Cinta iu takkan pernah sama, tergantung
kepada siapa kita memberinya, tergantung dari siapa kita menerimanya. Bahkan Dinda sendiri tak tahu kapan
tepatnya Ia
pertama kali jatuh cinta. Namun, yang Ia
tahu cinta itu menakjubkan. Kita takkan sanggup menghindarinya. Saat cinta itu
datang kita harus menerimanya entah kamu suka atau tidak.
Helaian rambutnya menari-nari
diudara, senyumanya bak embun menyegarkan hati siapapun yang melihat. Kemurnian
hati, dan kelembutan jiwanya tak sanggup tertandingi. Kegiatan rutin yang selalu Ia lakukan setiap
sore takkan pernah memanggil jiwa kebosannannya. Bermain, bernyanyi dan menari
dengan anak-anak tak berorang tua itu selalu dillakukannya dengan senang hati.
Bahkan semakin hari Ia semakin bersemangat membantu anak-anak tersebut, membantu mereka
tersenyum dan melupakan kenangan pahit yang menimpa mereka.
“Kak
Dinda, kalau sudah besar nanti aku pengen secantik Kak Dinda.”
Dengan
senyumannya yang paling lembut Dinda menjawab. “Putri, sekarang saja kamu sudah
lebih cantik dari Kak Dinda.”
Hal ini yang selalu Ia kagumi dari
seorang anak kecil. Ketulusan dan kepolosannya selalu menjadi panutan bagi
Dinda dalam menjalani kehidupan ini. Bagi Dinda, bukan Ia yang mengajari mereka
tapi justru Ia yang belajar banyak dari mereka.
Langit semakin gelap, kesunyian
semakin menjalari setiap rumah-rumah. Namun, suara jeritan membuat matanya
sekejap terbuka. Ia segera berlari menuju sumber suara.
“Tika,
ada apa?”
Sambil
menangis tersedu anak itu mencoba menjawab. “Putri Kak, badannya tiba-tiba
panas banget.”
Dengan sigap Dinda menempelkan
telapak tangannya didahi Putri, dan rasa panas mulai menjalar kesaraf-saraf
telapak tangan Dinda.
“Bu
Sari, bisa tolong ambilkan obat penurun panas.”
Wanita paruh baya itu menjawabnnya
dengan anggukan. Panti Asuhan Anak Kita adalah lembaga yang didanai oleh ayah
Dinda. Dan Bu Sari adalah orang yang menjaga panti tersebut, biasanya Dinda
menginap dipanti tersebut saat akhir pekan seperti hari ini. Bu Sari kembali
dengan wajah yang merasa bersalah.
“Maaf,
Mbak Dinda obatnya habis.”
“Ya
sudah, Dinda beli obat dulu. Bu Sari tolong jaga anak-anak sebentar ya.”
“Tapi,
Mbak...”
Tanpa membiarkan Bu Sari
menyelesaikan kalimatnya Dinda segera lepas landas dari tempatnya berada. Kalau
dia tidak salah ingat, di ujung jalan ada sebuah apotik yang buka 24 jam.
Setelah membeli obat, Ia segera kembali ke panti Ia tak mau sesuatu yang buruk
terjadi pada Putri apabila telat diberikan obat.
Langit semakin gelap, kesunyian
sudah menjalari setiap rumah. Tinggal beberapa langkah lagi menuju panti, Ia
melihat seorang pemuda yang tengah beradu pukulan dengan sekelompok pemuda
lainnya. Entah karena rasa apa, Dinda melangkahkan kakinya mendekat menuju
kelompok itu dan saat tinggal beberapa senti saja dibelakang pemuda itu, Dinda
menghentikan langkahnya. Pemuda lainnya lari secepat mungkin. Pemuda itu
menolehkan kepalanya, Ia menyeka sebagian darah segar yang ada diujung bibirnya
dengan lengannya. Disanalah Dinda melihat simpul kecil sebuah seyuman, lalu
pemuda itu pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun pada Dinda.
Pertemuan yang diimpikan akan
berlangsung lebih cepat daripada pertemuan yang dihindari. Dan pertemuan macam
apakah ini? Apakah Dinda menginginkannya
ataukah Dinda ingin menghindarinya.
vvv
Banyak orang yang mengatakan, di setiap
pertemuan pasti akan diakhiri oleh sebuah perpisahan. Dinda sendiri tidak
mengerti kenapa Ia tidak mengharapkan perpisahan itu, kenapa Ia selalu
menunggu-nunggu datangnya pertemuan itu kembali. Perasaan macam apa ini.
Pertanyaan-pertanyaan yang hampir membuatnya putus asa. Sudah seminggu sejak
pertemuan malam itu, namun hati dan perasaan Dinda tak kunjung membaik.
Perasaannya semakin kacau jika mengingat kejadian malam itu, pertemuan singkat
dengan pemuda yang bahkan belum pernah Ia lihat sebelumnya, mampu menghinotis
Dinda untuk selalu memikirkan pemuda itu, senyumannya yang menyiratkan
berjuta-juta rahasia dan misteri
mampu
membuat pikira Dinda kacau balau.
Sejak malam itu, Dinda selalu
bertanya-tanya kenapa saat itu jantugnya seketika sesak, kenapa detak itu
berjalan semakin cepat. Semakin dilupakan, semakin Dinda merasa penasaran. Ia
tak sanggup menghindar ataupun mengelak. Dan akhirnya Ia memutuskan untuk
mencari tahu siapa pemuda itu.
Hari ini seperti biasa Ia akan
menginap di panti. Namun, anehnya tidak seperti minggu-minggu biasanya, Dinda
sangat bersemangat. Apakah karena Ia yakin akan bertemu dengan pemuda itu lagi.
Ah... Dinda terlalu lelah untuk memikirkannya, jika memang pertemuan itu adalah
suatu pertanda,
Tuhan pasti akan melakukannya lagi untuk Dinda.
Setelah turun dari taxi, Ia langsung
diserbu oleh sekelompok
anak-anak dengan wajah yang riang gembira, seakan-akan mereka telah menantikan
pertemuan itu dengan Dinda selama seminggu ini. Begitu pula penantian Dinda
yang tak kunjung tercapai.
“Putri
sudah sehat?”
Dengan
senyum manis khas seorang anak kecil Putri menganggukkan kepalanya. “Karena
obat yang Kak Dinda kasih, Putri jadi cepet sembuh.”
Mentari diufuk barat semakin tak
terlihat, hanya sinarnya yang membuat warna jingga pada langit sore itu.
Waktunya sepanjang sore itu memang Ia habiskan bersama anak-anak, namun
pikirannya sepanjang minggu ini telah
terkikis habis oleh pertemuan malam itu.
“Kak
Dinda”
Suara
mungil itu membuatnya tersadar dari lamunan yang tak kunjung henti.
“Iya
Agnes, kenapa?”
“Kenapa
dari tadi Kakak melamun terus?”
Dengan
senyum khasnya, Dinda menjawab hati-hati pertanyaan itu.
“Agnes
mau tahu?”
Gadis
kecil itu mengangguk dengan semangat
“Kak
Dinda laper.”
Kini senyuman itu berganti menjadi
riuhan tawa mereka
berdua. Anak-anak selalu bisa membuatnya sejenak melupakan masalah yang ada.
Langit hampir gelap, anak-anak dijalanan
mulai berlarian menuju rumah mereka masing-masing. Karena persediaan makanan di
panti hampir menipis, Ia berjalan untuk membeli barang-barang.
Kini jalanan mulai lengang, saat Dinda
menuju panti. Suara gaduh disebuah gang sempit membuat langkahnya terhenti.
Tanpa keraguan Ia mendekat menuju sumber suara. Samar-samar Ia melihat seseorang
terkapar ditanah, Dinda semakin mendekatkan langkahnya. Perasaan kaget
menyergap dirinya saat Ia melihat dengan jelas. Pemuda yang sama, terkapar tak
berdaya ditanah, saat Dinda berniat menolongnya langkah Dinda terhenti, bola
matanya semakin membesar. Apa itu? Sebuah jarum suntik bersarang dilengan
pemuda itu. Dinda melangkah mundur dan berbalik badan, saat Ia akan mengambil
langkah pertamanya suara rintihan itu terdengar nyaring ditelinga Dinda.
“Tolong.”
Perasaan kacau merasuki pikirannya,
Ia ingin segera berlari. Tapi, apa yang terjadi kakinya bagai dipaku tak dapat
bergerak. Dinda pun membalikan badannya kembali dan mendekat kearah pemuda itu.
Mendekatkan jemarinya kearah jarum suntik dan mencabutnya dengan paksa kemudian
dilemparkannya jauh-jauh jarum itu. Dengan perasaannya yang tak karuan Ia masih
bisa melihat sebuah senyum dan mendegar suara lirih pemuda itu.
“Makasih”
Tuhan selalu mempunyai rencana
menakjubkan yang bahkan kita tak mampu menduganya. Pertemuan macam apa ini?
Apakah ini yang sudah Ia nantikan selama seminggu? Hal baik dan hal buruk
berkecamuk didalam pikirannya. Ia memang menantikan pertemuan ini, tapi bukan
pertemuan seperti ini yang Ia inginkan.
vvv
Seberapapun
kerasnya kita mencoba, cinta yang sudah terlanjur menyapa takkan sanggup untuk
dihindari. Entah kamu suka atau tidak. Hadapilah. Suasana hatinya menjadi sunyi
sepi setiap mengingat-ingat pertemuan keduannya dengan pemuda itu. Bahkan
pikirannya sudah tak sanggup lagi untuk membayangkan. Tapi hatinya telah
memilih.
Kini,
hari-harinya tak sama lagi. Dinda lebih sering menghabiskan waktunya untuk
duduk termenung memandangi langit. Bahkan burung-burung pun dapat memilih
kemana mereka harus terbang. Namun, kenapa tak ada pilihan lain untuk Dinda.
“Dinda.”
Sapaan Catelis meruntuhkan lamunan Dinda. Catelis
adalah gadis periang yang sejak SMP sudah ikut mewarnai hari-hari Dinda di
sekolah. Walau terkadang Catelis bak anak kecil yang selalu ingin tahu
macam-macam hal, termasuk urusan pribadi Dinda. Akan tetapi Ia adalah sahabat
terbaik yang dimiliki oleh Dinda.
“Ada apa Lis?”
“Gimana cowok itu? Kamu ketemu atau nggak?”
Benar
saja, lagi-lagi Ia menanyakan hal sensitif pada Dinda. Dinda hanya menjawab
pertanyaan itu dengan sebuah senyuman. Mungkin lebih baik Ia tak menceritakan
pertemuan itu pada Catelis.
“Pasti ketemu. Ceritain lagi, Din?”
Dinda
tahu pasti Catelis tak akan menyerah untuk mengorek informasi sedalam-dalamnya.
Belum
sempat Dinda menjawab, bala bantuan datang padanya. Seorang cowok dengan postur
tubuh yang tinggi, putih, dan wajah yang sanggup mebuatnya memiliki banyak
penggemar di sekolah. Namun, dari banyaknya cewek yang mendekatinya Ilham hanya
memberikan hatinya pada Catelis.
“Lis, kekantin yuk”
Secara bersamaan Dinda dan Catelis memandang Ilham
yang tengah berdiri di ambang pintu kelas.
“Dinda mau ikut juga?”
Lebih baik Ia sedikit menjauh dari Catelis untuk
beberapa saat pikir Dinda.
“Nggak deh, nanti ganggu lagi.”
Jika
mereka dipertemukan lagi, apa yang harus Ia katakana? Pikiran Dinda kembali
kepada pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah sanggup Ia jawab. Dalam kondisi
yang bagaimanakah, jika mereka dipertemukan kembali.
Suasana
sepi mulai menjalari sekitar sekolah. Sambil menunggu jemputan, Dinda melamun
sejadinya, menyapu sekeliling sekolah dengan matanya. Namun, bayangan pemuda
itu terlintas. Pemuda itu semakin mendekat, semakin mendekat. Seiring dengan
semakin mendekatnya pemuda itu detak jantung Dinda juga semakin cepat. Ia pasti
bermimpi pikirnya.
“Hai Dinda” suara yang ramah dari seorang pemuda
mengagetkannya. Kini Dinda tahu Ia tak sedang bermimpi.
Dengan wajah ragu-ragu Dinda
membalas sapaan pemuda itu. Melihat keraguan diraut wajah Dinda, Pemuda itu mulai merasa tak nyaman dan
mencoba menjelaskan tentang dirinya.
“Aku Dani, yang tadi malem kamu tolongin. Aku mau
bilang makasih lagi karena aku nggak tahu gimana jadinya aku kalau kamu nggak
ada malam itu.”
Dengan
wajah yang tetap seperti semuala Dinda mengangguk. Melihat ketidaknyamanan
Dinda, Dani terus saja mengoceh panjang lebar. Dinda sebenarnya mengingat
semmua hal yang diceritakan Dani. Namun, Ia hanya masih bingung harus bersikap
seperti apa untuk menutupi rasa penasarannya tentang jarum suntik itu. Mereka
pun mengobrol panjang lebar atau mungkin lebih tepatnya Dani yang berbicara
panjang lebar karena Dinda hanya menjawab setiap kata-kata Dani dengan anggukan
dan senyuman.
“Mau nggak lunch bareng?”
Lunch?
Oh my god mimpi apa Dinda semalam, kenapa Tuhan selalu memberikan
kejutan-kejutan tak terduga seperti ini selama satu bulan terakhir. Dan seperti
yang sudah-sudah Dinda hanya menjawabnya dengan sebuah senyum dan anggukan.
Apakah
ini kencan? Pikiran Dinda berkecamuk dengan banyaknnya pertanyaan. Namun, Ia
tak ingin pertanyaan-pertanyaan itu membuat hatinya semakin tidak enak saja.
Mereka
pun mulai berjalan menyusuri tepi jalan menuju taman terdekat. Kemudian Dani
menunjuk kearah tukan bakso dipinggir taman yang artinya Ia mengajak Dinda
kerah sana. Suara Dani seperti menghilang, entah apa karena Dani memang
berbicara dengan pelan ataukah karena terlalu banyak suara-suara dikepala Dinda
yang semakin membuatnya bingung. Namun, pada kahirnya Dinda menyadari pemuda
itu baik, untuk apa Dinda takut. Dan Dinda pun menghilangkan pertanyaannya
tentang jarum suntik itu.
“Kamu tahu darimana aku sekolah disini?” Tanya Dinda
sembari duduk dikursi yang telah disiapkan Dani.
“Oh iya aku lupa bilang.” Dani merogoh saku celannya
dan mengeluarkan sebuah kartu.
“Aku tahu dari sini. Malam itu kamu jatuhin kartu
pelajar kamu disebelahku. Itulah kenapa aku tahu kamu sekolah disini” Jelas
Dani sambil menyodorkan kartu pelajar kearah Dinda.
Hari
itu mereka saling mengenal, saling memahami, dan tanpa sadar Dinda melupakan
semua rasa penasarannya pada pemuda itu.
Cinta terkadang membuat seseorang lupa dengan masalah sebenarnya yang Ia
hadapi, cinta terkadang membeuat seseorang melupakan jati diri mereka, cinta
terkadang membuat seseorang terbuai dengan angan-angan dan janji-janji manis
dari cinta. Dinda menyadari, Ia telah jatuh cinta.
vvv
Sejak
pertemuan hari itu Dinda menyadari ada yang berubah dalam dirinya. Hidupnya
yang kini terasa mejikuhibiniu karena virus merah jambu yang tengah menyerbu,
membuaut Ia sering terlihat tidak waras dimanapun. Catelis bahkan sudah jengah
dengan sikap sahabatnya itu yang sering melamun dan senyum-senyum sendiri tanpa
sebab yang pasti. Catelis juga sudah bosan menanyakan apa yang sebenarnya
terjadi, karena Ia hanya akan mendapat sebuah senyuman dari Dinda akan semua
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.
Hari
ini Dinda akan bertemua lagi dengan Dani. Ia juga sudah duduk manis dikursi
taman tempat mereka biasa bertemu. Sambil mengayun-ayunkan kakinya Dinda
tersenyum membayangkan apa yang akan terjadi hari ini. Dani selalu menunjukan
hal-hal yang belum pernah Ia lihat. Seperti minggu lalu, Dani mengajaknya
bermain motor Trail untuk
meningkatkan adrenalinnya. Jujur saja semua hal itu adalah pertama kali bagi
Dinda. Mungkin benar jika ada orang yang bilang bahwa cinta bisa merubah
segalanya bahkan kehidupan Dinda. Masa mudanya dipenuhi dengan angan-angan
tentang cinta. Namun, cinta tidak hanya merubah hidupnya tapi juga merubah
Dinda. Kini Ia lebih sering berbohong pada orangtuannya hanya untuk bertemu
dengan Dani. Dinda kerap memanfaatkan persahabatannya dengan Catelis dan
beralasan ingin mengerjakan tugas ataupun bermain dirumah Catelis. Hal ini yang
terkadang membuat Catelis memnjadi asing dengan Dinda. Karena tidak biasanya
Dinda memintanya berbohong pada orangtua Dinda.
Menit
demi menit pun terlewati, tanpa terasa Dinda telah menunggu hampir 2 jam
ditaman itu. Namun, tak ada tanda-tanda kehadiran Dani yang membuatnya semakin
cemas. Sudah tak terhitung berapa kali Dinda menatap layar Smartphone-nya untuk menunggu kabar dari Dani. Sudah tak terhitung
pula berapa kali Dinda mencoba menghubungi Dani. Juga sudah tak terhitung
berapa kali Ia hanya mendengar suara dari mesin penjawab yang mengatakan bahwa
nomor yang Ia hubungi sedang tidak aktif.
Perasaan
yang campur adauk sudah memenuhi segala penjuru hatinya entah itu kesal,
kecewa, sedih, dan juga khaawatir seakan berdesakan memasuki hati Dinda yang
semakin kalut saja. Dinda memutuskan beranjak dari bangku itu. Jika saja bangku
itu bisa bicara mungkin Ia sudah merengek bosan karena selama 2 jam lebih hanya
Dinda yang setia pada bangku itu. Baru saja Dinda berdiri seorang anak
menghampirinya dan memberikannya selember kertas berwarna putih yang terlipat
menjadi 2 bagian. Anak itu langsung melarikan diri tanpa memberikan kesempatan
pada Dinda untuk berkata. Masih dengan wajah bingung Dinda membuka kertas putih
itu perlahan yang ternyata berisi tulisan tangan seseorang.
Dinda,
sebelumnya aku mau minta maaf. Beribu maaf untuk semua yang telah aku perbuat.
Maaf karena
telah membiarkanmu menolongku.
Maaf karena
aku menemuimu disekolah.
Maaf karena
aku mengajakmu makan siang.
Maaf karena
aku mengenalmu.
Maaf karena
selam 3 bulan ini membuatmu bahagia.
Maaf karena
aku telah MENCINTAIMU.
Entah harus
berapa kata maaf lagi agar aku dapat menebus dosa-dosaku padamu.
Aku tahu
bahwa kamu telah menerima aku apa adanya, namun aku sendiri tak dapat menerima
diriku apa adanya. Aku sudah berusaha melepaskan diriku dari barang-barang
terkutuk itu. Namun mereka tak terima jika aku semudah itu melepaskannya. Kamu
Din, kamu yang membuatku untuk pertama kalinya ingin lepas dari barang haram itu.
Tapi, sayang tak semudah yang aku kira dan aku juga tak bisa terus menerus
melibatkanmu. Aku tak mau kamu terus menerus mencabut jarum suntik dari
tanganku.
Terimakasih
untuk semua tawa yang kamu berikan padaku Din.
Terimakasih
untuk perubahan yang kamu berikan untuk hidupku walau sejenak.
Aku takkan
pernah sanggup untuk membalas semuannya walau dengan nyawaku sekalipun.
You’re like
drugs, you change my life.
With Love
Dani
Fachrunnisa
Fulan Anggraini, Pendidikan Kimia UNY








0 comments:
Posting Komentar