Jumat, 19 Desember 2014

Drugs (Top 20)

Cinta iu takkan pernah sama, tergantung kepada siapa kita memberinya, tergantung dari siapa kita menerimanya. Bahkan Dinda sendiri tak tahu kapan tepatnya Ia pertama kali jatuh cinta. Namun, yang Ia tahu cinta itu menakjubkan. Kita takkan sanggup menghindarinya. Saat cinta itu datang kita harus menerimanya entah kamu suka atau tidak.
            Helaian rambutnya menari-nari diudara, senyumanya bak embun menyegarkan hati siapapun yang melihat. Kemurnian hati, dan kelembutan jiwanya tak sanggup tertandingi.  Kegiatan rutin yang selalu Ia lakukan setiap sore takkan pernah memanggil jiwa kebosannannya. Bermain, bernyanyi dan menari dengan anak-anak tak berorang tua itu selalu dillakukannya dengan senang hati. Bahkan semakin hari Ia semakin bersemangat membantu anak-anak tersebut, membantu mereka tersenyum dan melupakan kenangan pahit yang menimpa mereka.
“Kak Dinda, kalau sudah besar nanti aku pengen secantik Kak Dinda.”
Dengan senyumannya yang paling lembut Dinda menjawab. “Putri, sekarang saja kamu sudah lebih cantik dari Kak Dinda.”
            Hal ini yang selalu Ia kagumi dari seorang anak kecil. Ketulusan dan kepolosannya selalu menjadi panutan bagi Dinda dalam menjalani kehidupan ini. Bagi Dinda, bukan Ia yang mengajari mereka tapi justru Ia yang belajar banyak dari mereka.
            Langit semakin gelap, kesunyian semakin menjalari setiap rumah-rumah. Namun, suara jeritan membuat matanya sekejap terbuka. Ia segera berlari menuju sumber suara.
“Tika, ada apa?”
Sambil menangis tersedu anak itu mencoba menjawab. “Putri Kak, badannya tiba-tiba panas banget.”
            Dengan sigap Dinda menempelkan telapak tangannya didahi Putri, dan rasa panas mulai menjalar kesaraf-saraf telapak tangan Dinda.
“Bu Sari, bisa tolong ambilkan obat penurun panas.”
            Wanita paruh baya itu menjawabnnya dengan anggukan. Panti Asuhan Anak Kita adalah lembaga yang didanai oleh ayah Dinda. Dan Bu Sari adalah orang yang menjaga panti tersebut, biasanya Dinda menginap dipanti tersebut saat akhir pekan seperti hari ini. Bu Sari kembali dengan wajah yang merasa bersalah.
“Maaf, Mbak Dinda obatnya habis.”
“Ya sudah, Dinda beli obat dulu. Bu Sari tolong jaga anak-anak sebentar ya.”
“Tapi, Mbak...”
            Tanpa membiarkan Bu Sari menyelesaikan kalimatnya Dinda segera lepas landas dari tempatnya berada. Kalau dia tidak salah ingat, di ujung jalan ada sebuah apotik yang buka 24 jam. Setelah membeli obat, Ia segera kembali ke panti Ia tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Putri apabila telat diberikan obat.
            Langit semakin gelap, kesunyian sudah menjalari setiap rumah. Tinggal beberapa langkah lagi menuju panti, Ia melihat seorang pemuda yang tengah beradu pukulan dengan sekelompok pemuda lainnya. Entah karena rasa apa, Dinda melangkahkan kakinya mendekat menuju kelompok itu dan saat tinggal beberapa senti saja dibelakang pemuda itu, Dinda menghentikan langkahnya. Pemuda lainnya lari secepat mungkin. Pemuda itu menolehkan kepalanya, Ia menyeka sebagian darah segar yang ada diujung bibirnya dengan lengannya. Disanalah Dinda melihat simpul kecil sebuah seyuman, lalu pemuda itu pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun pada Dinda.
Pertemuan yang diimpikan akan berlangsung lebih cepat daripada pertemuan yang dihindari. Dan pertemuan macam apakah  ini? Apakah Dinda menginginkannya ataukah Dinda ingin menghindarinya.

vvv

Banyak orang yang mengatakan, di setiap pertemuan pasti akan diakhiri oleh sebuah perpisahan. Dinda sendiri tidak mengerti kenapa Ia tidak mengharapkan perpisahan itu, kenapa Ia selalu menunggu-nunggu datangnya pertemuan itu kembali. Perasaan macam apa ini. Pertanyaan-pertanyaan yang hampir membuatnya putus asa. Sudah seminggu sejak pertemuan malam itu, namun hati dan perasaan Dinda tak kunjung membaik. Perasaannya semakin kacau jika mengingat kejadian malam itu, pertemuan singkat dengan pemuda yang bahkan belum pernah Ia lihat sebelumnya, mampu menghinotis Dinda untuk selalu memikirkan pemuda itu, senyumannya yang menyiratkan berjuta-juta rahasia dan misteri mampu membuat pikira Dinda kacau balau.
            Sejak malam itu, Dinda selalu bertanya-tanya kenapa saat itu jantugnya seketika sesak, kenapa detak itu berjalan semakin cepat. Semakin dilupakan, semakin Dinda merasa penasaran. Ia tak sanggup menghindar ataupun mengelak. Dan akhirnya Ia memutuskan untuk mencari tahu siapa pemuda itu.
            Hari ini seperti biasa Ia akan menginap di panti. Namun, anehnya tidak seperti minggu-minggu biasanya, Dinda sangat bersemangat. Apakah karena Ia yakin akan bertemu dengan pemuda itu lagi. Ah... Dinda terlalu lelah untuk memikirkannya, jika memang pertemuan itu adalah suatu pertanda, Tuhan pasti akan melakukannya lagi untuk Dinda.
            Setelah turun dari taxi, Ia langsung diserbu oleh sekelompok anak-anak dengan wajah yang riang gembira, seakan-akan mereka telah menantikan pertemuan itu dengan Dinda selama seminggu ini. Begitu pula penantian Dinda yang tak kunjung tercapai.
“Putri sudah sehat?”
Dengan senyum manis khas seorang anak kecil Putri menganggukkan kepalanya. “Karena obat yang Kak Dinda kasih, Putri jadi cepet sembuh.”
            Mentari diufuk barat semakin tak terlihat, hanya sinarnya yang membuat warna jingga pada langit sore itu. Waktunya sepanjang sore itu memang Ia habiskan bersama anak-anak, namun pikirannya sepanjang minggu ini telah terkikis habis oleh pertemuan malam itu.
“Kak Dinda”
Suara mungil itu membuatnya tersadar dari lamunan yang tak kunjung henti.
“Iya Agnes, kenapa?”
“Kenapa dari tadi Kakak melamun terus?”
Dengan senyum khasnya, Dinda menjawab hati-hati pertanyaan itu.
“Agnes mau tahu?”
Gadis kecil itu mengangguk dengan semangat
“Kak Dinda laper.”
Kini senyuman itu berganti menjadi riuhan tawa mereka berdua. Anak-anak selalu bisa membuatnya sejenak melupakan masalah yang ada.
Langit hampir gelap, anak-anak dijalanan mulai berlarian menuju rumah mereka masing-masing. Karena persediaan makanan di panti hampir menipis, Ia berjalan untuk membeli barang-barang.
Kini jalanan mulai lengang, saat Dinda menuju panti. Suara gaduh disebuah gang sempit membuat langkahnya terhenti. Tanpa keraguan Ia mendekat menuju sumber suara. Samar-samar Ia melihat seseorang terkapar ditanah, Dinda semakin mendekatkan langkahnya. Perasaan kaget menyergap dirinya saat Ia melihat dengan jelas. Pemuda yang sama, terkapar tak berdaya ditanah, saat Dinda berniat menolongnya langkah Dinda terhenti, bola matanya semakin membesar. Apa itu? Sebuah jarum suntik bersarang dilengan pemuda itu. Dinda melangkah mundur dan berbalik badan, saat Ia akan mengambil langkah pertamanya suara rintihan itu terdengar nyaring ditelinga Dinda.
“Tolong.”
            Perasaan kacau merasuki pikirannya, Ia ingin segera berlari. Tapi, apa yang terjadi kakinya bagai dipaku tak dapat bergerak. Dinda pun membalikan badannya kembali dan mendekat kearah pemuda itu. Mendekatkan jemarinya kearah jarum suntik dan mencabutnya dengan paksa kemudian dilemparkannya jauh-jauh jarum itu. Dengan perasaannya yang tak karuan Ia masih bisa melihat sebuah senyum dan mendegar suara lirih pemuda itu.
“Makasih”
            Tuhan selalu mempunyai rencana menakjubkan yang bahkan kita tak mampu menduganya. Pertemuan macam apa ini? Apakah ini yang sudah Ia nantikan selama seminggu? Hal baik dan hal buruk berkecamuk didalam pikirannya. Ia memang menantikan pertemuan ini, tapi bukan pertemuan seperti ini yang Ia inginkan.

vvv
            Seberapapun kerasnya kita mencoba, cinta yang sudah terlanjur menyapa takkan sanggup untuk dihindari. Entah kamu suka atau tidak. Hadapilah. Suasana hatinya menjadi sunyi sepi setiap mengingat-ingat pertemuan keduannya dengan pemuda itu. Bahkan pikirannya sudah tak sanggup lagi untuk membayangkan. Tapi hatinya telah memilih.
            Kini, hari-harinya tak sama lagi. Dinda lebih sering menghabiskan waktunya untuk duduk termenung memandangi langit. Bahkan burung-burung pun dapat memilih kemana mereka harus terbang. Namun, kenapa tak ada pilihan lain untuk Dinda.
“Dinda.”
Sapaan Catelis meruntuhkan lamunan Dinda. Catelis adalah gadis periang yang sejak SMP sudah ikut mewarnai hari-hari Dinda di sekolah. Walau terkadang Catelis bak anak kecil yang selalu ingin tahu macam-macam hal, termasuk urusan pribadi Dinda. Akan tetapi Ia adalah sahabat terbaik yang dimiliki oleh Dinda.
“Ada apa Lis?”
“Gimana cowok itu? Kamu ketemu atau nggak?”
            Benar saja, lagi-lagi Ia menanyakan hal sensitif pada Dinda. Dinda hanya menjawab pertanyaan itu dengan sebuah senyuman. Mungkin lebih baik Ia tak menceritakan pertemuan itu pada Catelis.
“Pasti ketemu. Ceritain lagi, Din?”
            Dinda tahu pasti Catelis tak akan menyerah untuk mengorek informasi sedalam-dalamnya.
            Belum sempat Dinda menjawab, bala bantuan datang padanya. Seorang cowok dengan postur tubuh yang tinggi, putih, dan wajah yang sanggup mebuatnya memiliki banyak penggemar di sekolah. Namun, dari banyaknya cewek yang mendekatinya Ilham hanya memberikan hatinya pada Catelis.
“Lis, kekantin yuk”
Secara bersamaan Dinda dan Catelis memandang Ilham yang tengah berdiri di ambang pintu kelas.
“Dinda mau ikut juga?”
Lebih baik Ia sedikit menjauh dari Catelis untuk beberapa saat pikir Dinda.
“Nggak deh, nanti ganggu lagi.”
            Jika mereka dipertemukan lagi, apa yang harus Ia katakana? Pikiran Dinda kembali kepada pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah sanggup Ia jawab. Dalam kondisi yang bagaimanakah, jika mereka dipertemukan kembali.
            Suasana sepi mulai menjalari sekitar sekolah. Sambil menunggu jemputan, Dinda melamun sejadinya, menyapu sekeliling sekolah dengan matanya. Namun, bayangan pemuda itu terlintas. Pemuda itu semakin mendekat, semakin mendekat. Seiring dengan semakin mendekatnya pemuda itu detak jantung Dinda juga semakin cepat. Ia pasti bermimpi pikirnya.
“Hai Dinda” suara yang ramah dari seorang pemuda mengagetkannya. Kini Dinda tahu Ia tak sedang bermimpi.
Dengan wajah ragu-ragu Dinda membalas sapaan pemuda itu. Melihat keraguan diraut wajah  Dinda, Pemuda itu mulai merasa tak nyaman dan mencoba menjelaskan tentang dirinya.
“Aku Dani, yang tadi malem kamu tolongin. Aku mau bilang makasih lagi karena aku nggak tahu gimana jadinya aku kalau kamu nggak ada malam itu.”
            Dengan wajah yang tetap seperti semuala Dinda mengangguk. Melihat ketidaknyamanan Dinda, Dani terus saja mengoceh panjang lebar. Dinda sebenarnya mengingat semmua hal yang diceritakan Dani. Namun, Ia hanya masih bingung harus bersikap seperti apa untuk menutupi rasa penasarannya tentang jarum suntik itu. Mereka pun mengobrol panjang lebar atau mungkin lebih tepatnya Dani yang berbicara panjang lebar karena Dinda hanya menjawab setiap kata-kata Dani dengan anggukan dan senyuman.
“Mau nggak lunch bareng?”
            Lunch? Oh my god mimpi apa Dinda semalam, kenapa Tuhan selalu memberikan kejutan-kejutan tak terduga seperti ini selama satu bulan terakhir. Dan seperti yang sudah-sudah Dinda hanya menjawabnya dengan sebuah senyum dan anggukan.
            Apakah ini kencan? Pikiran Dinda berkecamuk dengan banyaknnya pertanyaan. Namun, Ia tak ingin pertanyaan-pertanyaan itu membuat hatinya semakin tidak enak saja.
            Mereka pun mulai berjalan menyusuri tepi jalan menuju taman terdekat. Kemudian Dani menunjuk kearah tukan bakso dipinggir taman yang artinya Ia mengajak Dinda kerah sana. Suara Dani seperti menghilang, entah apa karena Dani memang berbicara dengan pelan ataukah karena terlalu banyak suara-suara dikepala Dinda yang semakin membuatnya bingung. Namun, pada kahirnya Dinda menyadari pemuda itu baik, untuk apa Dinda takut. Dan Dinda pun menghilangkan pertanyaannya tentang jarum suntik itu.
“Kamu tahu darimana aku sekolah disini?” Tanya Dinda sembari duduk dikursi yang telah disiapkan Dani.
“Oh iya aku lupa bilang.” Dani merogoh saku celannya dan mengeluarkan sebuah kartu.
“Aku tahu dari sini. Malam itu kamu jatuhin kartu pelajar kamu disebelahku. Itulah kenapa aku tahu kamu sekolah disini” Jelas Dani sambil menyodorkan kartu pelajar kearah Dinda.
            Hari itu mereka saling mengenal, saling memahami, dan tanpa sadar Dinda melupakan semua rasa penasarannya pada pemuda  itu. Cinta terkadang membuat seseorang lupa dengan masalah sebenarnya yang Ia hadapi, cinta terkadang membeuat seseorang melupakan jati diri mereka, cinta terkadang membuat seseorang terbuai dengan angan-angan dan janji-janji manis dari cinta. Dinda menyadari, Ia telah jatuh cinta.

vvv

            Sejak pertemuan hari itu Dinda menyadari ada yang berubah dalam dirinya. Hidupnya yang kini terasa mejikuhibiniu karena virus merah jambu yang tengah menyerbu, membuaut Ia sering terlihat tidak waras dimanapun. Catelis bahkan sudah jengah dengan sikap sahabatnya itu yang sering melamun dan senyum-senyum sendiri tanpa sebab yang pasti. Catelis juga sudah bosan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, karena Ia hanya akan mendapat sebuah senyuman dari Dinda akan semua pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.

            Hari ini Dinda akan bertemua lagi dengan Dani. Ia juga sudah duduk manis dikursi taman tempat mereka biasa bertemu. Sambil mengayun-ayunkan kakinya Dinda tersenyum membayangkan apa yang akan terjadi hari ini. Dani selalu menunjukan hal-hal yang belum pernah Ia lihat. Seperti minggu lalu, Dani mengajaknya bermain motor Trail untuk meningkatkan adrenalinnya. Jujur saja semua hal itu adalah pertama kali bagi Dinda. Mungkin benar jika ada orang yang bilang bahwa cinta bisa merubah segalanya bahkan kehidupan Dinda. Masa mudanya dipenuhi dengan angan-angan tentang cinta. Namun, cinta tidak hanya merubah hidupnya tapi juga merubah Dinda. Kini Ia lebih sering berbohong pada orangtuannya hanya untuk bertemu dengan Dani. Dinda kerap memanfaatkan persahabatannya dengan Catelis dan beralasan ingin mengerjakan tugas ataupun bermain dirumah Catelis. Hal ini yang terkadang membuat Catelis memnjadi asing dengan Dinda. Karena tidak biasanya Dinda memintanya berbohong pada orangtua Dinda.

            Menit demi menit pun terlewati, tanpa terasa Dinda telah menunggu hampir 2 jam ditaman itu. Namun, tak ada tanda-tanda kehadiran Dani yang membuatnya semakin cemas. Sudah tak terhitung berapa kali Dinda menatap layar Smartphone-nya untuk menunggu kabar dari Dani. Sudah tak terhitung pula berapa kali Dinda mencoba menghubungi Dani. Juga sudah tak terhitung berapa kali Ia hanya mendengar suara dari mesin penjawab yang mengatakan bahwa nomor yang Ia hubungi sedang tidak aktif.

            Perasaan yang campur adauk sudah memenuhi segala penjuru hatinya entah itu kesal, kecewa, sedih, dan juga khaawatir seakan berdesakan memasuki hati Dinda yang semakin kalut saja. Dinda memutuskan beranjak dari bangku itu. Jika saja bangku itu bisa bicara mungkin Ia sudah merengek bosan karena selama 2 jam lebih hanya Dinda yang setia pada bangku itu. Baru saja Dinda berdiri seorang anak menghampirinya dan memberikannya selember kertas berwarna putih yang terlipat menjadi 2 bagian. Anak itu langsung melarikan diri tanpa memberikan kesempatan pada Dinda untuk berkata. Masih dengan wajah bingung Dinda membuka kertas putih itu perlahan yang ternyata berisi tulisan tangan seseorang.

Dinda, sebelumnya aku mau minta maaf. Beribu maaf untuk semua yang telah aku perbuat.
Maaf karena telah membiarkanmu menolongku.
Maaf karena aku menemuimu disekolah.
Maaf karena aku mengajakmu makan siang.
Maaf karena aku mengenalmu.
Maaf karena selam 3 bulan ini membuatmu bahagia.
Maaf karena aku telah MENCINTAIMU.
Entah harus berapa kata maaf lagi agar aku dapat menebus dosa-dosaku padamu.
Aku tahu bahwa kamu telah menerima aku apa adanya, namun aku sendiri tak dapat menerima diriku apa adanya. Aku sudah berusaha melepaskan diriku dari barang-barang terkutuk itu. Namun mereka tak terima jika aku semudah itu melepaskannya. Kamu Din, kamu yang membuatku untuk pertama kalinya ingin lepas dari barang haram itu. Tapi, sayang tak semudah yang aku kira dan aku juga tak bisa terus menerus melibatkanmu. Aku tak mau kamu terus menerus mencabut jarum suntik dari tanganku.
Terimakasih untuk semua tawa yang kamu berikan padaku Din.
Terimakasih untuk perubahan yang kamu berikan untuk hidupku walau sejenak.
Aku takkan pernah sanggup untuk membalas semuannya walau dengan nyawaku sekalipun.
You’re like drugs, you change my life.

With Love

Dani



Fachrunnisa Fulan Anggraini, Pendidikan Kimia UNY

0 comments:

Posting Komentar