Disuatu ketika disaat terik matahari mulai
mencekam diri dan disertai rintihan angin di hari itu, Aku bersama kawan-kawanku dikumpulkan
dilapangan untuk mengikuti suatu acara tahunan tingkat Kabupaten Tangerang di
daerah Mauk yaitu Festival Baris-Berbaris atau biasa disebut sebagai Lomba FBB.
Datanglah aku ke lapangan sekolah dimana aku diharuskan berkumpul.
“Assalamu’alaikum kawan-kawan semua,
tanyaku kepada semuanya.”
“Wa’alaikumsalam, jawab mereka
serentak.”
“Kenapa kita dikumpulkan disini,
tanyaku terheran-heran.”
“Apakah kamu tak tahu yun tentang
lomba FBB di Mauk itu…????
Seseorang kawan menjelaskan padaku.”
“Aku tak tahu sama sekali malah,
jawabku dengan wajah bingung.”
Datanglah seorang
Pelatih dan ditemani Pembina Paskibra yang gagah berani serta yang menjadi ujung tombaknya dalam mewujudkan prestasi
yang akan kami ciptakan. Kalau dalam pertandingan sepakbola sih…. Disebut sebagai
“COACH” and “MANAGER” yang selalu mempunyai
segudang amunisi dan sterategi untuk mencapai kejayaan dan prestasi kemenangan dalam
TEAM yang solid. Kedatangan sang Pelatih dan Pembina Paskibra tidak jauh dan
tidak bukan adalah untuk menjelaskan kenapa kami dikumpukan dilapangan ini.
Pembina Paskibra
bertanya kepada kami semua yang dikumpulkan dilapangan ini.
“Tahukah kalian kenapa dikumpulkan
disini ?”
“Semua menjawab serentak tahu Bu….!!!!”
Namun hanya aku
yang mengatakan
“Aku belum tahu Bu….., sebab aku
masing bingung dan belum mengerti sama
sekali.”
“Kalian disini dikumpulkan karena
sekolah kita mendapatkan surat edaran dari
pihak Paskibraka
Tingkat Kabupaten untuk mengikutsertakan sekolah kita dalam
Ferstival Baris-Berbaris ini. Dan Ibu membawa
bang Fzi kesini untuk melatih
kalian
sampai hari pelaksanaan tiba. Penjelasan Ibu Pembina dengan tegas.”
Bang Fzi yang
begitu gagah pun mulai memperkenalkan diri.
“perkenalkan nama saya bang Fzi dan
saya yang akan membimbing kalian
selama sebulan penuh ini sampai hari H tiba dan kita akan berlatih mulai
besok.”
“Salam kenal juga bang Fzi, jawab kami
semua.”
“Mohon bantuan dan kerjasamanya sampai
hari pelaksanaan tiba ya,
kata Bang Fzi dengan suaranya yang khas.”
“Baik bang, dan mohon bimbingannya
juga hee.. , Kata Bayu sambil tertawa.”
Latihan baris-berbaris
yang dilakukan itu dari “terbitnya sang fajar sampai matahari mengatakan sebuah
ungkapan yang indah see you next day”. Dalam melakukan kegiatan yang dilakukan
sedemikian rupa ini, membuat diriku dan kawan-kawan mengeluh setiap istirahat ataupun selesai latihan, aku beserta kawanku yang lain
seakan tak kuat dengan perjalanan menuju keindahan perjuangan ini. Berbagai
ungkapan jiwa-jiwa yang takut akan keluhan tenaga serta kegundahan jiwa yang
telah merasuk kedalam jantung karena sebuah ungkapan pisau amarah atas
perlakuan kami terhadap hari yang dijalani ini oleh sang pelatih. Ungkapannya
bagaikan harimau yang siap menerkam mangsa yang sedang lengah dalam sekejap.
“Apa yang sedang kalian lakukan disini
??? Kenapa kalian tidak bersemangat??
Ayo bangkit dan jangan menyerah disini, kalian adalah pejuang pembuat
prestasi
jangan kayak anak kecil yang baru dibentak sedikit langsung Down begitu
saja.
Ucap Bang Fzi kepada kami yang mengeluh.”
Saat waktu
istirahat dan waktunya berkumpul bersama ada salah satu kawanku yang mengeluh
tak kuat menjalani kegiatan ini dan mengatakan sesuatu.
“andai kegiatan ini adalah sebuah
dilema kehidupan akankah jika aku selalu
mengeluh tentang ini aku dapat hidup
berguna….?”
Satu persatu pun
kawan-kawanku yang lain mulai merasakan yang sama, tak kuat lagi akan kegiatan
yang sedang dilakukan ini.
Tetapi aku dan sebagian kawan-kawan
yang lain tetap berpikir positif tentang kegiatan yang sedang kami lakukan ini.
Karena kami tahu semua kegiatan yang kami jalani dan lewati pastilah akan ada
hikmahnya, jika kami mengeluh tentang kegiatan yang sedang dilakukan ini yang
baru berjalan beberapa hari, mana mungkin apa yang kami harapkan akan dapat
tercapai ataupun kami raih dengan sebuah tangis bahagia diakhir ceritanya.
Al-qur’an pun menjelaskan bahwa
“sesungguhnya
Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum ( kecuali ) bila
mereka
sendiri mengubah keadaanya ( Q.S. Ar Ra’du, Ayat 11).”
Maka aku yang
tak mengeluh pun mulai bertindak memberikan suatu pengarahan kepada mereka
semua disaat waktu istirahat supaya mereka tidak larut dalam keluhannya
masing-masing, bangkit kembali dan dapat melanjutkan kegiatan yang seharusnya
kita tekuni ini sampai hari pelaksanaan telah menjemput kami.
“Wahai kawan-kawanku tanamkanlah perasaan
sabar dan ikhlas dalam menjalani
kegiatan ini yang akan berjalan cukup lama, seperti hadist yang
mengatakan
Ashobru yuiynu alkuli amalin yang artinya Kesabaran itu menolong setiap
pekerjaan dan hadist satu lagi mengatakan Ashobru dli aun yang artinya
Kesabaran itu cahaya terang-benderang. Kataku
sambil memberikan semangat
kepada mereka.”
Setelah
kata-kata itu berkumandang dan mereka mendengarkan ungkapan itu, mereka semua
mengatakan sesuatu kepadaku.
“Terimakasih yun atas motivasi dan pengarahanmu
untuk kami, begitu menyentuh
hati kami, benar katamu ini semua demi sekolah
maka kita semua harus semangat
menjalani ini semua.”
Akhirnya
semangat juang kawan-kawanku semuanya itu mulai bangkit “kalau dalam pertandingan
sepak bola sih lagi ON FIRE”.
Kami melakukan kegiatan bersama-sama
dengan segala rasa sabar dan penuh keikhlasan. Dulu hari-hari yang kami lewati
begitu suram dan gelap kini menjadi terang benderang “seperti arti hadits tadi
looooh”. Tak ada lagi rasa lelah tak ada lagi rasa mengeluh di hati, perasaan
yang berat untuk melangkah menuju tempat berlatih pun telah menghilang entah
kemana gerangan bagai debu yang tersapu angin. Kini yang terpancar hanyalah
keceriaan dan kebahagiaan yang dilalui bersama dalam menjalankan latihan baris-berbaris
tersebut. Tetes air perjuangan pun selalu terjatuh dari tubuh kami, langkah
demi langkah yang seirama dengan derap kaki yang syahdu menemani kami selalu
dalam berlatih setiap harinya.
Kini menit demi menit, jam demi jam,
hari demi hari, serta minggu demi minggu telah kami lewati bersama. Dalam
latihan baris-berbaris yang telah dilewati bersama selama beberapa minggu ini
adalah suatu tempat pertemuan pejuang muda yang haus akan kejayaan. Jiwa-jiwa
yang dulu mengeluh kini menggebu-gebu menyorakan suara perjuangan yang
menyatukan jiwa-jiwa kami untuk satu tujuan yang pasti yaitu “ PRESTASI
KEBANGGAAN”.
Akhirnya hari pelaksanaan akan tiba
dan memanggil jiwa-jiwa kami semua, sehari sebelum pemberangkatan menuju medan
pertempuran, aku beserta kawan-kawan satu perjuangan dikarantina terlebih
dahulu, tentunya bukan disuatu tempat yang menyeramkan dan mencekam jiwa kami.
Akan tetapi ditempat dimana kami semua menuntut ilmu dan mengabdi kepada sang
illahi yaitu sekolah kami SMAN 22 KABUPATEN TANGERANG yang kami banggakan.
Pengarahan demi pengarahan serta
kata-kata dan untaian bahasa motivasi diberikan kepada kami semua sebagai
pejuang yang akan berperang di medan tempur besok ( maksudnya ikut serta dalam acara Festival Baris-Berbaris ).
“Janganlah kalian menyerah, kalian
semua telah berlatih dengan keras selama
beberapa minggu ini dan tunjukanlah
penampilan yang terbaik dari diri kalian,
kata
sang Pembina sambil memberikan semangat kepada kami semua.”
Pelatih pun ikut
ambil bagian dalam pengarahan
“Kalian tunjukan yang terbaik, jangan
berharap untuk menang tapi berharaplah
kalian tampil dalam keadaan yang paling baik, menang kalah sudah biasa
yang
penting tunjukan yang terbaik dari penampilan kalian yang lebih dari
pada saat
kalian latihan.”
“Kalian semua jangan tidur terlalu
malam supaya esok hari tubuh kalian menjadi
fresh kembali dan tidak ada yang sakit. Ucap Pembina kepada kami dengan
tegas.”
Kata-kata sang Pelatih
dan Pembina pun kini telah menghuni jiwa kami semua dan membimbing setiap
langkah kami. Dalam masa karantina ini kami semua telah merasakan rasa
kekeluargaan dan menyatukan hati untuk satu tujuan bersama. Canda tawa selalu
menyapa kami dan membuat kami lupa akan keluh kesah saat latihan sebulan yang
lalu.
Saat bulan telah menampakan sinarnya
kamipun telah tertidur lelap merasakan indahnya tidur bersama ( jangan berpikir yang tidak-tidak ya
laki-laki semua kok ) dan merasakan keadaan yang sama.
Pukul 03.12 WIB dan pastinya itu di
pagi hari tapi kalau dibilang pagi ya matahari belum menampakan sinarnya kalau
di bilang malam pun ya memang masih gelap sih.. heeeee… ya sudahlah jangan
dipikirkan. Kami semua dibangunkan dari tidur yang panjang tersebut oleh sang
pelatih tercinta untuk melaksanakan shalat malam bersama. Walau orang bilang
masih ngantuk coy …… waktunya tidur lagi kali….!!!!! Tapi itu semua harus kami
lakukan demi kepentingan bersama.
“Ayo semuanya bangun kita laksanakan
shalat malam supaya saat tampil nanti
kita semua diberikan kemudahan dan kelancaran. Ucap pelatih sambil
membangunkan kami semua.”
Shalat malam pun
dilakukan dengan penuh rasa ikhlas dan khusyu. Dalam sujudku aku berdo’a :
“Ya
Allah, hari demi hari telah kami jalani dan sampailah hari penentuan di hari
ini
maka berikanlah petunjukmu dan kuatkanlah jiwa dan raga kami ini.”
Shalat malam
selesai maka dilanjutkan dengan berbagai do’a untuk menguatkan jiwa-jiwa kami
yang lemah ini.
Adzan subuh telah dikumandangkan,
sebagian dari kami ada yang langsung melaksanakan shalat subuh secara berjama’ah ada pula yang
membersihkan diri terlebih dahulu. Maklum musholah sekolahku kecil jadi harus
bergiliran untuk melaksanakan shalat subuhnya.
Pukul 06.00 WIB. Waktu pemberangkatan
telah tiba di hadapan mata. Akhirnya kami berangkat menggunakan kendaraan
pribadi (motor masing- masing jelasnya heeee).
Sesampai di TKP atau disebut sebagai
Tempat Kejadian Perlombaan bang Fzi memberikan pengarahan.
“Satu orang ikut abang dan sisanya
bersama Pembina mencari tempat atau
ruangan untuk istirahat dan berganti pakaian.”
“Siap bang, jawab kami serentak.”
“siapa yang mau ikut abang untuk
melakukan registrasi ulang, tanya bang Fzi
sambil tergesa-gesa.”
“Fahmi pun berucap, aku saja yang ikut
abang registrasi ulang yang lain mencari
tempat untuk istirahat, aku kan sebagai danton jadi akulah yang harus
bertanggung jawab dalam hal ini.”
“Okay deh ayo segera bergegas karena
sebentar lagi mau dimulai upacara
pembukaannya. Kata bang Fzi.”
Fahmi dan Bang
Fzi pun segera melakukan registrasi dan pengambilan nomor peserta, sisanya
beserta Pembina mencari lokasi untuk beristirahat dan tempat untuk berganti
pakaian. Upacara pembukaan akhirnya dimulai dan sambutan-sambutan pun
dikumandangkan.
Saatnya Festival Baris-Berbaris
dimulai kami menunggu giliran dengan jantung yang berderap kencang bagaikan
seorang drummer yang memainkan musik metal ataupun rock. Kami semua merasa
gelisah karena ini adalah suatu babak penentuan dimana kami telah berlatih
selama beberapa pekan ataupun selama sebulan lebih ditentukan pada satu hari
ini.
“Tenanglah kalian ini cuma lomba kok
bawa santai aja ya, ucap Pembina sambil
mencoba menenangkan jiwa kami
yang gelisah.”
“okay deh Bu kami semua akan coba
tenang, jawabku sebagai perwakilan.”
Tibalah saat penampilan kami, kami
semua bersiap-siap dan berganti kostum tempur untuk digunakan dan berdoa
sebelum melangkah menuju lokasi perlombaan.
“Ayo kalian semua bisa, anggap saja
ini semua adalah saat kalian sedang latihan,
kata bang Fzi dengan suara khasnya dari kejauhan.”
Sambil mengucap
basmalah kami pun memulai penampilan kami.
“Rusling” ketua mengucap komando.”
“Go……. Maju…..!!!!!”
Kami langsung
membalas dengan suara lantang dan melangkahkan kaki dengan irama yang merdu.
Penampilan yang kami lakukan, menghilangkan semua perasaan buruk yang
bersemayam dalam jiwa-jiwa kami. Tepuk tangan dan sorak-soraya juga menemani
setiap langkah kaki dan penampilan yang kami lakukan.
Waktu penentuan tiba setelah semuanya
melakukan penampilan yang terbaik dari apa yang telah di tampilkan. Keputusan
datang pada malam hari ditemani sebuah alunan lagu yang membuat jiwa-jiwa kami
tenang dan tentram. Akhirnya pembacaan juara pun dibacakan oleh seorang MC.
Hati kami semua
mulai bertanya-tanya.
“Siapakah pemenangnya?”
“Apakah kita akan menang ?”
Pelatih kami
kami pun berkata.
“ Kalian telah melakukan yang terbaik
kalah menang bukanlah jawaban
yang sebenarnya.”
Akhirnya MC
mulai membacakan keputusan dari juri.
“ Juara ketiga dengan score 2065
dimenangkan oleh ………S…M….A….N
22 KABUPATEN TANGERANG.”
Kami terdiam
sejenak lalu berloncat bagaikan layangan yang terbang kelangit tak menyangka
kami menjadi juara. Juara kedua dimenangkan oleh MAN BALARAJA dan Juara pertama
dimenangkan oleh SMAN 1 PASAR KEMIS. Pembacaan juara pun selesai.Waktunya
pulang ……!!!!!!! Kami bersiap-siap dan merapikan barang bawaan.
“Dalam hati aku berkata, walaupun
hanya juara ketiga yang penting hati kami
senang
karena pulang membawa piala kemenangan dan semua latihan yang kami
lakukan
itu telah terbayarkan dengan kemenangan dihari ini.”
Seperti ungkapan
MAN JADDA WAJADA yang artinya “siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan
berhasil”, dan itu memang terbukti dan kamilah bukti nyatanya.








0 comments:
Posting Komentar