by : Anistri Hunayya
Sore itu, amarahku tak tertahankan. Tugas menumpuk bak sebuah gunung. Berbagai undangan kegiatan datang tertuju untukku. Huaahhh! Hari yang sangat melelahkan. Ingin rasanya terbang ke negeri awan meninggalkan seabrek rutinitas, bermain bersama bidadari, kemudian merasakan indahnya surga. Yeah, aku malas disini. Dijurusan ini. Sempat terfikir olehku untuk meninggalkan bangku kuliah ku ni, tapi entah ku merasakan ada sesutu yang memintaku untuk bertahan hingga saat ini.
Jam 17.15 waktu yang ku tunggu. Pulang! Kakiku mulai menyelusuri gang-gang sempit yang menuju kostku. Pikiranku, seakan telah melayang, ingin sekali cepat merebahkan badan ini, kekasur tersayangku. Berbagai aktifitas hari ini telah menguras energiku. Konsetrasikupun berkurang.
Bruaaakkkk.....
Tak sengaja aku menabrak seseorang. Dia terjatuh.
”maaf..maaf”
Kalimat permintaan maafku seakan terlontar begitu saja dari mulutku. Tak ada jawaban.
Kupandangi lekat-lekat sosok itu. Rambutnya telah memutih, kulitnya tampak mengeriput. Kucoba memastikan keadaannya baik.
”maaf nek, nenek baik-baik saja kan? Maaf nek Mey tergesa-gesa tadi, tidak lihat nenek didepan Mey..”
Tak ada jawaban darinya, yang terlihat hanyalah anggukan lemah dan senyuman lembutnya.
”maaf nek, rumah nenek dimana biar saya antar..”
Sekali lagi tak ada kata-kata yang terlontar dari mulutnya. Hanya gelangan kepala yang dapat ku lihat. Beberapa saat kemudian, sosok itu berlalu pergi meninggalkanku. Tanpa ada kata yang terlontar dari mulutnya.
Sejenak ku melamun memikirkan sosok itu. Siapa beliau?? Begitu marahkan beliau hingga tak mau menjawab permintaan maafku? Berbagai pertanyaan seakan memenuhi kepalaku. Sebelum berbagai pertanyaan lain muncul, lamunku telah tersadarkan oleh kumandang Adzan. Kupercepat langkahku menuju kost.
Nek, Mey yakin suatu saat bertemu lagi....
Sudah seminggu setelah kejadian itu, rasa penasaranku tentang nenek itu belum sirna. Bahkan semakin hari rasa ingin tahuku tentang sosok itu semakin bertambah. Ya Allah, jika ini akan membawa kebaikan untukku, pertemukanlah aku dengan nenek itu.
Air mataku tak mampu ku bendung. Allah mengabulkan doaku. Kulihat nenek itu tepat berada kurang lebih 100 meter dari tempat dimanaku berdiri sekarang. Ya Allah, tak kusangka akan mendapatkan pemandangan seperti ini. Nenek itu tampak mengais-ais sampah, mencari sesuatu. Sungguh, bau tempat sampah itu begitu menyengat. Tapi apa yang membuatnya bertahan???
Kuhilangkan segala raguku. Kuhilangkan segala perasaan jijikku. Kudekati sosok yang telah kutabrak tempo hari itu.
”Nek...”
Nenek itu tampak menghentikan aktifitasnya sementara dan menoleh kearahku dengan senyum. Namun tak lama kemudian, Beliau kembali keaktifitasnya.
Sudah agak lama aku berdiri didekat tempat pembuangan sampah ini, apalagi kalau bukan untuk menunggunya.
Sejenak aku terkaget. Ada gadis kecil yang menarik-narik tanganku. Wajahnya begitu polos, senyuman manis tampak menghiasi wajahnya.
Ternyata Anak itu bernama Ais, tak lain adalah cucu dari sang nenek. Dari gadis itulah ku dapatkan berbagai informasi mengenai nenek itu. Dari cerita kematian kedua orangtua Ais yang notabene Dosen Kimia, Menjauhnya saudara-saudara mereka, menggunungnya tunggakan hutang, hingga sampai kehidupan saat ini. Neneknya itu menjadi tukang sampah demi keberlanjutan hidup mereka. Maka terjawablah semua, termasuk kenapa nenek itu selalu diam, karena memang beliau bisu.
Ya Allah, tak terasa air mataku mengalir. Dadaku serasa sesak. Tak kusangka nenek dan Ais akan menjalani hidup yang seperti itu. Ais tampak begitu tegar, bahkan senyum manisnya tak pernah lelah menghiasi wajahnya.
”kak..kak..”
Tiba-tiba gadis kecil itu menggoyang-goyangkan tubuhku. Tampak di wajahnya ingin mengungkapkan sesuatu.
”kak.. Ais pengen kuliah di jurusan Kimia, gantiin Ayah Bunda kelak”
Ya Allah.. begitu tidak bersyukurnya aku. Selama ini selalu saja aku tak bersyukur masuk ke jurusan ini. Ternyata, dilain tempat, ada seseorang yang sangat ingin berkecimpung didunia yang dahulunya ku anggap tidak mengenakkan ini. Ternyata, diluar sana ada orang kurang beruntung yang menginginkan posisi ini.
”iya Ais.. semoga besok jadi kenyataan, semoga kakak juga bisa lebih baik....”
Ku peluk erat gadis kecil yang secara tidak langsung menyadarkanku. Dalam hati, kuberjanji untuk memperbaiki diri.
Aku sadar bahwa Allah telah menciptakan berbagai skenario indahnya,termasuk perjumpaanku dengan nenek dan Ais. Ya Allah maafkan aku, kan ku lakukan yang terbaik demi menebus kekufuranku.
SkenarioMu selalu indah....... Indah dan selamanya akan indah......
***








0 comments:
Posting Komentar