Hanya
suara deru monster jalanan yang menghiasi pagi mendung di Desa Tanggung.
Perkampungan yang sangat padat kepulan asap kendaraan bermotor di jalan raya
yang sempit dibanding di kota. Sayup-sayup perdebatan kecil mengiringi
keramaian jalan tersebut oleh sebuah keluarga di rumah yang cukup sederhana yang
berlokasi di pinggir jalan.
“Pak,
ayo cepat! Anak kita nanti menunggu lama kalau tidak segera”, begitulah
gerutuan dari sosok paruh baya yang ingin bergegas menuju Bandara Adisumarmo
yang jaraknya ditempuh untuk waktu yang lama dari pedesaan tersebut. Sang suami
hanya diam tak bermaksud untuk berteriak kembali ataupun menyanggah sang
isteri. Sudah direncanakan bahwa sang anak akan pulang ke kampung halamannya
tercinta setelah menyelesaikan studinya di California.
Sebuah
helaan nafas tipis terdengar oleh sang suami. Wanita paruh baya yang bernama
Ibu Muji terlihat melengos ketika mendapati sang suami, Samadi yang melihat
kearahnya. Beberapa hal yang dipikirkan Pak Samadi tentang pertengkarannya
kemarin membuatnya terpaksa menghampiri isterinya.
“Iya
bu, ini lagi mengirim sms dulu ke
Andre. Dari tadi dia tidak balas-balas”, jawab Pak Samadi yang sedari tadi
sibuk dengan ponselnya. Isterinya mengangguk lemah. Dua menit setelah keributan
kecil itu, sepasang suami isteri tersebut bergegas memasuki garasi mobil. Pak
Samadi yang memanasi mesin mobilnya hanya terbengong ketika seorang lelaki
jangkung dengan jenggot tipis terlihat di depan kaca mobilnya.
“Pak,
anak kita sudah balik!”, teriak Bu Muji yang sebelumnya sibuk mengunci pintu
rumah. Pak Samadi bergegas menghampiri putra semata wayangnya itu.
“Pantas
saja, sms-nya tidak dibalas. Mau buat
kejutan ya?”, gurau Pak Samadi. Andre hanya tersenyum lima jari menampilkan
gigi-gigi putihnya. Kedua orangtuanya masih sama, masih menganggapnya remaja
dengan berbagai respon kekhawatiran dan memanjakan.
JJJ
Guyuran
hujan deras mewarnai sambutan kepulangan Andre yang berlangsung hingga senja
menjelang maghrib. Lelaki 24 tahun itu sedari tadi sangat antusias menceritakan
hari-harinya di negeeri orang. Kedua orangtuanya sangatlah khawatir akan
dirinya disana. Negara barat yang diketahui oleh keluarganya sebagai tempat
yang penuh pergaulan bebas. Mereka khawatir dengan perangai anak semata wayang
mereka yang dikenal pendiam berubah menjadi neko-neko
oleh pengaruh orang di sana.
Namun
Andre hanya bilang, “Saya biasa aja Pak, Bu, punya keyakinan yang beda malah
membuat saya merasa istimewa disana”.
Bukan
sekedar kalimat penenang untuk orangtuanya. Di sana, Andre memang memiliki
waktu khusus untuk melakukan ibadah sholat
walaupun di jam-jam kuliah dan pengertian dari dosen tentang waktu saum-nya.
JJJ
Jika
pagi adalah waktu untuk monster jalanan, malam hari adalah waktu untuk jangkrik
berderik. Andre yang rindu akan kampung halamannya kini melangkahkan kakinya
menyusuri desa yang cukup luas ini. Di perempatan jalan menuju pasar yang sudah
terkondisi sepi, Andre melihat segerombolan pemuda yang nyaring akan tawa bass-nya. Pemandangan ini biasa dia
lihat di California, tapi tidak di tampat seperti ini apalagi di kampngnya.
Yah, walau Andre sudah mendapat dengar dari ayahnya jika masalah di kampung ini
adalah pemuda-pemuda yang terkontaminasi oleh minuman-minuman terlaknat itu.
‘Kenapa
dengan desa ini?’, begitulah batin Andre.
Bahkan
kantor polisi yang jaraknya hanya 3 km dari sini tak membuat mereka merasa
canggung untuk melaksanakan pesta miras
tersebut. Terkadang juga membingungkan tentang yang dikerjakan Kepala Desa dan
para polisi itu. Sebenarnya, ini merupakan salah satu tugas mereka
menyelesaikan ini tentu setelah orangtua dan penduduk desa yang angkat tangan.
“Hei,
loe mau ikut gak?”, tunjuk salah seorang pemuda kepada Andre.
Andre
yang dari tadi melamun akan pemikirannya sendiri menggeleng cepat hingga
membalikkan badannya untuk berjalan menuju rumahnya kembali. Ia merutuki
dirinya sendiri, memukul kepanya pelan. Bahkan disaat ia mengumpat kepada para
aparat desa atas ketidakbecusan mereka, ia malah menunjukkan sisi pengecutnya.
‘Bahkan
kau hanya lari, dasar bodoh!’, batinnya pada diri sendiri.
JJJ
Manik matanya nyalang menatap
langit-langit kamarnya. Setelah enam jam berlalu, matanya tak terkatup
sedikitpun karena memikirkan malam yang menjengkelkan buatnya. Ia tak berhenti
menggerutu karena tak sedikitpun punya keberanian menegur pemuda-pemuda
kemarin. Andre adalah tipikal orang yang menuntut kebajikan. Bukan karena
dirinya merasa seorang super hero,
tapi ini juga merupakan tanggung jawabnya sebagai penduduk yang baik. Dahulu
saat ia masih di pesantren Wonogiri, beberapa guru besarnya mengatakan jika
ketakutan untuk menasehati adalah sepicik-piciknya seorang penguar dosa.
Andre tak bisa untuk berdiam diri. Ia
menyibakkan selimutnya dan melangkah mengambil air wudlu.
JJJ
Andre mengetukkan jari telunjuk di
pahanya. Ia hanya berkonsentrasi mendengar penuturan dari Kepala Desa.
“Maaf
dek, tapi saya sudah berusaha mengingatkan mereka apalagi anak saya”, tutur Pak
Kepala Desa tersebut sambil dengan kepala menunduk.
Setelah Andre permisi, hanya kepalan
tangan yang ia bawa sepanjang perjalanan pulang. Karena masalah tersebut
membuatnya terlampau frustasi. Salah satu pemuda disana adalah anak Kepala
Desa. Itulah kenapa semua orang hanya memalingkan dirinya pada kebiasaan buruk
pemuda-pemuda itu.
JJJ
Malampun terasa mencekam, setidaknya itu
menurut Andre. Dengan langkah yang diseret-seret, ia berjalan menghampiri
pemuda-pemuda yang senantiasa rutin berpesta miras itu. Keringat sedikit menetes diantara pelipisnya.
“Mau
ngapain loe?”, tanya seorang pemuda yang tengah membawa sebotol minuman keras.
“Oh,
dia anaknya Pak Samadi yang baru pulang kemarin”, tambah pemuda lain dengan
tampang sangarnya.
“Bukannya
akan lebih baik jika kalian melakukan hal yang bermanfaat dari pada pesta
seperti ini?”, celetuk Andre secara langsung. Kelima pemuda tersebut menoleh.
“Emang
apa urusan loe? Jangan mentang-mentang sekolah di luar negeri, loe jadi ngerasa
tahu semua ya”, teriak pemuda pertama kali memberi suara tadi dengan menunjuk
jari telunjuknya tepat di wajah Andre.
Andre merapatkan giginya, bernapas
dalam-dalam menghadapi para pemuda di depannya.
“Bagaimana
jika kalian buka sebuah usaha saja? Saya akan memberi modal kalian”, ucap Andre
dengan lepas. Setidaknya hanya itu yang terpikir olehnya. Mata uang dollar memang mempunyai nilai tukar
tinggi dengan rupiah. Jadi sisa gaji hasil kerja sambilannya sebagai penjaga
toko di California cukuplah tinggi untuk sekedar memberi peluang para pemuda di
depannya. Mengingat yang dikatakan Pak Kepala Desa tentang masalah pengangguran
yang dialami pemuda-pemuda di hadapannya membuat mereka tak tahu tujuan yang
pada akhirnya menjerumuskan mereka.
“Emang
berapa yang mau loe kasih?”, lanjut pemuda yang sedang serius menatap Andre.
“Delapan
juta”, balas Andre singkat.
“Gimana
Ben?”, tanya pemuda tersebut setelah membalikkan badannya ke arah pemuda yang
sedang berdiri. Andre juga ikut menatapnya.
‘Ternyata
dia anak Pak Kepala Desa’, batin Andre.
“Sini
kalian!”, suruh Beni kasar kepada temannya. Mereka menjaga jarak pada Andre,
tengah berbisik mendiskusikan sesuatu. Sehingga dari jauh hanya anggukan kepala
yang akhirnya terlihat oleh Andre pada beberapa menit setelahnya.
”Oke,
kita terima!”, ucap Beni. Andre menatap kelima pemuda tersebut dengan pandangan
menyelidik.
“Syaratnya,
tinggalkan yang kalian kerjakan sekarang selamanya”, kata Andre tak kalah
tegas.
Kelima pemuda tersebut hanya memainkan
matanya dengan kepala mengangguk.
JJJ
Suara sirine polisi terdengar mendekati
perempatan Pasar Tanggung. Pada akhirnya sebuah janji sesama lelaki tak cukup
dianggap berharga oleh beberapa orang yang terkait. Dua hari setelah Andre
menyerahkan modal yang ia janjikan, kelima pemuda tersebut masih sama dengan
kegiatan malamnya. Suatu keputusan yang Andre dapat adalah melaporkannya pada
pihak yang berwajib. Walaupun ia tak yakin kalau kelima pemuda tersebut jera.
Masih sama, perempatan tersebut bagai
tontonan warga dengan tayangan pembekukan lima pemuda dan miras-mirasnya.
Tepukan
pada pundaknya menyadarkan Andre dari lamunannya.
“Mereka
pasti melakukannya lagi”, ucap Pak Samadi.
“Iya
ini belum berakhir, inilah PR saya selanjutnya”, balas Andre sembari ikut
memandang tayangan di depannya.
Kehidupan para pemuda-pemudi desa yang
sebenarnya jauh dari kebisingan kota namun tak beda jauh dengan pesta yang
merusak moral mereka. Potret kehidupan pemuda masa kini yang tersorot adalah
salah satu bentuk buruknya. Tak selamanya hal yang baik selalu dipamerkan,
namun adakalanya sebuah hal buruk ditunjukkan untuk dijadikan pembelajaran agar
menjadi lebih baik lagi.
‘Menjadi
sempurna memang sangat sulit tetapi menjadi lebih baik adalah hal elit’
JJJ
Taufik Nur Rahmadi, Pendidikan IPA UNY








0 comments:
Posting Komentar