. Aku bangkit dan segera menemui ibuku dirumah bergegas memberi
kabar gembira dan sedih ini.
Sampai
di dekat rumah aku tercengang. Banyak sekali warga di rumahku. Tanpa berpikir
lama aku segera berlari medatangi rumah. Aku sangat tercengang dan kaget hampir
pingsan. Tubuhku sama sekali tak bisa digerakkan Bendera putih tertancap
disamping rumahku. Ibuku... aku menangis sekuat tenag memeluk ibuku yang telah
terbujur kaku dan dingin. Aku berteriak sekuat tenaga.
“Ibuuk,
aku bawa kabar baik untuk ibuk. Aku minta maaf sama ibuk aku belum bisa jadi
dokter untuk merawat ibuk, tapi aku diterima di ITB buk. Ibuk jawaaaab..
ibuuuuukk..” Aku menangis sekuat tenaga memeluk ibuku yang dalam kedaan kaku,
dingin, dan diam. Ibu sudah tak ada di dunia.
Mungkin
ini yang Tuhan berikan untukku, Ibuku diambil nyawanya ketika aku menerima
pengumuman masuk PTN. Kesedihanku amat sangat pedih dan sakit. Tapi aku tak
pernah menyalahkan Tuhan. Ada rencana indah dibalik semua ini. Aku percaya.
Lalu sebulan setelah Ibuku meninggal, aku pergi kuliah di Bandung dan adikku
bersama budeku di Jakarta. Aku tak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan ini.
Sekuat tenaga aku berjuang. Demi masa depan.
***
...... Dunia berkata berjuanglah
Ketika
yang lain berdiam, bergeraklah!
Secari
kertas sebagai bukti,
Tidak
tepat namun bernilai tinggi
Tuhan
tak pernah salah memberi, Ialah sebaik-baik pemberi
***
Aku kembali ke halaman belakang rumah Ahmad yang kini
menjadi istana. Botol itu telah tak ada. Namun aku dan Ahmad masih hafal
isinya. Kami lupakan saja botol kenangan itu. Saat ini aku menjadi seorang
teknisi di Jepang. Ahmad menjadi seorang dokter di Jakarta, dan Ati menjadi
seorang Novelis. Sementara Ardi hanya menyewakan tempat PS.
Terkadang Tuhan tidak selalu memberikan kebahagiaan
dibalik segala kejadian. Tapi ingatlah, cari kebahagian yang tak tampak itu.
Kebahagiaan hidup, bernafas, melihat, makan, dan lainnya. Potret remaja masa
kini hanya banyak mengeluh dan enggan berjuang. Adanya kenyamanan teknologi
membuat moral anak muda terjajah. Ingatlah satu
tetes keringat kita ini adalah suatu ibadah kita jika kita niatkan
mencari pahala-Nya.
-selesai-
Thifli Habibi Nur Salim N., Pendidikan IPA UNY








0 comments:
Posting Komentar