Jumat, 19 Desember 2014

Pemuda-Pemuda Kampung VS Pemuda Emas (Top 10)

Hanya suara deru monster jalanan yang menghiasi pagi mendung di Desa Tanggung. Perkampungan yang sangat padat kepulan asap kendaraan bermotor di jalan raya yang sempit dibanding di kota. Sayup-sayup perdebatan kecil mengiringi keramaian jalan tersebut oleh sebuah keluarga di rumah yang cukup sederhana yang berlokasi di pinggir jalan.
“Pak, ayo cepat! Anak kita nanti menunggu lama kalau tidak segera”, begitulah gerutuan dari sosok paruh baya yang ingin bergegas menuju Bandara Adisumarmo yang jaraknya ditempuh untuk waktu yang lama dari pedesaan tersebut. Sang suami hanya diam tak bermaksud untuk berteriak kembali ataupun menyanggah sang isteri. Sudah direncanakan bahwa sang anak akan pulang ke kampung halamannya tercinta setelah menyelesaikan studinya di California.
Sebuah helaan nafas tipis terdengar oleh sang suami. Wanita paruh baya yang bernama Ibu Muji terlihat melengos ketika mendapati sang suami, Samadi yang melihat kearahnya. Beberapa hal yang dipikirkan Pak Samadi tentang pertengkarannya kemarin membuatnya terpaksa menghampiri isterinya.
“Iya bu, ini lagi mengirim sms dulu ke Andre. Dari tadi dia tidak balas-balas”, jawab Pak Samadi yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya. Isterinya mengangguk lemah. Dua menit setelah keributan kecil itu, sepasang suami isteri tersebut bergegas memasuki garasi mobil. Pak Samadi yang memanasi mesin mobilnya hanya terbengong ketika seorang lelaki jangkung dengan jenggot tipis terlihat di depan kaca mobilnya.
“Pak, anak kita sudah balik!”, teriak Bu Muji yang sebelumnya sibuk mengunci pintu rumah. Pak Samadi bergegas menghampiri putra semata wayangnya itu.
“Pantas saja, sms-nya tidak dibalas. Mau buat kejutan ya?”, gurau Pak Samadi. Andre hanya tersenyum lima jari menampilkan gigi-gigi putihnya. Kedua orangtuanya masih sama, masih menganggapnya remaja dengan berbagai respon kekhawatiran dan memanjakan.
JJJ
Guyuran hujan deras mewarnai sambutan kepulangan Andre yang berlangsung hingga senja menjelang maghrib. Lelaki 24 tahun itu sedari tadi sangat antusias menceritakan hari-harinya di negeeri orang. Kedua orangtuanya sangatlah khawatir akan dirinya disana. Negara barat yang diketahui oleh keluarganya sebagai tempat yang penuh pergaulan bebas. Mereka khawatir dengan perangai anak semata wayang mereka yang dikenal pendiam berubah menjadi neko-neko oleh pengaruh orang di sana.
Namun Andre hanya bilang, “Saya biasa aja Pak, Bu, punya keyakinan yang beda malah membuat saya merasa istimewa disana”.
Bukan sekedar kalimat penenang untuk orangtuanya. Di sana, Andre memang memiliki waktu khusus untuk melakukan ibadah sholat walaupun di jam-jam kuliah dan pengertian dari dosen tentang waktu saum-nya.
JJJ
Jika pagi adalah waktu untuk monster jalanan, malam hari adalah waktu untuk jangkrik berderik. Andre yang rindu akan kampung halamannya kini melangkahkan kakinya menyusuri desa yang cukup luas ini. Di perempatan jalan menuju pasar yang sudah terkondisi sepi, Andre melihat segerombolan pemuda yang nyaring akan tawa bass-nya. Pemandangan ini biasa dia lihat di California, tapi tidak di tampat seperti ini apalagi di kampngnya. Yah, walau Andre sudah mendapat dengar dari ayahnya jika masalah di kampung ini adalah pemuda-pemuda yang terkontaminasi oleh minuman-minuman terlaknat itu.
‘Kenapa dengan desa ini?’, begitulah batin Andre.
Bahkan kantor polisi yang jaraknya hanya 3 km dari sini tak membuat mereka merasa canggung untuk melaksanakan pesta miras tersebut. Terkadang juga membingungkan tentang yang dikerjakan Kepala Desa dan para polisi itu. Sebenarnya, ini merupakan salah satu tugas mereka menyelesaikan ini tentu setelah orangtua dan penduduk desa yang angkat tangan.
“Hei, loe mau ikut gak?”, tunjuk salah seorang pemuda kepada Andre.
Andre yang dari tadi melamun akan pemikirannya sendiri menggeleng cepat hingga membalikkan badannya untuk berjalan menuju rumahnya kembali. Ia merutuki dirinya sendiri, memukul kepanya pelan. Bahkan disaat ia mengumpat kepada para aparat desa atas ketidakbecusan mereka, ia malah menunjukkan sisi pengecutnya.
‘Bahkan kau hanya lari, dasar bodoh!’, batinnya pada diri sendiri.
JJJ
Manik matanya nyalang menatap langit-langit kamarnya. Setelah enam jam berlalu, matanya tak terkatup sedikitpun karena memikirkan malam yang menjengkelkan buatnya. Ia tak berhenti menggerutu karena tak sedikitpun punya keberanian menegur pemuda-pemuda kemarin. Andre adalah tipikal orang yang menuntut kebajikan. Bukan karena dirinya merasa seorang super hero, tapi ini juga merupakan tanggung jawabnya sebagai penduduk yang baik. Dahulu saat ia masih di pesantren Wonogiri, beberapa guru besarnya mengatakan jika ketakutan untuk menasehati adalah sepicik-piciknya seorang penguar dosa.
Andre tak bisa untuk berdiam diri. Ia menyibakkan selimutnya dan melangkah mengambil air wudlu.
JJJ
Andre mengetukkan jari telunjuk di pahanya. Ia hanya berkonsentrasi mendengar penuturan dari Kepala Desa.
“Maaf dek, tapi saya sudah berusaha mengingatkan mereka apalagi anak saya”, tutur Pak Kepala Desa tersebut sambil dengan kepala menunduk.
Setelah Andre permisi, hanya kepalan tangan yang ia bawa sepanjang perjalanan pulang. Karena masalah tersebut membuatnya terlampau frustasi. Salah satu pemuda disana adalah anak Kepala Desa. Itulah kenapa semua orang hanya memalingkan dirinya pada kebiasaan buruk pemuda-pemuda itu.
JJJ
Malampun terasa mencekam, setidaknya itu menurut Andre. Dengan langkah yang diseret-seret, ia berjalan menghampiri pemuda-pemuda yang senantiasa rutin berpesta miras itu. Keringat sedikit menetes diantara pelipisnya.
“Mau ngapain loe?”, tanya seorang pemuda yang tengah membawa sebotol minuman keras.
“Oh, dia anaknya Pak Samadi yang baru pulang kemarin”, tambah pemuda lain dengan tampang sangarnya.
“Bukannya akan lebih baik jika kalian melakukan hal yang bermanfaat dari pada pesta seperti ini?”, celetuk Andre secara langsung. Kelima pemuda tersebut menoleh.
“Emang apa urusan loe? Jangan mentang-mentang sekolah di luar negeri, loe jadi ngerasa tahu semua ya”, teriak pemuda pertama kali memberi suara tadi dengan menunjuk jari telunjuknya tepat di wajah Andre.
Andre merapatkan giginya, bernapas dalam-dalam menghadapi para pemuda di depannya.
“Bagaimana jika kalian buka sebuah usaha saja? Saya akan memberi modal kalian”, ucap Andre dengan lepas. Setidaknya hanya itu yang terpikir olehnya. Mata uang dollar memang mempunyai nilai tukar tinggi dengan rupiah. Jadi sisa gaji hasil kerja sambilannya sebagai penjaga toko di California cukuplah tinggi untuk sekedar memberi peluang para pemuda di depannya. Mengingat yang dikatakan Pak Kepala Desa tentang masalah pengangguran yang dialami pemuda-pemuda di hadapannya membuat mereka tak tahu tujuan yang pada akhirnya menjerumuskan mereka.
“Emang berapa yang mau loe kasih?”, lanjut pemuda yang sedang serius menatap Andre.
“Delapan juta”, balas Andre singkat.
“Gimana Ben?”, tanya pemuda tersebut setelah membalikkan badannya ke arah pemuda yang sedang berdiri. Andre juga ikut menatapnya.
‘Ternyata dia anak Pak Kepala Desa’, batin Andre.
“Sini kalian!”, suruh Beni kasar kepada temannya. Mereka menjaga jarak pada Andre, tengah berbisik mendiskusikan sesuatu. Sehingga dari jauh hanya anggukan kepala yang akhirnya terlihat oleh Andre pada beberapa menit setelahnya.
”Oke, kita terima!”, ucap Beni. Andre menatap kelima pemuda tersebut dengan pandangan menyelidik.
“Syaratnya, tinggalkan yang kalian kerjakan sekarang selamanya”, kata Andre tak kalah tegas.
Kelima pemuda tersebut hanya memainkan matanya dengan kepala mengangguk.
JJJ
Suara sirine polisi terdengar mendekati perempatan Pasar Tanggung. Pada akhirnya sebuah janji sesama lelaki tak cukup dianggap berharga oleh beberapa orang yang terkait. Dua hari setelah Andre menyerahkan modal yang ia janjikan, kelima pemuda tersebut masih sama dengan kegiatan malamnya. Suatu keputusan yang Andre dapat adalah melaporkannya pada pihak yang berwajib. Walaupun ia tak yakin kalau kelima pemuda tersebut jera.
Masih sama, perempatan tersebut bagai tontonan warga dengan tayangan pembekukan lima pemuda dan miras-mirasnya.
Tepukan pada pundaknya menyadarkan Andre dari lamunannya.
“Mereka pasti melakukannya lagi”, ucap Pak Samadi.
“Iya ini belum berakhir, inilah PR saya selanjutnya”, balas Andre sembari ikut memandang tayangan di depannya.
Kehidupan para pemuda-pemudi desa yang sebenarnya jauh dari kebisingan kota namun tak beda jauh dengan pesta yang merusak moral mereka. Potret kehidupan pemuda masa kini yang tersorot adalah salah satu bentuk buruknya. Tak selamanya hal yang baik selalu dipamerkan, namun adakalanya sebuah hal buruk ditunjukkan untuk dijadikan pembelajaran agar menjadi lebih baik lagi.
‘Menjadi sempurna memang sangat sulit tetapi menjadi lebih baik adalah hal elit’

JJJ

Taufik Nur Rahmadi, Pendidikan IPA UNY

0 comments:

Posting Komentar