Selasa, 18 Desember 2012

Festival Baris-Berbaris yang Memberikan Sebuah Arti


          Disuatu ketika disaat terik matahari mulai mencekam diri dan disertai rintihan angin di  hari itu, Aku bersama kawan-kawanku dikumpulkan dilapangan untuk mengikuti suatu acara tahunan tingkat Kabupaten Tangerang di daerah Mauk yaitu Festival Baris-Berbaris atau biasa disebut sebagai Lomba FBB. Datanglah aku ke lapangan sekolah dimana aku diharuskan berkumpul.
          “Assalamu’alaikum kawan-kawan semua, tanyaku kepada semuanya.”
          “Wa’alaikumsalam, jawab mereka serentak.”
          “Kenapa kita dikumpulkan disini, tanyaku terheran-heran.”
          “Apakah kamu tak tahu yun tentang lomba FBB di Mauk itu…????
            Seseorang kawan menjelaskan padaku.”
          “Aku tak tahu sama sekali malah, jawabku dengan wajah bingung.”
Datanglah seorang Pelatih dan ditemani Pembina Paskibra yang gagah berani serta yang  menjadi ujung tombaknya dalam mewujudkan prestasi yang akan kami ciptakan. Kalau dalam pertandingan sepakbola sih…. Disebut sebagai “COACH” and “MANAGER” yang  selalu mempunyai segudang amunisi dan sterategi untuk mencapai kejayaan dan prestasi kemenangan dalam TEAM yang solid. Kedatangan sang Pelatih dan Pembina Paskibra tidak jauh dan tidak bukan adalah untuk menjelaskan kenapa kami dikumpukan dilapangan ini.
Pembina Paskibra bertanya kepada kami semua yang dikumpulkan dilapangan ini.
          “Tahukah kalian kenapa dikumpulkan disini ?”
          “Semua menjawab serentak tahu Bu….!!!!”
Namun hanya aku yang mengatakan
          “Aku belum tahu Bu….., sebab aku masing bingung dan belum mengerti sama
            sekali.”
          “Kalian disini dikumpulkan karena sekolah kita mendapatkan surat edaran dari
            pihak Paskibraka Tingkat Kabupaten untuk mengikutsertakan sekolah kita dalam
            Ferstival Baris-Berbaris ini. Dan Ibu membawa bang Fzi kesini untuk melatih
            kalian sampai hari pelaksanaan tiba. Penjelasan Ibu Pembina dengan tegas.”


Bang Fzi yang begitu gagah pun mulai memperkenalkan diri.
          “perkenalkan nama saya bang Fzi dan saya yang akan membimbing kalian
            selama sebulan penuh ini sampai hari H tiba dan kita akan berlatih mulai besok.”
          “Salam kenal juga bang Fzi, jawab kami semua.”
          “Mohon bantuan dan kerjasamanya sampai hari pelaksanaan tiba ya,
            kata Bang Fzi dengan suaranya yang khas.”
          “Baik bang, dan mohon bimbingannya juga hee.. , Kata Bayu sambil tertawa.”
Latihan baris-berbaris yang dilakukan itu dari “terbitnya sang fajar sampai matahari mengatakan sebuah ungkapan yang indah see you next day”. Dalam melakukan kegiatan yang dilakukan sedemikian rupa ini, membuat diriku dan kawan-kawan mengeluh setiap istirahat ataupun selesai latihan, aku beserta kawanku yang lain seakan tak kuat dengan perjalanan menuju keindahan perjuangan ini. Berbagai ungkapan jiwa-jiwa yang takut akan keluhan tenaga serta kegundahan jiwa yang telah merasuk kedalam jantung karena sebuah ungkapan pisau amarah atas perlakuan kami terhadap hari yang dijalani ini oleh sang pelatih. Ungkapannya bagaikan harimau yang siap menerkam mangsa yang sedang lengah dalam sekejap.
          “Apa yang sedang kalian lakukan disini ??? Kenapa kalian tidak bersemangat??
            Ayo bangkit dan jangan menyerah disini, kalian adalah pejuang pembuat prestasi
            jangan kayak anak kecil yang baru dibentak sedikit langsung Down begitu saja.
            Ucap Bang Fzi kepada kami yang mengeluh.”
Saat waktu istirahat dan waktunya berkumpul bersama ada salah satu kawanku yang mengeluh tak kuat menjalani kegiatan ini dan mengatakan sesuatu.
          “andai kegiatan ini adalah sebuah dilema kehidupan akankah jika aku selalu
            mengeluh tentang ini aku dapat hidup berguna….?”
Satu persatu pun kawan-kawanku yang lain mulai merasakan yang sama, tak kuat lagi akan kegiatan yang sedang dilakukan ini.
          Tetapi aku dan sebagian kawan-kawan yang lain tetap berpikir positif tentang kegiatan yang sedang kami lakukan ini. Karena kami tahu semua kegiatan yang kami jalani dan lewati pastilah akan ada hikmahnya, jika kami mengeluh tentang kegiatan yang sedang dilakukan ini yang baru berjalan beberapa hari, mana mungkin apa yang kami harapkan akan dapat tercapai ataupun kami raih dengan sebuah tangis bahagia diakhir ceritanya. Al-qur’an pun menjelaskan bahwa
          “sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum ( kecuali ) bila
            mereka sendiri mengubah keadaanya ( Q.S. Ar Ra’du, Ayat 11).”
Maka aku yang tak mengeluh pun mulai bertindak memberikan suatu pengarahan kepada mereka semua disaat waktu istirahat supaya mereka tidak larut dalam keluhannya masing-masing, bangkit kembali dan dapat melanjutkan kegiatan yang seharusnya kita tekuni ini sampai hari pelaksanaan telah menjemput kami.
          “Wahai kawan-kawanku tanamkanlah perasaan sabar dan ikhlas dalam menjalani
            kegiatan ini yang akan berjalan cukup lama, seperti hadist yang mengatakan
            Ashobru yuiynu alkuli amalin yang artinya Kesabaran itu menolong setiap
            pekerjaan dan hadist satu lagi mengatakan Ashobru dli aun yang artinya
            Kesabaran itu cahaya terang-benderang. Kataku sambil memberikan semangat
            kepada mereka.”
Setelah kata-kata itu berkumandang dan mereka mendengarkan ungkapan itu, mereka semua mengatakan sesuatu kepadaku.
          “Terimakasih yun atas motivasi dan pengarahanmu untuk kami, begitu menyentuh
           hati kami, benar katamu ini semua demi sekolah maka kita semua harus semangat
           menjalani ini semua.”
Akhirnya semangat juang kawan-kawanku semuanya itu mulai bangkit “kalau dalam pertandingan sepak bola sih lagi ON FIRE”.
          Kami melakukan kegiatan bersama-sama dengan segala rasa sabar dan penuh keikhlasan. Dulu hari-hari yang kami lewati begitu suram dan gelap kini menjadi terang benderang “seperti arti hadits tadi looooh”. Tak ada lagi rasa lelah tak ada lagi rasa mengeluh di hati, perasaan yang berat untuk melangkah menuju tempat berlatih pun telah menghilang entah kemana gerangan bagai debu yang tersapu angin. Kini yang terpancar hanyalah keceriaan dan kebahagiaan yang dilalui bersama dalam menjalankan latihan baris-berbaris tersebut. Tetes air perjuangan pun selalu terjatuh dari tubuh kami, langkah demi langkah yang seirama dengan derap kaki yang syahdu menemani kami selalu dalam berlatih setiap harinya.
          Kini menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, serta minggu demi minggu telah kami lewati bersama. Dalam latihan baris-berbaris yang telah dilewati bersama selama beberapa minggu ini adalah suatu tempat pertemuan pejuang muda yang haus akan kejayaan. Jiwa-jiwa yang dulu mengeluh kini menggebu-gebu menyorakan suara perjuangan yang menyatukan jiwa-jiwa kami untuk satu tujuan yang pasti yaitu “ PRESTASI KEBANGGAAN”.
          Akhirnya hari pelaksanaan akan tiba dan memanggil jiwa-jiwa kami semua, sehari sebelum pemberangkatan menuju medan pertempuran, aku beserta kawan-kawan satu perjuangan dikarantina terlebih dahulu, tentunya bukan disuatu tempat yang menyeramkan dan mencekam jiwa kami. Akan tetapi ditempat dimana kami semua menuntut ilmu dan mengabdi kepada sang illahi yaitu sekolah kami SMAN 22 KABUPATEN TANGERANG yang kami banggakan.
          Pengarahan demi pengarahan serta kata-kata dan untaian bahasa motivasi diberikan kepada kami semua sebagai pejuang yang akan berperang di medan tempur besok ( maksudnya ikut serta dalam acara Festival Baris-Berbaris ).
          “Janganlah kalian menyerah, kalian semua telah berlatih dengan keras selama
  beberapa minggu ini dan tunjukanlah penampilan yang terbaik dari diri kalian,
  kata sang Pembina sambil memberikan semangat kepada kami semua.”
Pelatih pun ikut ambil bagian dalam pengarahan
          “Kalian tunjukan yang terbaik, jangan berharap untuk menang tapi berharaplah
            kalian tampil dalam keadaan yang paling baik, menang kalah sudah biasa yang
            penting tunjukan yang terbaik dari penampilan kalian yang lebih dari pada saat
            kalian latihan.”
          “Kalian semua jangan tidur terlalu malam supaya esok hari tubuh kalian menjadi
            fresh kembali dan tidak ada yang sakit. Ucap Pembina kepada kami dengan
            tegas.”
Kata-kata sang Pelatih dan Pembina pun kini telah menghuni jiwa kami semua dan membimbing setiap langkah kami. Dalam masa karantina ini kami semua telah merasakan rasa kekeluargaan dan menyatukan hati untuk satu tujuan bersama. Canda tawa selalu menyapa kami dan membuat kami lupa akan keluh kesah saat latihan sebulan yang lalu.
          Saat bulan telah menampakan sinarnya kamipun telah tertidur lelap merasakan indahnya tidur bersama ( jangan berpikir yang tidak-tidak ya laki-laki semua kok ) dan merasakan keadaan yang sama.
          Pukul 03.12 WIB dan pastinya itu di pagi hari tapi kalau dibilang pagi ya matahari belum menampakan sinarnya kalau di bilang malam pun ya memang masih gelap sih.. heeeee… ya sudahlah jangan dipikirkan. Kami semua dibangunkan dari tidur yang panjang tersebut oleh sang pelatih tercinta untuk melaksanakan shalat malam bersama. Walau orang bilang masih ngantuk coy …… waktunya tidur lagi kali….!!!!! Tapi itu semua harus kami lakukan demi kepentingan bersama.
          “Ayo semuanya bangun kita laksanakan shalat malam supaya saat tampil nanti
            kita semua diberikan kemudahan dan kelancaran. Ucap pelatih sambil
            membangunkan kami semua.”
Shalat malam pun dilakukan dengan penuh rasa ikhlas dan khusyu. Dalam sujudku aku berdo’a :
          “Ya Allah, hari demi hari telah kami jalani dan sampailah hari penentuan di hari
            ini maka berikanlah petunjukmu dan kuatkanlah jiwa dan raga kami ini.”
Shalat malam selesai maka dilanjutkan dengan berbagai do’a untuk menguatkan jiwa-jiwa kami yang lemah ini.
          Adzan subuh telah dikumandangkan, sebagian dari kami ada yang langsung melaksanakan  shalat subuh secara berjama’ah ada pula yang membersihkan diri terlebih dahulu. Maklum musholah sekolahku kecil jadi harus bergiliran untuk melaksanakan shalat subuhnya.
          Pukul 06.00 WIB. Waktu pemberangkatan telah tiba di hadapan mata. Akhirnya kami berangkat menggunakan kendaraan pribadi (motor masing- masing jelasnya heeee).
          Sesampai di TKP atau disebut sebagai Tempat Kejadian Perlombaan bang Fzi memberikan pengarahan.
          “Satu orang ikut abang dan sisanya bersama Pembina mencari tempat atau
            ruangan untuk istirahat dan berganti pakaian.”
          “Siap bang, jawab kami serentak.”
          “siapa yang mau ikut abang untuk melakukan registrasi ulang, tanya bang Fzi
            sambil tergesa-gesa.”
          “Fahmi pun berucap, aku saja yang ikut abang registrasi ulang yang lain mencari
            tempat untuk istirahat, aku kan sebagai danton jadi akulah yang harus
            bertanggung jawab dalam hal ini.”
          “Okay deh ayo segera bergegas karena sebentar lagi mau dimulai upacara
            pembukaannya. Kata bang Fzi.”
Fahmi dan Bang Fzi pun segera melakukan registrasi dan pengambilan nomor peserta, sisanya beserta Pembina mencari lokasi untuk beristirahat dan tempat untuk berganti pakaian. Upacara pembukaan akhirnya dimulai dan sambutan-sambutan pun dikumandangkan.
          Saatnya Festival Baris-Berbaris dimulai kami menunggu giliran dengan jantung yang berderap kencang bagaikan seorang drummer yang memainkan musik metal ataupun rock. Kami semua merasa gelisah karena ini adalah suatu babak penentuan dimana kami telah berlatih selama beberapa pekan ataupun selama sebulan lebih ditentukan pada satu hari ini.
          “Tenanglah kalian ini cuma lomba kok bawa santai aja ya, ucap Pembina sambil
            mencoba  menenangkan jiwa kami yang gelisah.”
          “okay deh Bu kami semua akan coba tenang, jawabku sebagai perwakilan.”
          Tibalah saat penampilan kami, kami semua bersiap-siap dan berganti kostum tempur untuk digunakan dan berdoa sebelum melangkah menuju lokasi perlombaan.
         
          “Ayo kalian semua bisa, anggap saja ini semua adalah saat kalian sedang latihan,
            kata bang Fzi dengan suara khasnya dari kejauhan.”
Sambil mengucap basmalah kami pun memulai penampilan kami.
          “Rusling” ketua mengucap komando.”
          “Go……. Maju…..!!!!!”
Kami langsung membalas dengan suara lantang dan melangkahkan kaki dengan irama yang merdu. Penampilan yang kami lakukan, menghilangkan semua perasaan buruk yang bersemayam dalam jiwa-jiwa kami. Tepuk tangan dan sorak-soraya juga menemani setiap langkah kaki dan penampilan yang kami lakukan.
          Waktu penentuan tiba setelah semuanya melakukan penampilan yang terbaik dari apa yang telah di tampilkan. Keputusan datang pada malam hari ditemani sebuah alunan lagu yang membuat jiwa-jiwa kami tenang dan tentram. Akhirnya pembacaan juara pun dibacakan oleh seorang MC.
Hati kami semua mulai bertanya-tanya.
          “Siapakah pemenangnya?”
          “Apakah kita akan menang ?”
Pelatih kami kami pun berkata.
          “ Kalian telah melakukan yang terbaik kalah menang bukanlah jawaban
          yang sebenarnya.”
Akhirnya MC mulai membacakan keputusan dari juri.
          “ Juara ketiga dengan score 2065 dimenangkan oleh ………S…M….A….N
          22 KABUPATEN TANGERANG.”
Kami terdiam sejenak lalu berloncat bagaikan layangan yang terbang kelangit tak menyangka kami menjadi juara. Juara kedua dimenangkan oleh MAN BALARAJA dan Juara pertama dimenangkan oleh SMAN 1 PASAR KEMIS. Pembacaan juara pun selesai.Waktunya pulang ……!!!!!!! Kami bersiap-siap dan merapikan barang bawaan.
          “Dalam hati aku berkata, walaupun hanya juara ketiga yang penting hati kami
            senang karena pulang membawa piala kemenangan dan semua latihan yang kami
            lakukan itu telah terbayarkan dengan kemenangan dihari ini.”
Seperti ungkapan MAN JADDA WAJADA yang artinya “siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil”, dan itu memang terbukti dan kamilah bukti nyatanya.

0 comments:

Posting Komentar