Jumat, 29 April 2011

Gantungan Terakhir

 by : Marizcka Resnawati


“Hey Ka, ayo main dam-daman lagi!!! Kali ini aku pasti menang!! Aku yakin!” teriak Rizky yang datang dari arah utara dengan sepedanya.

“ Kapan kamu menang?? Ha...ha... udah dweh paling juga kalah seperti biasanya,” jawabku mulai mengendarai sepeda.

“ Ga kok!! Aku yakin sekarang aku pasti menang! Ayo kita buktikan! Kalau aku menang, kamu harus kasih gantungan Conan itu padaku! Gimana? Setuju?!”
Beberapa saat aku berpikir dan menahan ayuhan sepedaku. Berani amat dia mengajakku bermain dengan taruhan gantungan Conan!!! Ah,,,paling juga dia kalah lagi.

“Humph,,,oke!! Sekarang kita ke tempat biasa bermain. Tapi aku ada satu syarat untukmu. “ jawabku.

“apa?” tanya Rizky.

“kalau kamu kalah, belikan 10 gantungan Conan yang berbeda. Setuju?”

“oke!! Siapa takut!” jawab Rizky tegas.

Rizky dan Deka bersepeda bersama menuju tempat biasa mereka bermain dam-daman. Siang itu, mereka beradu lagi tapi dengan taruhan gantungan Conan. Di bawah pohon duku, 3 orang teman lainnya sedang bermain lompat tali. Setibanya di tempat tersebut, Rizky dan Deka menghampiri ketiga temannya dan mengajak mereka untuk menjadi saksi permainan atau lebih tepatnya taruhan.

“ Hey Diaz, Ana, Rey!! Ayo lihat permainan kami! Sini!” teriak Rizky pada tiga orang teman kita.

“ kenapa Qy? Main apa? Dam-daman lagi ya? Ah...paling juga kamu kalah dari Deka!! Udah dweh ga usah mempermalukan diri sendiri...” sahut Rey memperolok Rizky.

“kali ini aku pasti menang Rey, aku taruhan lho sama dia!” jawab Rizky.

“taruhan?” tanya Ana.

Sontak Diaz dan Rey menghentikan permainan sebentar.

“ ya Na!! Kalo aku menang, gantungan itu jadi milikku! Ha...ha....” lanjut Rizky sambil menunjuk gantungan Conanku satu-satunya.

“ah...udah-udah. Ayo kita mulai main.” ajakku pada Rizky.

“kalau kalian mau lihat dia kalah lagi, ayo kesini!” teriak Deka pada ketiga temannya.

Akhirnya Diaz, Ana, dan Rey berhenti bermain dan mengikuti ajakan Deka untuk mendukungnya. Deka mulai menggambar model permainan dam-daman di tanah, tepat di bawah pohon duku. Sementara Rizky berkeliling mencari batu kecil dan pecahan genteng sebagai pionnya.

^^^

Setelah dua babak permainan, skor mereka imbang, 1-1. Sekarang babak terakhir untuk penentuan pemenangnya. Rizky sudah terbiasa kalah, tapi kali ini dia tidak mau hal itu terulang lagi. Dia sudah bisa membaca jalan permainan dari Deka. Oleh karena iru, dia harus berpikir dulu sebelum menjalankan batu miliknya.

“oke,, sekarang babak penentuan siapa yang jadi pemenangnya ya! Ga boleh ada yang curang lho! Permainan dimulai dari Deka. Ayo!” kata Diaz memberikan aba-aba pada Deka untuk menjalankan pionnya.

“hore..........!!!!!!!!! aku menang!! Kali ini aku menang dari Deka. Yes! Yes! Yes!” teriak Rizky sambil berputar-putar mengelilingi keempat temannya.

“oke..oke...baru kali ini aku dikalahkan sama kamu! Lain kali aku pasti menang lagi!” sahut Deka.

“lain kali?? Aku ga janji!! Ka,,ayo kasihkan gantunganmu! Sini!” kata Rizky sambil mengambil gantungan Conan di kunci sepedaku.

“eh...eh...” tanganku berusaha menahan tarikan Rizky yang secara paksa.

“yes!!! Akhirnya aku bisa dapat gantungan Conan yang ini! Makasih ya Ka!”

Deka menjadi diam dan terlihat kecewa. Dia masih belum percaya kalau Rizky bisa mengalahkannya. Apalagi dia harus kehilangan gantungan Conan yang jarang terdapat di desanya. Gantungan itu ia beli dengan uang tabungnnya selama 1 bulan dan ia membelinya di kota kecamatan.

“udah Ka,,biarin aja Rizky menang sekarang, besok kalau kamu main lagi sama dia dan kamu menang, kamu ambil gantunganmu lagi. Oke!! Cup..cup..jangan nangis duonk.” ucap Ana sambil menepuk bahu Deka.

“oke dweh Ka,,aku pulang duluan ya! Udah ditunggu sama Ibu buat beres-beres. Dah!!!”
Rizky berjalan menuju sepedanya dan melambaikan tangan pada teman-temannya. Diaz dan Rey mengikutinya dari belakang dan meninggalkan Deka bersama Ana.

“Qy,,besok kita bertaruh lagi ya??? Aku mau ambil lagi gantunganku!”teriak Deka sambil berlari kecil mengejar kepergian Rizky.

“aku ga janji Ka!!!” sahut Rizky sambil berlalu dengan sepedanya.

^^^

Sesampainya di rumah, Rizky langsung membereskan semua pakaian dan mainannya ke dalam koper dan kardus. Hari ini adalah hari terakhir dia di Majenang. Hari ini pula hari terakhir dia untuk sekolah di SD Negeri Jenang 09, sebagai siswa kelas 4. Dan hari ini adalah hari terakhir dia bermain bersama teman-temannya. Namun, Rizky tak mengatakan kalau dia akan pergi.

Tadi malam ibunya memberitahu kalau mereka akan pindah ke Purworejo, karena ayahnya mendapatkan proyek baru di sana. Kemungkinan besar mereka tidak akan kembali lagi ke desa karena proyek ayahnya telah habis kontrak.

“ udah selesai Qy?” tanya ibu yang muncul dari belakang dan membuyarkan lamunan Rizky.

“ eh..udah ko bu, he..” jawab Rizky.

“ kenapa? Masih berat ya meninggalkan teman-teman?” ucap ibu.

“ yah...berat bu. Tapi mau gimana lagi? Qy harus pergi dan meninggalkan semua yang ada di sini. Sekolah, guru, teman kelas, dan teman di desa. Kapan ya Qy bisa kembali ke sini, bu?” tanya Qy penuh harap pada ibunya.

Ibu hanya bisa tersenyum dan merangkul Rizky yang kembali larut dalam lamunannya.

^^^

Sore itu, Rizky bersepeda sangat kencang menuju rumah Deka. 4 buah gantungan Conan yang berbeda sudah berada dalam genggaman tangannya. Sepulang sekolah tadi, dia menyempatkan diri ke toko mainan di Dekat alun-alun. Rizky berencana hanya membeli 2 buah gantungan Conan yang berbeda tapi ternyata di toko ada banyak sekali. Keinginannya untuk membeli 2 buah saja diurungkan menjadi 4 buah untuk teman Dekatnya, Deka, Ana, Diaz, dan Rey.

5 menit kemudian Rizky tiba di depan rumah Deka. Ia lalu menempatkan sepeda di samping rumah Deka.

“Deka.,,, Deka...!!! Keluar duonk!” seru Rizky di Dekat sepedanya.

Seorang wanita yang sudah dia kenal menampakkan diri dari balik pintu. Tante Win, begitu panggilan hangatnya, menyimpulkan sebuah senyuman pada anak laki-laki kecil yang kini berada di teras. Dia lalu keluar dari rumah dan menghampiri Rizky.

“ cari Deka ya, Qy?” sapa tante Win dengan ramah.

“ he...ia tante, Deka ada ga Tante?” jawab Rizky.

“ Deka lagi ngaji di TPA tu, nanti jam setengah 6 mungkin dia baru pulang. ada yang bisa Tante bantu?” ucap Tante Win.

“ humph,,, ga ko. Cuma mau kasih ini ke dia dan teman-teman.” Kata Rizky sambil menunjukkan bungkusan di dalam kantong merah. Raut wajah Rizky menunjukkan sedikit kekecewaan.

“ Qy nitip ini aja ya Tante, tolong disampaikan ke dia.” Lanjut Rizky yang langsung menyerahkan kantong itu ke Tante Win.

“ ga dikasih sendiri aja Qy?” tanya Tante Win.

“ ga ah tante, Qy harus cepet pulang. udah ditunggu ibu di rumah. Mari Tante. “ jawab Rizky dan langsung bergegas menuju sepedanya.

“ oh...ya sudah. Hati-hati Qy. “ seru Tante Win sembari melambaikan tangan.

Rizky langsung bersepeda menuju rumahnya. Rasa sedih menyelimuti hatinya saat ini. Kesempatan terakhir untuk bertemu dengan salah satu teman terDekatnya untuk mengucapkan salam perpisahan tak tersamppaikan.

Selamat tinggal teman-temanku. Kalian akan selalu menjadi kenangan yang indah bagiku dan membuatku rindu untuk kembali ke desa ini. Sampai jumpa di lain waktu.
^^^
“Deka, ini ada titipan dari Rizky. Tadi dia ke sini waktu kamu ngaji. “ kata ibu sambil menyerahkan kantong merah.

“apa isinya? Ko Qy ga kasih langsung aja ke Deka?” tanya Deka.

“ tadi dia bilang udah ditunggu ibunya di rumah, mungkin mau pergi keluar. Jadi dia langsung menitipkan ini pada ibu."

“ya udah, makasih bu.” Deka langsung membuka kantong itu.

Deka terkaget dengan isi yang ada dalam kantong merah. 4 buah gantungan Conan yang terbaru! Senyum manis dari Deka tak henti-hentinya ia simpulkan. Tapi dibalik itu semua, Deka tak tahu kalau itu adalah hadiah dari Rizky sebagai tanda perpisahan dan pertemuannya dengan dia tadi siang adalah yang terakhir kalinya.



0 comments:

Posting Komentar