Sabtu, 05 November 2011

Maafku untuk Ayahku

 Miranda Sheila Puspita
(Peserta Lomba Cerpen se-FMIPA UNY dalam rangka Dies Natalis Jurdik Kimia ke-55 Tahun)


Aku kayuh pedal sepeda lebih cepat menuju tempat tujuanku sekitar tiga blok lagi.  Tak aku hiraukan panasnya sengatan sinar matahari.  Aku harus cepat-cepat menuju rumah itu sebelum pemilik rumah pergi ke luar negeri.  Aku harus segera mengantarkan pesanan ini.  Bisa gawat jadinya kalau pesanan ini tidak sampai ke pemesannya, bisa dipecat aku alamaak!

Akhirnya sampai juga aku di depan rumah pemesan, dengan nafas tersengal-sengal tentu saja.  Rumah mewah bergaya klasik dengan halaman yang seluas lapangan bola di GBK ini membuat aku bingung bagaimana cara masuknya.  Maklumlah aku hanya orang kampung yang tiba-tiba saja bekerja di sebuah toko di ibukota.  Malu bertanya, sesat di jalan.  Tak ada tindakan, tak ada hasil.  Aku beranikan diri untuk melongok ke pagar rumah setinggi tiang listrik.  Sepi.  Hanya ada mobil tanpa pemiliknya.

“Wow Ferrari!” teriakku yang tentu saja hanya aku teriakan dalam kepalaku.  “Kapan aku bisa membeli mobil semewah itu? Hasyah mimpi!” kataku yang tentu saja hanya ada dalam kepalaku.

“Maaf tidak menerima peminta sumbangan baik yang legal maupun ilegal.” seru seseorang.
“Alamak bikin kaget saja Pak!  Saya bukan peminta sumbangan baik legal maupun ilegal atau penjual suara baik kabupaten, ibukota maupun internasional.  Saya mencari Ibu Bellatrix, Pak.” Kataku kepada satpam rumah mewah ini.  Tak hanya rumahnya yang luas bahkan satpamnya juga luas badannya macam preman di kampung halamanku.

“Ooh bilang dong kalau mencari Nyonya.  Silakan masuk.” Kata satpam sembari membukakan pintu pagar dengan mudahnya.  Ada untungnya juga satpam itu mempunyai tubuh yang kekar dan dada bidang, berbeda dengan badanku yang hanya tulang berbalut kulit.  Sudah pasti pagarnya tak akan bergerak walau hanya satu milimeter.

“Terima kasih, Pak!” ucapku.

“Nyonya ada di dalam.  Mari ikut saya.” ajak satpam.

Aku mengikuti satpam itu dengan mata jelalatan.  Bukan mencari wanita atau uang yang mungkin jatuh tapi mengagumi betapa luasnya rumah ini!  Aku jadi penasaran apa tidak capek menyapu halaman seluas ini?  Aku saja sudah capek berjalan dari pagar hingga depan pintu.

“Silakan masuk.”

“Haah terima kasih, Pak!” kataku.  Saat melongok di depan pintu masuk ternyata Ibu Bellatrix sedang duduk di ruang tamu.  Semoga saja beliau tidak melihat kelakuanku yang barusan, sungguh memalukan!

“Eh Mas Ridwan!  Ayo masuk Mas!  Tidak usah malu-malu!” seru Bu Bella.

Bukannya malu tapi malu-maluin, haduh biyung....

“Iya, Bu.  Terima kasih.  Saya hanya ingin mengantarkan kiriman.” kataku sambil menyerahkan kardus besar pesanannya.

“Wah terima kasih banyak lho Mas!  Cepat sekali jadinya!  Pak, tolong kardusnya diletakkan di bagasi mobil.” perintah Bu Bella.

“Lho tidak dilihat dulu apakah pesanannya sesuai atau tidak?” tanyaku.  Biasanya Bu Bella selalu meneliti pesanannya.

“Tidak usah!  Saya selalu puas dengan hasil kerajinan Mas Ridwan malah sangat puas karena hasilnya sungguh jauh lebih bagus dari yang saya pikirkan.  Bukan hanya saya bahkan klien-klien suami saya juga menyukainya.  Mas Ridwan memang berbakat!” puji Bu Bella berlebihan.

“Maaf bukannya saya tidak suka tapi rasanya kurang pas kalau Bu Bella memuji saya seperti itu.  Saya mengerjakan pesanan Ibu juga dibantu oleh yang lainnya.  Pujian itu hanya pantas diberikan kepada orang yang membuatnya.”

“Mas Ridwan tidak berubah sejak kita bertemu.  Iya tolong pujian saya disampaikan kepada karyawan-karyawan yang bekerja di tempat Mas Ridwan.  Walaupun menurut saya pujian itu lebih tepat ditujukan kepada Mas Ridwan karena Mas Ridwan yang mengajari mereka membuat kerajinan keramik yang begitu indahnya.  Ooh iya sisa pembayaran akan saya bayarkan setelah ini sebelum saya berangkat ke Australia.”

“Iya, terima kasih banyak, Bu.” kataku.

“Sama-sama.  Kalau ada klien suami saya yang tertarik, saya akan menelpon lagi.”

“Dengan senang hati akan saya kerjakan pesanan Ibu dengan hasil yang memuaskan.  Kalau begitu saya permisi pamit.  Sekali lagi terima kasih.” kataku sambil menjabat tangan Bu Bella yang disambut Bu Bella.

Sekarang aku melanjutkan perjalananku ke toko kerajinan.  Milikku....

Toko kerajinan dari batu alam ini sudah aku kelola sekitar hampir lima tahun.  Masih sangat baru bila dibandingkan toko-toko kerajinan yang lain tapi aku bersyukur walau masih baru sudah banyak pelangganku dari berbagai kota termasuk ke luar negeri.  Ini semua berkat ayah tiriku.  Ibuku bercerai dengan ayahku saat aku berumur lima tahun dan menikah lagi.  Sejak ibu menikah lagi, aku selalu mendapat perlakuan yang istimewa dibandingkan dengan saudara-saudara tiriku.  Dari mulai memasak, mencuci baju, membersihkan rumah sampai memandikan adik-adik tiriku semuanya aku yang mengerjakan.  Aku juga harus menjadi loper koran hanya untuk membeli sepatu.  Ayah tiriku sangat baik hati untuk tidak mengeluarkan uang sepeserpun untuk memenuhi kebutuhanku, biaya sekolah saja semua menjadi tanggungan nenekku.  Ibu berprofesi sebagai sinden dan penari dengan bayaran yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dapur.

“Bangun! Dasar pemalas!  Cepat rebus air lalu mandikan adik-adikmu!  Antarkan mereka ke sekolah!  Dan jangan lupa sapu rumah dan halaman!” perintah ayah tiriku sambil memukuliku dengan sapu lidi.

Setiap pagi, aku selalu mendapat perlakuan yang sangat luar biasa dari ayah.  Pernah juga aku diguyur air hanya karena aku tidur siang.  Aku tak sengaja tertidur saat menemani adik tiriku yang paling kecil.  Adikku tak mau tidur siang bila aku tidak menemaninya tapi yang menemani juga ikut tertidur.  Ayah marah sekali melihat aku tidur tapi tak pernah sekalipun marah bila melihat anak-anak kandungnya tidur siang.

Kegiatan sehari-hariku selain menjadi asisten pribadi ayah adalah sekolah dan bekerja.  Sebelum berangkat sekolah, aku menyiapkan semua kebutuhan empat orang adik tiriku dan membersihkan rumah lalu aku mengantar mereka ke sekolah dan aku berangkat sendiri ke sekolahku yang berlawanan arah dengan sekolah mereka.  Pulang sekolah tentu saja aku pulang ke rumah untuk menemani adik tiriku tidur siang dan membantu nenek di warung makan walau hanya sebentar.  Kemudian aku beralih profesi menjadi loper koran.  Apakah ibu tahu aku bekerja sebagai loper koran?  Tentu saja tahu!  Tentu saja tidak bisa melarangku karena aku harus memenuhi kebutuhanku termasuk untuk membayar buku.

Suatu hari aku membeli sepeda dengan uang hasil keringatku.  Aku butuh sekali sepeda karena tiap hari aku selalu terlambat datang ke sekolah.  Betapa senangnya aku membayangkan aku tidak akan terlambat datang ke sekolah.  Aku amat sangat bahagia sekali saat itu!  Kebahagiaan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya.  Ternyata Tuhan tak ingin kebahagiaan itu berlama-lama aku rasakan karena sepeda itu rusak sekitar tiga hari setelah aku membelinya.  Rusak karena adik tiriku yang laki-laki ingin selalu memakai sepedaku padahal sepeda itu adalah alat transportasiku menuju sekolah.  Dia menangis dan ayah marah lalu melempar sepedaku yang kemudian ditangkap oleh mobil bak terbuka.  Aku menahan tangisku padahal aku ingin sekali menjerit dan menangis sejadi-jadinya.  Dan pertahananku jebol saat aku berjalan menuju sekolahku.

“Woi Bos!  Mau kemana?” tanya Amir, salah satu karyawanku.

“Ya ke toko.  Kamu lagi ngapain di sini, Mir?  Cuti kerja?” jawabku sambil menghentikan sepeda.

“Toko mana, Bos?”

“Ya toko kerajinan tempat kamu kerja, terus mana lagi kalau bukan itu?”

“Lha ini tokonya, Bos!” seru Amir sambil menunjuk papan bertuliskan “TOKO KERAJINAN BATU ONYX”

“Haduh aku ngalamun!  Untung tadi kamu manggil aku!  Kalau ndak,celaka aku!”

“Ha ha ha ha Bos mikir apa nyampe toko sendiri saja lupa tempatnya dimana.” goda Amir.

“Aku tadi teringat masa kecilku yang indah.  Saking asyiknya malah ndak tahu kalau sudah sampai di toko.  Pesanan dari Malaysia sudah selesai belum?  Ayo cepat diselesaikan!  Lalu dikirimkan!  Semakin cepat, semakin baik!  Kita harus selalu tepat waktu!  Itulah moto toko kita!”

“Siap, Bos!” seru karyawan-karyawanku yang lain.

Aku mengajarkan disiplin pada para karyawan dan anakku.  Ini adalah kunci keberhasilanku.

Setelah lulus Sekolah Menengah Atas, aku nekat pergi dari rumah.  Entah kemana tujuanku asal aku dapat keluar dari rumah itu.  Aku putuskan untuk merantau ke Kalimantan dan menginap di rumah pamanku.  Selama tinggal di Kalimantan, aku bekerja serabutan.  Asal ada uang untuk makan karena biaya hidup di Kalimantan sangatlah mahal dibandingkan di Jawa.  Aku pernah bekerja menjadi kuli bangunan tapi tak bertahan lama.  Bagaimana bisa betah bila rumah yang dibangun berada jauh di dalam hutan belantara dan aku tinggal di sebuah rumah bekas tempat pembunuhan orang-orang dari Madura saat penjajahan dulu.  Rumah transit itu tampak biasa saja dan sangat luar biasa begitu matahari tenggelam dimana orang yang tinggal di rumah itu tiba-tiba saja menjadi bertambah.  Selain itu, mencari air saja susah dan aku harus minum air yang berwarna merah seperti darah.

Bosan di Kalimantan, aku pergi ke Tulungagung.  Di sinilah aku belajar memahat dan mengukir berbagai macam batu termasuk onyx yang sangat mahal harganya.  Kemudian aku pindah lagi ke Bali dan membuka usaha di Denpasar dengan modal yang sangat sedikit bahkan bisa dibilang hanya cukup untuk makan selama dua minggu.  Aku terus mencari modal usaha tapi sampai sepuluh hari tinggal di Denpasar aku tidak ada penghasilan.  Aku tak tega melihat anakku yang selalu menangis karena lapar.  Aku juga tak tega membiarkan istriku hidup susah karena menikah denganku.  Seharusnya aku membahagiakan istriku bukan mengajaknya untuk hidup susah.  Akhirnya aku nekat untuk menjadi makelar kerajinan batu dari Tulungagung untuk dijual di Bali.  Pekerjaan ini tak selalu lancar, terkadang aku untung besar dan terkadang aku tak dapat uang sama sekali.

Lalu temanku yang mempunyai usaha kerajinan di Tulungagung memberikan padaku beberapa balok batu dan peralatan ukir dengan maksud aku membuat kerajinanku sendiri.  Dari sinilah aku mulai merintis usahaku sendiri.  Bukan hal yang mudah karena aku tak ada modal lebih untuk mengembangkan usaha ini tapi aku terus berjuang untuk menciptakan suatu kerajinan yang beda dari yang lain.  Saat aku berjuang itu aku mendapat berita bahwa ibu meninggal.  Betapa sedihnya aku saat itu.  Aku hidup seorang diri di dunia ini, aku sebatang kara...

Betapa terpukulnya aku atas kematian ibuku yang kemudian berimbas pada tak maksimalnya pekerjaanku bahkan aku sempat tertipu orang hingga puluhan juta.  Semua karena kesedihanku...

“Ayah ndak sendirian, masih ada ibu dan ada Nabil.  Ibu tahu bahwa hanya Bunda saja satu-satunya keluarga ayah dan yang lain adalah keluarga tiri yang telah menorehkan luka di hati ayah.  Ini bukan akhir dari segalanya karena ayah sekarang sudah mempunyai keluarga kecil dan Nabil sangat membutuhkan perhatian ayah.  Ingatkah ayah pernah bilang kalau tak ingin mengecewakan Nabil?” kata istriku saat aku duduk termenung di teras.

“Iya, ayah tak ingin membuat Nabil sedih.  Ayah ingin membuat Nabil senang di masa kanak-kanaknya karena ayah tak pernah merasakan masa kecil yang membahagiakan.”

“Kalau begitu ayah harus terus berjuang demi mencapai tujuan ayah itu.”

Sejak itu aku terus berjuang demi istri dan anakku dan inilah hasilnya.  Sebuah gubuk yang mewah dengan gerobak merek Mercedes dan sebuah toko kerajinan di kota Denpasar dengan sepuluh karyawan.  Bukan itu saja, aku juga menghidupi ayah tiriku yang sudah dua tahun ini mengidap stroke dan tak ada yang merawatnya.  Sungguh ironis sekali bahwa orang yang tak pernah kau anggap malah menjadi penolong bagimu di saat kau tak berdaya.
Tuhan sungguh Engkau Maha Adil.  Engkau melatihku untuk menjadi orang yang tabah dan tegar melalui ayah tiriku dan Engkau menjadikan aku orang yang sukses berkat pelajaran hidup itu.  Kemudian Engkau melatih ayah tiriku untuk menghargai orang lain melalui penyakit dan Engkau juga melatihku untuk belajar memaafkan orang yang telah menyakitiku.  Terima kasih Tuhan...

0 comments:

Posting Komentar