Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, ditambah dengan derasnya arus globalisasi, tentu membawa perubahan pola hidup bagi manusia. Ilmu pengetahuan merupakan usaha manusia untuk memahami gejala dan fakta alam, lalu melestarikan pengetahuan tersebut secara konsepsional dan sistematis. Sedangkan teknologi adalah usaha manusia untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan itu untuk kepentingan dan kesejahteraan. Karena hubungan tersebut, maka perkembangan ilmu pengetahuan selalu terkait dengan perkembangan teknologi, demikian pula sebaliknya (Herimanto, 2008).
Perkembangan iptek dan globalisasi memberikan dampak yang positif dan negatif di berbagai bidang. Sebagai contoh, dampak positif di bidang informasi dan komunikasi adalah mudah mendapatkan informasi dan melakukan komunikasi. Tetapi, dampak negatifnya adalah penyalahgunaan suatu informasi. Hal ini akan menunculkan masalah baru, yaitu kemerosotan moral.
Salah satu bentuk perilaku kemerosotan moral adalah pergaulan bebas. “Bebas” yang dimaksud disini adalah melewati batas-batas norma ketimuran yang ada. Masalah pergaulan bebas ini sering kita dengar baik di lingkungan maupun dari media massa.
Moral adalah perilaku yang sesuai dengan ide-ide umum yang diterima oleh masyarakat mengenai tindakan manusia yang baik dan wajar. Tolak ukur nilai baik dan buruk dalam pembahasan moral adalah norma-norma yang hidup di dalam masyarakat (Ajat Sudrajat, 2008). Indonesia menganut norma kebudayaan timur, yang menganggap pergaulan bebas adalah hal yang tidak selayaknya dan orang yang melakukannya akan dikucilkan atau dicela.
Remaja adalah individu labil yang emosinya rentan tidak terkontrol oleh pengendalian diri yang benar. Masalah keluarga, kekecewaan, pengetahuan yang minim, dan ajakan teman-teman untuk bergaul bebas membuat makin berkurangnya potensi generasi muda Indonesia dalam memajukan bangsa.
Pergaulan bebas yang muncul di Indonesia antara lain disebabkan oleh beberapa hal berikut :
a. Kurangnya pegangan hidup remaja dalam hal keyakinan/agama dan ketidakstabilan emosi remaja.
b. Pengaruh kebudayaan luar yang masuk tanpa kontrol seperti melalui media cetak, elektronik, dan internet.
c. Pengaruh lingkungan atau pergaulan karena pada masa remaja, rasa keingintahuan mereka sangat besar.
d. Sikap mental yang tidak sehat membuat banyaknya remaja merasa bangga terhadap pergaulan yang sebenarnya merupakan pergaulan yang tidak sepantasnya, tetapi mereka tidak memahami karena daya pemahaman yang lemah.
e. Pelampiasan kekecewaannya terhadap orangtua yang bersifat otoriter ataupun terlalu membebaskan, sekolah yang memberikan tekanan terus menerus (baik dari segi prestasi maupun dikarenakan peraturan yang terlalu mengikat), atau lingkungan masyarakat yang memberikan masalah dalam sosialisasi sehingga menjadikan remaja sangat labil dalam mengatur emosi.
f. Kegagalan remaja menyerap norma disebabkan karena norma-norma yang ada sudah tergeser oleh modernisasi yang sebenarnya adalah westernisasi.
Dampak yang ditimbulkan oleh pergaulan bebas ini, antara lain : perasaan berdosa kepada Tuhan, hilangnya masa depan yang cerah, beresiko tinggi terkena penyakit menular, dan lain-lain.
Tetapi, tentu saja ada solusi di balik permasalahan ini. Solusi tersebut misalnya adalah meningkatkan iman dan takwa kepada Tuhan, menjaga keseimbangan pola hidup, dan membuka komunikasi dengan orang lain dan lingkungan.
referensi :
Ajat Sudrajat. 2009. Din Al-Islam Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum. Yogyakarta : UNY Press
Herimanto. 2009. Ilmu Sosial & Budaya Dasar. Jakarta Timur : Bumi Aksara
Herimanto. 2009. Ilmu Sosial & Budaya Dasar. Jakarta Timur : Bumi Aksara








0 comments:
Posting Komentar